Konten dari Pengguna

Takut Ketinggalan atau Takut Dianggap Ketinggalan? Fenomena FOMO yang Menghantui

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari iqbal Jabar mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar:shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar:shutterstock

Pernah merasa harus ikut tren terbaru karena takut dianggap ketinggalan zaman? Atau tiba-tiba ingin membeli sesuatu hanya karena hampir semua orang di media sosial memilikinya? Kalau pernah, mungkin kita sedang mengalami satu fenomena yang semakin sering muncul di kehidupan sehari-hari: FOMO atau Fear of Missing Out.

Media sosial membuat kehidupan orang lain terasa begitu dekat. Hanya dalam hitungan detik, kita bisa melihat teman sedang nongkrong di tempat populer, membeli barang terbaru, pergi liburan, mendapatkan pekerjaan, hingga merayakan pencapaian tertentu. Tanpa sadar, kehidupan orang lain kemudian menjadi pembanding bagi kehidupan kita sendiri.

Masalahnya, media sosial biasanya hanya memperlihatkan bagian yang ingin ditampilkan. Kita melihat seseorang sedang tersenyum di tempat liburan, tetapi tidak tahu bagaimana perjuangannya untuk sampai ke sana. Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan baru, tetapi tidak melihat berapa banyak lamaran yang sebelumnya ditolak.

Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Standar

FOMO bukan hanya tentang mengikuti tren. Fenomena ini juga dapat muncul ketika seseorang merasa hidupnya tidak cukup menarik dibandingkan orang lain.

Usia 20-an misalnya, sering dianggap sebagai masa untuk mengejar banyak hal. Harus kuliah, punya pekerjaan, memiliki penghasilan, membangun relasi, membeli kendaraan, bahkan mulai memikirkan masa depan. Ketika melihat teman sebaya sudah mencapai sesuatu lebih dulu, muncul pertanyaan, “Kenapa saya belum sampai di sana?”

Pertanyaan sederhana tersebut bisa berubah menjadi tekanan.

Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, kemampuan, dan waktu yang berbeda. Namun algoritma media sosial membuat kita seolah-olah hidup dalam perlombaan yang tidak pernah selesai.

Tren Berubah, Tekanan Bertambah

Hari ini seseorang bisa merasa harus mengikuti tren pakaian. Besok muncul tren tempat nongkrong baru. Minggu berikutnya muncul tren gadget, makanan, olahraga, atau gaya hidup tertentu.

Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren selama dilakukan karena memang menyukainya. Persoalan muncul ketika seseorang merasa harus mengikuti tren agar diterima oleh lingkungan.

Akhirnya, membeli sesuatu bukan lagi karena kebutuhan, tetapi karena takut dianggap tidak mengikuti zaman.

Dalam kondisi tertentu, FOMO juga dapat mendorong seseorang mengeluarkan uang di luar kemampuan. Gaya hidup yang terlihat sederhana di media sosial ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit jika terus diikuti.

Media Sosial: Hiburan atau Tekanan?

Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Platform digital membantu manusia berkomunikasi, mendapatkan informasi, membangun bisnis, mencari pekerjaan, bahkan menemukan komunitas yang sesuai dengan minat.

Namun, cara kita menggunakannya menjadi hal yang penting.

Terlalu sering melihat pencapaian orang lain dapat membuat seseorang lupa bahwa media sosial bukan gambaran kehidupan secara keseluruhan. Apa yang muncul di layar hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Karena itu, penting untuk membedakan antara terinspirasi dan membandingkan diri.

Terinspirasi membuat kita ingin berkembang. Sebaliknya, membandingkan diri secara terus-menerus dapat membuat kita merasa tidak pernah cukup.

Tidak Semua Orang Harus Berlari dengan Kecepatan yang Sama

Salah satu hal yang sering terlupakan di tengah budaya media sosial adalah bahwa hidup bukan perlombaan dengan satu garis finish.

Ada orang yang mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang memulai bisnis sejak muda. Ada pula yang baru menemukan jalan hidupnya setelah melewati berbagai kegagalan.

Semuanya memiliki waktunya masing-masing.

Yang menjadi persoalan bukan apakah kita tertinggal dari orang lain, tetapi apakah kita masih bergerak menuju kehidupan yang memang kita inginkan.

Pada akhirnya, tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua undangan harus diterima. Tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi ukuran keberhasilan diri sendiri.

Mungkin sesekali kita memang perlu berhenti melihat kehidupan orang lain dan mulai bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, apa yang saya inginkan?”

Karena di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk mengikuti banyak hal, kemampuan untuk mengatakan “tidak harus ikut” justru bisa menjadi bentuk kebebasan.

FOMO mungkin tidak akan hilang sepenuhnya. Namun, kita bisa belajar untuk tidak membiarkannya menentukan arah hidup.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Yang lebih penting adalah apakah kita sedang berjalan di jalan yang benar-benar kita pilih sendiri.