Quiet Quitting dan Kesehatan Mental Generasi Muda di Dunia Kerja

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari ikhsan abdullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan di media sosial, terutama di kalangan Generasi Z dan pekerja muda. Istilah ini pertama kali populer melalui platform TikTok dan kemudian berkembang menjadi diskusi global mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Banyak orang menganggap quiet quitting sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya komitmen terhadap pekerjaan. Namun, sebagian lainnya melihat fenomena ini sebagai respons terhadap tekanan kerja yang berlebihan dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Fenomena quiet quitting muncul di tengah perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja. Jika generasi sebelumnya sering mengaitkan kesuksesan dengan kerja keras tanpa batas dan loyalitas tinggi terhadap perusahaan, generasi saat ini mulai mempertanyakan apakah pekerjaan harus menjadi pusat seluruh kehidupan. Mereka mulai menyadari bahwa produktivitas yang berlebihan tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan psikologis. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk menetapkan batasan yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Dalam konteks ini, quiet quitting menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji dari perspektif psikologi kerja. Apakah perilaku tersebut merupakan bentuk ketidakpedulian terhadap pekerjaan, atau justru strategi adaptif untuk menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan kerja yang semakin kompleks?
Memahami Konsep Quiet Quitting
Meskipun istilahnya mengandung kata quitting (berhenti), quiet quitting sebenarnya tidak berarti seseorang mengundurkan diri dari pekerjaannya. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika karyawan hanya menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai deskripsi pekerjaannya tanpa melakukan usaha tambahan yang melebihi tuntutan formal pekerjaan.
Individu yang melakukan quiet quitting tetap hadir bekerja, menyelesaikan tugas, memenuhi target yang ditetapkan, dan menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Namun, mereka tidak lagi bersedia mengorbankan waktu pribadi untuk pekerjaan, mengambil beban kerja tambahan secara terus-menerus, atau terlibat dalam budaya kerja yang menuntut ketersediaan tanpa batas.
Fenomena ini berkembang sebagai reaksi terhadap budaya hustle culture, yaitu pandangan yang mengagungkan kerja berlebihan sebagai simbol kesuksesan. Dalam budaya tersebut, seseorang sering dianggap lebih bernilai apabila bekerja lebih lama, selalu tersedia di luar jam kerja, dan terus mengejar produktivitas tanpa memperhatikan kebutuhan psikologisnya.
Bagi sebagian generasi muda, quiet quitting bukan tentang bekerja seminimal mungkin, melainkan tentang bekerja secara sehat dan sesuai batas kemampuan yang dimiliki.
Mengapa Quiet Quitting Banyak Terjadi pada Generasi Muda?
Fenomena quiet quitting tidak muncul secara tiba-tiba. Berbagai perubahan sosial, ekonomi, dan psikologis turut berkontribusi terhadap munculnya tren ini.
Salah satu faktor yang paling sering dibahas adalah meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental. Generasi muda saat ini lebih terbuka dalam membicarakan isu stres, burnout, kecemasan, dan kesejahteraan psikologis dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka juga lebih menyadari pentingnya menjaga keseimbangan hidup serta menetapkan batasan yang sehat dalam pekerjaan.
Selain itu, pengalaman selama pandemi COVID-19 turut mengubah cara pandang banyak pekerja terhadap pekerjaan. Pandemi membuat banyak individu menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan karier, tetapi juga hubungan sosial, kesehatan fisik, dan kesejahteraan psikologis. Setelah mengalami perubahan besar tersebut, sebagian pekerja menjadi lebih selektif dalam menentukan prioritas hidupnya.
Faktor lain yang berperan adalah meningkatnya tekanan kerja di era digital. Teknologi memungkinkan karyawan tetap terhubung dengan pekerjaan kapan pun dan di mana pun. Pesan pekerjaan yang masuk di luar jam kerja, rapat daring yang terus berlanjut, serta ekspektasi untuk selalu responsif sering kali membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur.
Penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stres kerja dan kelelahan emosional apabila tidak diimbangi dengan batasan yang jelas. Oleh karena itu, sebagian pekerja muda mulai memilih untuk menetapkan batasan yang lebih tegas terhadap tuntutan pekerjaan.
Hubungan Quiet Quitting dengan Burnout
Salah satu konsep psikologi yang sering dikaitkan dengan quiet quitting adalah burnout. Menurut World Health Organization, burnout merupakan sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Burnout ditandai oleh kelelahan emosional, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional.
Banyak kasus quiet quitting muncul setelah individu mengalami kelelahan psikologis yang berkepanjangan. Pada awalnya, seseorang mungkin memiliki motivasi tinggi dan bersedia memberikan usaha ekstra. Namun, ketika usaha tersebut tidak diimbangi dengan penghargaan yang memadai, dukungan organisasi, atau keseimbangan hidup yang sehat, motivasi kerja dapat mengalami penurunan.
Dalam kondisi ini, quiet quitting dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan diri (self-protection). Individu berusaha mengurangi keterlibatan emosional yang berlebihan terhadap pekerjaan agar tidak mengalami kelelahan yang lebih parah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa burnout memiliki hubungan negatif dengan kesejahteraan psikologis, kepuasan kerja, serta keterlibatan kerja (work engagement). Semakin tinggi tingkat burnout yang dialami karyawan, semakin besar kemungkinan munculnya penurunan motivasi dan keterikatan terhadap pekerjaan.
