Konten dari Pengguna

Manfaat Mendongeng dalam Pengembangan Kemampuan Kognisi Sosial Anak

Ike Anggraika Kuntoro

Ike Anggraika Kuntoro

Staf Pengajar Fakutas Psikologi Universitas Indonesia Anggota Laboratorium Executive Function Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ike Anggraika Kuntoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Dongeng Anak. Foto: delcarmat/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dongeng Anak. Foto: delcarmat/shutterstock

Kegiatan membaca dongeng (story telling) merupakan salah satu dari beberapa kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orang tua kepada anak; khususnya saat anak belum dapat membaca sendiri atau pada anak usia balita.

Para psikolog sudah sepakat bahwa kegiatan membaca dongeng dapat merangsang perkembangan kognitif anak. Sebagai contoh, membaca buku atau mendongeng bersama anak balita dapat meningkatkan kosakata, bahasa, dan imajinasi.

Dampak positif mendongeng bagi perkembangan kognisi anak juga sudah diketahui oleh orang tua. Mendongeng memberikan kesempatan kepada orang tua untuk membangun kelekatan emosional dengan putra-putrinya.

Oleh karena itu, banyak orang tua yang menyempatkan waktu untuk mendongeng atau membacakan dongeng kepada anak-anaknya yang masih balita.

Ilustrasi membacakan dongeng kepada anak. Foto: Shutter Stock

Di sisi lain, manfaat mendongeng untuk kognisi sosial belum banyak diketahui oleh orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mendongeng memfasilitasi kemampuan kognisi sosial anak.

Apa itu kognisi sosial, apa peran kognisi sosial dalam perkembangan anak, dan bagaimana cara orang tua mendongeng untuk mengembangkan kognisi sosial anak akan dibahas berikut ini.

Kemampuan kognisi sosial merupakan kemampuan anak untuk memahami dan memproses sinyal sosial sehingga anak dapat merespons dan bertingkah laku secara tepat dalam situasi sosial.

Salah satu contoh kemampuan kognisi sosial adalah kemampuan anak untuk memahami bahwa orang lain memiliki keinginan, kepercayaan, pengetahuan, dan emosi yang berbeda dengan dirinya.

Ilustrasi ibu membacakan dongeng untuk anak. Foto: Shutter Stock

Sebagai contoh, dalam sebuah situasi di mana anak menyatakan preferensi makanan, seperti "Saya suka mi goreng; tapi adik tidak suka mi goreng. Adik suka ayam goreng, dan mama suka bakso" Selanjutnya, anak dapat memahami bahwa perilaku orang lain berkaitan dengan keinginan mereka (misalnya: "adik memilih makan ayam goreng karena dia suka ayam goreng").

Dengan mengaitkan keinginan dengan perilaku, anak mulai mampu membuat prediksi tentang tindakan orang lain berdasarkan keinginan mereka (misalnya: "jika kita pergi ke restoran, adik pasti akan memesan ayam goreng, dan mama pasti akan memesan bakso").

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki kemampuan kognisi sosial yang baik mampu mengatur ekspresi dan reaksi emosi dengan baik (Fink dkk, 2015), memiliki tingkat empati yang tinggi (Tordjman dkk, 2019), sehingga disukai oleh teman sebaya (Slaughter dkk, 2002), dan jarang terlibat sebagai pelaku atau korban perundungan (bullying) (Shakoor dkk, 2012).

Kemampuan kognisi sosial yang baik akan mempermudah anak untuk menjalin pertemanan dengan anak lain dan menjadi lebih populer di kalangan teman sebaya.

Cara Mengembangkan Kemampuan Kognisi Sosial Anak Lewat Baca Dongeng?

Ilustrasi ibu membacakan dongeng untuk anak. Foto: Shutter Stock

Untuk mengembangkan kemampuan kognisi sosial pada anak, tidak memerlukan biaya yang besar. Orang tua hanya perlu menyisihkan sedikit waktu untuk secara sengaja merangsang kognisi sosial anak melalui kegiatan membacakan dongeng.

Saat membacakan dongeng, penting untuk menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan emosi dan keadaan mental (emotion-mental state terms/EMST). EMST termasuk dalam kosakata abstrak, sehingga penggunaannya saat mendongeng akan memfasilitasi perkembangan kognisi sosial anak.

Secara khusus, Drummond dkk (2014) membagi EMST ke dalam lima kategori/jenis. Pertama, kategori persepsi dan kondisi fisiologis, termasuk kata-kata seperti "lihat", "dengar", "lapar", "sakit", "capek", "haus", dan sebagainya. Misalnya, "Coba lihat, ini gajah, dia sedang sakit".

Kedua, kategori keinginan dan kemampuan, seperti "mau", "ingin", "suka", "bisa", dan sebagainya. Misalnya, "Gajah ini sedang sakit dan ingin dipeluk oleh ibunya".

Ilustrasi bayi mendengarkan dongeng sebelum tidur. Foto: Shutter Stock

Ketiga, kategori emosi, termasuk kata-kata seperti "sedih", "gembira", "marah", "bosan", "cemas", dan sebagainya. Misalnya, "Lihat si anak gajah sedang sakit; dia sedih karena tidak boleh bermain".

Keempat, kategori kognisi, seperti "pikir", "tahu", "percaya", "bayangkan", "lupa", "ingat", "paham", dan sebagainya. Misalnya, "Ibu gajah mengira anaknya sudah makan".

Kelima, kategori moral dan sosial, termasuk kata-kata yang berkaitan dengan penilaian moral dan hubungan antar manusia, seperti "baik", "jahat", "penurut", "penolong". Misalnya, "Anak gajah ini suka menolong teman-temannya".

Saat mendongeng untuk anak, kita bisa mulai menggunakan kategori EMST yang sudah disebutkan di atas agar kemampuan kognisi sosial berkembang sejalan dengan kemampuan kognisi umum.

Selamat mendongeng dengan menggunakan EMST.