Salah Bicara Bisa Bikin Bisnis Hancur, Ini Pentingnya Etika Komunikasi Bisnis

saya adalah seorang mahasiswa universitas Pamulang yang senang dalam membuat artikel dan jurnal
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari iqbal Jabar mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bogor — Dalam dunia bisnis, satu kalimat bisa menjadi awal datangnya pelanggan, tetapi satu kalimat yang salah juga bisa membuat pelanggan pergi. Di tengah komunikasi yang semakin cepat melalui media sosial, WhatsApp, email, dan berbagai platform digital, cara seseorang menyampaikan pesan menjadi semakin penting.
Tidak sedikit persoalan bisnis yang sebenarnya bukan disebabkan oleh buruknya produk, melainkan karena komunikasi yang kurang tepat. Balasan admin yang dianggap ketus, promosi yang terlalu berlebihan, hingga perusahaan yang lambat merespons keluhan pelanggan dapat membuat kepercayaan konsumen menurun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi tidak hanya dibutuhkan untuk menjual produk. Komunikasi juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antara perusahaan dengan pelanggan, karyawan, maupun mitra bisnis.
Pelanggan Tidak Hanya Membeli Produk
Ketika seseorang membeli sebuah produk, sebenarnya ia tidak hanya mempertimbangkan barang yang diperoleh. Cara penjual melayani pelanggan juga dapat memengaruhi keputusan mereka untuk kembali bertransaksi.
Bayangkan seorang pelanggan menghubungi sebuah toko untuk menanyakan harga. Jika pertanyaan sederhana tersebut dibalas dengan bahasa yang kasar atau tidak jelas, pelanggan tentu bisa merasa tidak dihargai. Bahkan jika produknya bagus, pengalaman komunikasi yang buruk dapat membuat pelanggan memilih toko lain.
Sebaliknya, komunikasi yang ramah dan jelas dapat membuat pelanggan merasa nyaman. Hal sederhana seperti mengucapkan terima kasih, menjelaskan informasi dengan sabar, dan meminta maaf ketika terjadi kesalahan dapat memberikan kesan positif.
Jangan Asal Bicara di Media Sosial
Media sosial membuat komunikasi bisnis menjadi semakin terbuka. Apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh satu pelanggan kini dapat dilihat oleh ribuan bahkan jutaan orang.
Karena itu, perusahaan perlu berhati-hati ketika memberikan respons di ruang publik. Membalas komentar pelanggan dengan emosi, menyindir konsumen, atau memberikan informasi yang belum terbukti kebenarannya dapat menjadi masalah baru.
Satu unggahan yang dianggap tidak profesional dapat dengan cepat menyebar. Ketika sudah menjadi perbincangan publik, perusahaan tentu membutuhkan usaha lebih besar untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Kejujuran Jadi Hal yang Tidak Boleh Hilang
Dalam mengejar penjualan, perusahaan terkadang tergoda menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatian konsumen. Promosi memang penting, tetapi informasi yang diberikan tetap harus sesuai dengan kenyataan.
Misalnya, sebuah toko menawarkan diskon besar tetapi ternyata terdapat syarat tersembunyi yang tidak dijelaskan sejak awal. Konsumen yang merasa tertipu tentu akan kecewa.
Promosi yang menarik seharusnya tidak membuat perusahaan mengorbankan kejujuran. Sebab, mendapatkan satu transaksi mungkin mudah, tetapi mempertahankan pelanggan membutuhkan kepercayaan yang dibangun dalam waktu panjang.
Komunikasi yang Baik Juga Berlaku di Dalam Perusahaan
Etika komunikasi tidak hanya berlaku antara penjual dan pembeli. Hubungan antara pimpinan dan karyawan juga membutuhkan komunikasi yang baik.
Instruksi pekerjaan yang tidak jelas dapat membuat karyawan melakukan kesalahan. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dapat membantu karyawan memahami tugas dan tanggung jawabnya.
Begitu juga ketika terjadi masalah. Menyalahkan seseorang di depan banyak orang mungkin tidak menyelesaikan persoalan. Akan lebih baik jika masalah dibicarakan secara profesional dan dicari solusinya bersama.
Lingkungan kerja yang memiliki komunikasi sehat juga dapat membuat hubungan antarpegawai menjadi lebih baik. Orang akan lebih berani menyampaikan pendapat, memberikan masukan, dan membicarakan masalah sebelum menjadi lebih besar.
Etika Bukan Berarti Harus Kaku
Banyak orang menganggap komunikasi bisnis harus selalu menggunakan bahasa yang sangat formal. Padahal, komunikasi yang baik tidak selalu berarti harus kaku.
Bahasa dapat disesuaikan dengan siapa yang diajak berbicara. Perusahaan yang berkomunikasi dengan anak muda, misalnya, dapat menggunakan bahasa yang lebih santai selama tetap sopan dan tidak berlebihan.
Yang terpenting adalah pesan dapat dipahami, tidak menyinggung pihak lain, dan tetap menunjukkan profesionalisme.
Jangan Lupa Mendengarkan
Komunikasi sering kali hanya dipahami sebagai kegiatan berbicara. Padahal, mendengarkan juga menjadi bagian penting dalam komunikasi bisnis.
Ketika pelanggan menyampaikan keluhan, perusahaan tidak seharusnya langsung menganggap pelanggan sebagai pihak yang salah. Keluhan tersebut dapat menjadi informasi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu pula dengan karyawan. Kritik dari karyawan tidak selalu berarti mereka menentang perusahaan. Bisa jadi kritik tersebut justru menunjukkan adanya persoalan yang perlu diperbaiki.
Reputasi Dibangun dari Hal-Hal Kecil
Pada akhirnya, reputasi sebuah bisnis tidak hanya dibangun melalui iklan besar atau kampanye yang menarik. Reputasi juga terbentuk dari percakapan sehari-hari.
Bagaimana admin menjawab pelanggan, bagaimana seorang pemimpin berbicara kepada karyawan, bagaimana perusahaan menangani kritik, hingga bagaimana informasi disampaikan kepada publik semuanya dapat memengaruhi pandangan masyarakat terhadap sebuah bisnis.
Di era digital seperti sekarang, komunikasi yang buruk dapat menyebar dengan cepat. Namun, komunikasi yang baik juga dapat menjadi kekuatan bagi perusahaan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan.
Karena itu, sebelum mengirim pesan, membalas komentar, atau memberikan pernyataan kepada publik, ada baiknya perusahaan berpikir sejenak: apakah informasi tersebut benar, apakah cara penyampaiannya sudah tepat, dan apakah orang lain akan merasa dihargai?
Sebab dalam dunia bisnis, produk yang bagus mungkin membuat pelanggan datang, tetapi komunikasi yang baiklah yang membuat mereka mau kembali.