Dengan demikian, quiet quitting sering kali bukan penyebab utama menurunnya produktivitas, melainkan gejala dari masalah yang lebih mendasar dalam lingkungan kerja.
Apakah Quiet Quitting Selalu Berdampak Negatif?
Perdebatan mengenai quiet quitting sering kali menghasilkan dua pandangan yang berbeda.
Dari sudut pandang organisasi, quiet quitting dapat dianggap sebagai tantangan karena berpotensi mengurangi keterlibatan karyawan terhadap pekerjaan. Perusahaan biasanya mengharapkan karyawan untuk menunjukkan inisiatif, kreativitas, dan komitmen yang tinggi. Ketika individu hanya bekerja sesuai tugas minimal yang ditetapkan, organisasi mungkin melihat adanya penurunan motivasi kerja.
Namun, dari perspektif kesehatan mental, quiet quitting tidak selalu bersifat negatif. Dalam beberapa situasi, perilaku ini justru mencerminkan kemampuan individu untuk menetapkan batasan yang sehat. Menolak pekerjaan tambahan yang tidak realistis, menjaga waktu istirahat, serta memisahkan kehidupan pribadi dari pekerjaan merupakan bentuk boundary setting yang penting bagi kesejahteraan psikologis.
Masalahnya bukan terletak pada keberadaan batasan tersebut, melainkan pada alasan yang mendasarinya. Jika quiet quitting dilakukan sebagai bentuk pengelolaan diri yang sehat, maka perilaku tersebut dapat membantu individu menjaga keseimbangan hidup. Sebaliknya, jika muncul akibat frustrasi, ketidakpuasan kerja yang mendalam, atau kelelahan emosional yang tidak tertangani, maka fenomena ini dapat menjadi indikator adanya masalah dalam organisasi.
Pentingnya Work Engagement dan Work-Life Balance
Dalam psikologi industri dan organisasi, salah satu faktor yang dianggap mampu mencegah munculnya quiet quitting adalah work engagement. Konsep ini merujuk pada kondisi psikologis positif yang ditandai oleh semangat (vigor), dedikasi (dedication), dan keterlibatan penuh (absorption) dalam pekerjaan.
Karyawan yang memiliki tingkat work engagement tinggi biasanya merasa pekerjaannya bermakna, memiliki energi untuk bekerja, dan menikmati aktivitas yang dilakukannya. Sebaliknya, ketika pekerjaan dipersepsikan hanya sebagai sumber tekanan tanpa memberikan makna atau penghargaan yang memadai, keterlibatan kerja cenderung menurun.
Selain itu, work-life balance juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental pekerja muda. Keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi memungkinkan individu memenuhi berbagai peran dalam hidupnya tanpa mengalami konflik yang berlebihan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa work-life balance yang baik berhubungan dengan tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi, stres yang lebih rendah, serta kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Oleh karena itu, organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan hidup, bukan hanya menuntut produktivitas semata.
Membangun Lingkungan Kerja yang Sehat
Fenomena quiet quitting memberikan pelajaran penting bagi organisasi maupun pekerja. Bagi perusahaan, fenomena ini menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis karyawan tidak dapat diabaikan. Karyawan yang sehat secara mental cenderung lebih produktif, kreatif, dan loyal dibandingkan mereka yang bekerja dalam kondisi kelelahan berkepanjangan.
Perusahaan dapat mengurangi risiko munculnya quiet quitting dengan menyediakan beban kerja yang realistis, memberikan penghargaan yang adil, menciptakan komunikasi yang terbuka, serta mendukung kesehatan mental karyawan melalui berbagai program kesejahteraan.
Sementara itu, bagi pekerja muda, penting untuk memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tanggung jawab. Menetapkan batasan yang sehat perlu diimbangi dengan profesionalisme dan komitmen terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Hubungan yang sehat dengan pekerjaan bukan berarti bekerja tanpa henti, tetapi juga bukan berarti kehilangan motivasi untuk berkembang. Keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan psikologis menjadi kunci dalam menghadapi dinamika dunia kerja modern.
Oleh: Ikhsan Abdullah, Dr.Rachmat Mulyono M.si,Psikolog
Referensi
World Health Organization – Burn-out an Occupational Phenomenon
Schaufeli, W. B., Salanova, M., González-Romá, V., & Bakker, A. B. (2002). The Measurement of Engagement and Burnout: A Two Sample Confirmatory Factor Analytic Approach. Journal of Happiness Studies, 3(1), 71–92. https://doi.org/10.1023/A:1015630930326
Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2008). Towards a Model of Work Engagement. Career Development International, 13(3), 209–223. https://doi.org/10.1108/13620430810870476
Frontiers in Psychology – Burnout and Employee Well-Being
Hello Sehat – Burnout Kerja dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Alodokter – Mengenal Burnout Syndrome dan Cara Mengatasinya
Sari, N. P., & Handayani, A. (2023). Work-Life Balance dan Kesejahteraan Psikologis pada Generasi Z di Dunia Kerja. Jurnal Psikologi Indonesia, 12(2), 115–127.
