Konten dari Pengguna

Ketika Kesenian Jatilan Bertemu dengan Zaman Modern

ikadianjagad08

ikadianjagad08

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPNVYK

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ikadianjagad08 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah penari jatilan bersiap di arena pertunjukan dengan properti kuda lumping bercorak warna-warni, disaksikan oleh kerumunan penonton yang memadati pagar pembatas di bawah deretan payung dan tenda.(Foto: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penari jatilan bersiap di arena pertunjukan dengan properti kuda lumping bercorak warna-warni, disaksikan oleh kerumunan penonton yang memadati pagar pembatas di bawah deretan payung dan tenda.(Foto: Dokumentasi Pribadi)

SLEMAN – Di tengah ramainya musik modern dan budaya luar yang semakin mudah ditemukan melalui media sosial, suara gamelan dan hentakan kaki para penari jathilan masih terdengar di tengah masyarakat. Para penari bergerak mengikuti irama musik sambil membawa kuda lumping sebagai bagian dari pertunjukan. Di sisi lain, masyarakat dari berbagai usia berkumpul untuk menyaksikan kesenian tersebut. Jathilan sendiri merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa yang masih dapat ditemui dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Pertunjukan jathilan bukan hanya tentang penari yang berada di tengah arena. Kerumunan penonton juga menjadi bagian menarik dari suasana pertunjukan. Anak-anak terlihat berdiri di antara orang dewasa, sementara beberapa orang tua memilih duduk dan menikmati pertunjukan dari sisi arena. Ada pula penonton yang mengabadikan pertunjukan menggunakan telepon genggam. Sebagian merekam video, mengambil foto, bahkan melakukan siaran langsung melalui media sosial.

Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih mendapat perhatian di tengah perkembangan teknologi. Masyarakat tidak hanya menikmati jathilan secara langsung, tetapi juga memanfaatkan media digital untuk mengabadikan dan membagikan pertunjukan. Dari sebuah pertunjukan yang berlangsung di satu tempat, dokumentasi tersebut dapat dilihat kembali oleh orang lain melalui media sosial.

Kesenian Jathilan di Tengah Perkembangan Teknologi

Hal ini menjadi salah satu peluang bagi kesenian tradisional untuk lebih dikenal, terutama oleh generasi muda. Anak-anak dan remaja yang mungkin sebelumnya tidak banyak mengetahui jathilan dapat mengenalnya melalui video atau foto yang beredar di media sosial. Teknologi yang sering dianggap membawa budaya baru ternyata juga dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya yang sudah ada sejak lama melalui perkembangan media sosial.

Namun, melestarikan jathilan tidak cukup hanya dengan mengunggah foto atau video pertunjukannya. Ada nilai budaya dan identitas masyarakat yang ikut melekat di dalam kesenian tersebut. Karena itu, keberadaan pelaku seni, penonton, dan masyarakat yang masih mau memberikan ruang bagi pertunjukan tradisional juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungannya.

Melihat antusiasme masyarakat dalam menyaksikan pertunjukan jathilan, pelestarian budaya sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Datang dan menonton pertunjukan, mengenalkan kesenian kepada anak-anak, mendukung para pelaku seni, serta mendokumentasikan pertunjukan dengan tetap menghargai hak dan privasi orang lain merupakan beberapa bentuk dukungan yang dapat dilakukan.

Jathilan pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan yang muncul ketika ada acara atau perayaan. Di balik gerakan tari, irama musik, dan kuda lumping yang digunakan para penari, terdapat kesenian yang terus diperkenalkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama masih ada yang mau menari, menonton, mengenalkan, dan memberikan ruang bagi kesenian tersebut, jathilan masih memiliki kesempatan untuk terus hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.