Konten dari Pengguna

Gaya Hidup Konsumtif Gen Z di Tengah Arus Pembayaran Digital

Ike Nurmala Sari

Ike Nurmala Sari

Saya Mahasiswa Aktif ITB Ahmad Dahlan Jakarta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajamen

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ike Nurmala Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: Pexels (https://www.pexels.com/id-id/foto/smartphone-ponsel-pintar-laptop-macbook-6214480/)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Pexels (https://www.pexels.com/id-id/foto/smartphone-ponsel-pintar-laptop-macbook-6214480/)

“Bisa QRIS aja, Kak?” Kalimat ini sudah menjadi hal biasa didengar di banyak kafe, toko, hingga warung makan di era pembayaran digital seperti QRIS. Bagi generasi Z, membawa dompet tebal sudah tak lagi relevan—cukup ponsel dan koneksi internet, semua urusan beres.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, kebiasaan membayar tunai perlahan mulai tergantikan oleh sistem pembayaran digital. Gen Z, yang lahir dan tumbuh di era internet, menjadi salah satu generasi paling adaptif terhadap perubahan ini. Mereka bukan hanya menggunakan teknologi, tapi hidup bersamanya.

Tren masyarakat tanpa uang tunai atau cashless society kini menjadi bagian dari keseharian, terutama di kalangan anak muda. Menurut data dari Bank Indonesia, transaksi uang elektronik di Indonesia menembus angka Rp500 triliun pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, mayoritas pelakunya adalah generasi muda berusia 18–25 tahun.

Faktor kenyamanan, kecepatan, dan kemudahan membuat sistem pembayaran digital seperti QRIS, e-wallet, dan mobile banking menjadi pilihan utama. Di kampus, tempat makan, hingga toko kelontong, pembayaran digital sudah menjadi standar baru.

“Lebih cepat dan nggak ribet. Saya juga bisa pantau pengeluaran langsung dari aplikasi,” ujar Nadira (20), seorang mahasiswi di Jakarta.

Aplikasi seperti GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay menjadi teman sehari-hari dalam bertransaksi. Bahkan, belanja kebutuhan pokok pun kini bisa dilakukan lewat satu klik. Semua serba instan, semua serba digital.

Namun, di balik segala kemudahan, perubahan ini juga membawa dampak terhadap gaya hidup. Gen Z dikenal sebagai generasi yang praktis, cepat beradaptasi, dan menyukai efisiensi. Tapi bersamaan dengan itu, muncul kecenderungan baru: konsumsi impulsif.

Promo cashback, diskon harian, hingga fitur paylater (beli sekarang, bayar belakangan) memanjakan pengguna muda. Tak jarang, mereka melakukan pembelian tanpa pertimbangan panjang, hanya karena tergoda promo yang muncul di layar.

Riset dari InsightAsia menunjukkan bahwa lebih dari 60% pengguna dompet digital usia 18–25 tahun mengaku pernah mengalami kesulitan mengatur pengeluaran akibat transaksi digital yang terlalu sering dan tidak tercatat secara manual. Baca juga: Survei OJK 2022 tentang literasi keuangan.

“Karena nggak pegang uang fisik, kadang lupa sudah habis berapa. Tiba-tiba saldo kosong,” ujar Dimas (23), mahasiswa semester akhir.

Tak bisa dimungkiri, gaya hidup cashless membuka banyak peluang. Transaksi jadi lebih efisien, potensi inklusi keuangan meningkat, dan sektor informal ikut terdigitalisasi. Bagi pelaku UMKM, kemudahan menerima pembayaran lewat QRIS bahkan mampu menaikkan omzet.

Namun, tantangannya juga besar. Literasi keuangan di kalangan muda masih tergolong rendah. Banyak yang belum memiliki perencanaan keuangan, apalagi tabungan darurat. Di sisi lain, keamanan data dan kebiasaan digital yang kurang bijak juga bisa menjadi bumerang.

Di sinilah pentingnya pendidikan keuangan sejak dini. Baik dari institusi pendidikan, media, maupun lingkungan keluarga. Penggunaan digital boleh maju, tapi pemahaman soal tanggung jawab finansial harus ikut berkembang.

Gaya hidup cashless sudah menjadi bagian dari identitas Gen Z. Mereka tak lagi menenteng dompet penuh uang, tapi cukup dengan satu sentuhan di layar ponsel. Namun di balik satu kali “scan QR”, ada keputusan keuangan yang perlu disadari.

Kemudahan memang menyenangkan, tapi kesadaran untuk bijak dalam menggunakan teknologi jauh lebih penting. Karena pada akhirnya, teknologi adalah alat—bukan arah. Dan arah itu tetap ditentukan oleh pilihan kita sendiri.