Angka Pengangguran Turun, Tapi Kenapa Rasanya Belum Membaik?

Biasa dipanggil inul, Saya Mahasiswa Semester 8 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Tangerang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Ikhsan Nulhakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau melihat data resmi, seharusnya kita sedang merayakan sesuatu. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran Indonesia per Februari 2026 turun menjadi 7,24 juta orang, setara 4,68 persen dari total angkatan kerja. Dalam lima tahun terakhir, angka ini bahkan sudah turun cukup signifikan dari posisi 8,75 juta orang pada 2021. Ada tambahan hampir 1,9 juta lapangan kerja baru, melampaui pertumbuhan angkatan kerja itu sendiri. Di atas kertas, ini kabar baik.
Beberapa minggu lalu, seorang teman kuliah tiba-tiba mengirim pesan singkat: "Bro, aku kena PHK." Dia bekerja di salah satu perusahaan e-commerce besar, posisi yang dulu sering dia banggakan waktu reunian. Saya sempat kaget, karena setahu saya perusahaan itu sedang tumbuh, bukan sedang kolaps. Tapi ternyata, ceritanya jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan, alhasil saya penasaran, ada apa sekarang ini?
Iseng saya coba tanya ke lingkaran pertemanan kita sendiri, atau scroll media sosial sebentar saja, dan gambaran itu terasa berbeda. Awal Juli 2026 lalu, jagat maya ramai dengan kabar gelombang PHK besar-besaran di Tokopedia, menyasar hingga 90 persen karyawan di divisi teknologi dan riset pengembangan, dengan sebagian operasionalnya dikabarkan dialihkan ke tim ByteDance di China.
Perusahaan sendiri belum memberi rincian pasti berapa banyak yang terdampak, tapi beberapa sumber menyebut angka sekitar 2.250 orang dalam gelombang ini saja. Dan ini bukan kejadian pertama, karena sejak diakuisisi ByteDance akhir 2023, Tokopedia sudah beberapa kali melakukan efisiensi tenaga kerja, salah satunya menyasar ratusan karyawan di divisi IT, customer care, hingga fulfillment pada pertengahan 2025. Belum lagi Shopee, yang juga tercatat merumahkan ribuan karyawannya di periode yang sama.
Di sinilah letak paradoksnya. Data makro bilang lapangan kerja bertambah dan pengangguran menurun, tapi yang paling kentara di linimasa kita justru cerita sebaliknya: video-video perpisahan karyawan yang kena layoff, curhatan soal karier yang tiba-tiba terhenti, dan kekhawatiran kolektif anak muda soal masa depan pekerjaan mereka. Angka nasional dan pengalaman personal seolah berjalan di jalur yang berbeda.
Saya jadi berpikir, mungkin ini bukan soal siapa yang salah datanya. BPS mungkin benar secara statistik nasional, karena penyerapan tenaga kerja memang terjadi di sektor-sektor lain seperti pertanian, perdagangan, dan manufaktur yang menyerap sebagian besar tenaga kerja negeri ini. Tapi bagi generasi muda yang menaruh harapan besar di industri digital dan teknologi, kabar PHK di perusahaan sebesar Tokopedia dan Shopee terasa jauh lebih dekat dan lebih menakutkan dibanding angka persentase yang dirilis setiap bulan.
Ironisnya, sektor yang dulu digadang-gadang jadi masa depan ekonomi Indonesia, ekonomi digital, justru menjadi salah satu yang paling rentan terhadap efisiensi besar-besaran begitu ada perubahan kepemilikan atau strategi bisnis global. Karyawan yang dulu bangga bekerja di perusahaan rintisan teknologi ternama, kini harus menghadapi kenyataan bahwa loyalitas dan kerja keras tidak selalu cukup untuk menjamin posisi mereka aman, terutama ketika keputusan bisnis diambil dari kantor pusat di negara lain.
Ini yang membuat saya merasa data pengangguran tidak boleh dibaca sebagai angka tunggal yang menenangkan. Di balik penurunan itu, ada pergeseran besar soal jenis pekerjaan apa yang benar-benar aman, dan jenis pekerjaan apa yang ternyata rapuh meski terlihat bergengsi. Lulusan SMA dan SMK memang masih mendominasi angka pengangguran secara pendidikan, tapi cerita PHK massal di sektor digital menunjukkan bahwa gelar tinggi dan pengalaman di perusahaan besar sekalipun, bukan jaminan keamanan kerja abadi.
Jadi, kalau ditanya apakah 2026 ini tahun yang lebih ringan soal pengangguran dibanding tahun-tahun sebelumnya, jawabannya tidak sesederhana angka di laporan resmi. Bagi sebagian orang yang bekerja di sektor yang sedang tumbuh, mungkin iya. Tapi bagi ribuan karyawan yang baru saja menerima surat PHK dari perusahaan tempat mereka menaruh harapan karier, tahun ini terasa sama beratnya, kalau bukan lebih berat, dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya.
Barangkali yang perlu kita bicarakan bukan cuma apakah angka pengangguran naik atau turun, tapi seberapa rapuh sebenarnya rasa aman yang kita bangun di atas satu pekerjaan, satu industri, atau satu perusahaan saja.
