Ketika Hidup Terasa Makin Cepat: Mengapa Anak Muda Sekarang Mudah Merasa Lelah?

saya adalah seorang mahasiswa universitas Pamulang yang senang dalam membuat artikel dan jurnal
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari iqbal Jabar mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JAKARTA — Bangun pagi, membuka ponsel, mengecek pesan, bekerja atau kuliah, mengejar tugas, menghadapi kemacetan, lalu kembali berhadapan dengan layar hingga malam. Rutinitas seperti ini mungkin terasa biasa bagi banyak anak muda saat ini. Namun, di balik aktivitas yang terlihat normal, ada satu hal yang semakin sering dirasakan: lelah, bahkan ketika sebenarnya tidak banyak bergerak secara fisik.
Fenomena tersebut bukan sekadar soal kurang tidur. Banyak anak muda merasa pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti. Notifikasi terus berdatangan, pekerjaan belum selesai, tugas menunggu, sementara media sosial membuat seseorang tanpa sadar membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, waktu untuk benar-benar beristirahat justru semakin sulit ditemukan.
Bukan Hanya Tubuh, Pikiran Juga Bisa Lelah
Rasa lelah sering kali dianggap sederhana. Jika tubuh terasa capek, seseorang cukup tidur atau beristirahat. Namun, kelelahan yang dialami anak muda tidak selalu sesederhana itu.
Ada yang merasa lelah karena tekanan pekerjaan. Ada yang pusing memikirkan kuliah dan masa depan. Ada pula yang merasa tertinggal setelah melihat teman-temannya di media sosial sudah memiliki pekerjaan, kendaraan, usaha, bahkan rumah sendiri.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Persoalannya, manusia sering membandingkan kehidupan nyata miliknya dengan “versi terbaik” kehidupan orang lain yang muncul di layar ponsel.
Akibatnya, muncul perasaan seperti, “Kok hidup saya begini-begini saja?”
Media Sosial: Hiburan Sekaligus Sumber Tekanan
Media sosial sebenarnya memberikan banyak manfaat. Orang bisa mendapatkan informasi, berkomunikasi, mencari hiburan, hingga membangun bisnis hanya melalui ponsel.
Namun, penggunaan yang berlebihan juga dapat membuat seseorang sulit melepaskan diri dari tekanan.
Setiap hari muncul berbagai pencapaian orang lain. Ada yang sedang liburan, mendapatkan pekerjaan baru, lulus kuliah, menikah, membeli kendaraan, atau membuka bisnis.
Tanpa disadari, seseorang bisa merasa kehidupannya tertinggal.
Padahal setiap orang memiliki waktu dan perjalanan yang berbeda.
Masalahnya bukan selalu pada media sosial, tetapi pada bagaimana seseorang menggunakannya. Ketika media sosial mulai membuat seseorang merasa tidak cukup baik dengan kehidupannya sendiri, mungkin sudah waktunya untuk berhenti sejenak.
Istirahat Bukan Berarti Malas
Di tengah budaya yang sering mengagungkan kesibukan, istirahat terkadang dianggap sebagai kemunduran.
Padahal, manusia bukan mesin.
Tidak setiap hari harus produktif. Tidak setiap waktu harus menghasilkan sesuatu. Ada kalanya seseorang hanya perlu tidur cukup, berjalan-jalan, berkumpul dengan keluarga, menikmati makanan favorit, atau sekadar duduk tanpa melakukan apa pun.
Istirahat bukan berarti menyerah.
Justru dengan memberikan waktu kepada tubuh dan pikiran untuk pulih, seseorang dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik.
Anak Muda Tidak Harus Selalu Terlihat Baik-Baik Saja
Salah satu tekanan terbesar generasi muda saat ini adalah tuntutan untuk terlihat baik-baik saja.
Di media sosial, kehidupan seseorang terlihat sempurna. Foto tersenyum, pencapaian baru, perjalanan menarik, dan berbagai kabar baik memenuhi beranda.
Namun, kehidupan nyata tentu tidak selalu seperti itu.
Ada hari ketika seseorang kehilangan motivasi. Ada hari ketika pekerjaan terasa berat. Ada masa ketika masa depan terasa membingungkan.
Dan itu manusiawi.
Tidak semua masalah harus diumumkan kepada publik. Tetapi seseorang juga tidak harus memendam semuanya sendirian.
Berbicara dengan teman, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat menjadi langkah sederhana ketika beban terasa semakin berat.
Mungkin Kita Hanya Perlu Berhenti Sebentar
Kehidupan akan terus berjalan. Pekerjaan akan datang, tugas akan menunggu, dan masalah baru mungkin selalu muncul.
Karena itu, yang perlu dipelajari bukan bagaimana menghindari semua masalah, melainkan bagaimana memberikan ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.
Sesekali letakkan ponsel. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Nikmati waktu bersama orang-orang terdekat. Tidur lebih cukup. Dan jangan merasa bersalah hanya karena mengambil waktu untuk diri sendiri.
Sebab hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Tidak apa-apa berjalan pelan. Yang penting, kita tetap berjalan dengan arah yang kita pilih sendiri.
