Cara Bertahan Hidup di Tengah Kondisi Ekonomi Indonesia Sekarang

Biasa dipanggil inul, Saya Mahasiswa Semester 8 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Tangerang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Ikhsan Nulhakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan lalu, seorang kenalan saya menunjukkan struk belanja bulanannya. Isinya tidak berubah dari bulan sebelumnya—beras, minyak goreng, telur, sabun cuci—tetapi angka di bagian bawah struk itu naik cukup terasa. Dia hanya menatap struk itu sejenak, menghela napas, lalu berkata pelan, "Kok, kayaknya kondisi sekarang belanjaan makin sedikit, tapi bayarnya makin banyak, ya?"
Pertanyaan sederhana itu sebenarnya sedang ditanyakan jutaan orang Indonesia lain pada saat yang sama. Data yang Perlu Anda Ketahui, Bukan untuk Menakuti, tetapi untuk Memahami
Mari kita mundur sedikit dan melihat gambaran besarnya terlebih dahulu, karena memahami situasi secara keseluruhan akan membantu kita membuat keputusan yang lebih tenang, bukan keputusan yang didasari kepanikan.
Pemerintah mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 berada di angka 2,88 persen secara tahunan, sedikit membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Ekonomi nasional pun tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama tahun ini, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih relatif kuat. Di atas kertas, angka-angka ini terlihat cukup baik.
Namun, survei yang melibatkan puluhan ekonom dari Universitas Indonesia pada semester pertama 2026 memberikan gambaran yang lebih hati-hati: sebagian besar dari mereka menilai kondisi ekonomi berada dalam situasi stagnan, bahkan cenderung memburuk, terutama karena tekanan inflasi yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat. Ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi dan komoditas, turut menambah tekanan pada harga barang sehari-hari.
Inilah yang disebut paradoks ekonomi tahun ini: angka makro terlihat stabil, tetapi rasa di dompet warga terasa berbeda. Sama seperti data pengangguran yang membaik di atas kertas, sementara gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah perusahaan teknologi besar tetap terjadi dan terasa nyata bagi mereka yang mengalaminya langsung.
Kenapa Perasaan "Semua Terasa Lebih Berat" Itu Bukan Perasaan yang Salah
Jika belakangan ini Anda merasa uang bulanan lebih cepat habis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, itu bukan berarti Anda kurang pandai mengatur keuangan. Ada penjelasan struktural di baliknya.
Ketika inflasi naik lebih cepat daripada kenaikan pendapatan, nilai riil uang yang Anda pegang otomatis berkurang, meskipun angka di rekening tetap sama. Ditambah lagi, banyak sektor yang dahulu dianggap aman—termasuk industri digital dan teknologi—kini justru menjadi salah satu yang paling rentan terhadap efisiensi besar-besaran. Rasa aman yang dahulu dibangun di atas satu pekerjaan tetap kini terasa jauh lebih rapuh.
Jadi, sebelum membahas langkah-langkah praktis, penting untuk menegaskan satu hal: kesulitan yang Anda rasakan bukan kegagalan pribadi. Ini konsekuensi dari perubahan struktural yang sedang terjadi secara nasional maupun global.
Tujuh Langkah Praktis untuk Bertahan, Bukan Sekadar Bertahan Hidup
Berikut beberapa langkah konkret yang bisa mulai diterapkan, disusun bukan sebagai teori di atas kertas, melainkan sebagai kebiasaan yang benar-benar bisa dijalankan di tengah keterbatasan.
1. Petakan pengeluaran wajib versus pengeluaran fleksibel. Pisahkan mana kebutuhan yang benar-benar tidak bisa ditunda (makan, tempat tinggal, cicilan penting) dan mana yang sebenarnya masih bisa dikurangi atau ditunda. Kebanyakan orang baru menyadari betapa banyak pengeluaran fleksibel yang selama ini dianggap wajib.
2. Jangan menambah utang konsumtif di tengah tekanan harga. Ini godaan yang sangat umum ketika penghasilan terasa tidak cukup: mengandalkan kartu kredit atau pinjaman daring untuk menutup kekurangan bulanan. Padahal, ini hanya memindahkan tekanan ke bulan berikutnya dengan tambahan bunga.
3. Diversifikasi sumber pendapatan, sekecil apa pun itu. Anda tidak perlu langsung membangun bisnis besar. Kemampuan kecil yang Anda kuasai—menulis, mengedit foto, mengajar les, memasak—bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang membantu meredam guncangan jika pendapatan utama terganggu.
4. Perbarui keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini, bukan yang dianggap tren lima tahun lalu. Gelombang efisiensi di sektor teknologi menunjukkan bahwa posisi yang dahulu dianggap bergengsi tidak selalu aman. Keterampilan yang fleksibel dan bisa diterapkan di berbagai industri biasanya lebih tahan terhadap guncangan dibandingkan keterampilan yang sangat spesifik pada satu perusahaan atau satu sistem tertentu.
5. Bangun dana darurat sekecil apa pun, sebelum memikirkan investasi besar. Sebelum memikirkan instrumen investasi yang rumit, pastikan dahulu ada dana cadangan yang bisa menutup kebutuhan pokok selama beberapa bulan jika terjadi kondisi darurat, seperti kehilangan pekerjaan mendadak.
6. Perhatikan kesehatan mental di tengah tekanan finansial, jangan hanya angka di rekening. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan sering kali berdampak pada kelelahan emosional. Bicarakan beban ini dengan orang terdekat atau profesional jika memang dibutuhkan, karena mengabaikan sisi ini justru bisa memperlambat kemampuan Anda mengambil keputusan finansial yang jernih.
7. Jangan berhenti mencoba hanya karena hasil belum terlihat dalam sebulan dua bulan. Baik dalam mencari pekerjaan baru, membangun sumber pendapatan tambahan, maupun mengatur ulang keuangan rumah tangga, hasil yang berarti biasanya membutuhkan konsistensi dalam beberapa bulan, bukan usaha sekali coba lalu menyerah.
Menutup dengan Kejujuran, Bukan Janji Manis
Saya tidak akan mengatakan bahwa tujuh langkah di atas akan membuat semua terasa mudah. Kondisi ekonomi yang tertekan tidak bisa diselesaikan hanya dengan kedisiplinan personal semata—ada faktor struktural yang jauh lebih besar daripada kendali satu individu.
Namun, di tengah situasi yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan, langkah-langkah kecil yang konsisten tetap menjadi hal paling nyata yang bisa kita lakukan. Sama seperti kenalan saya yang menatap struk belanjanya tadi—dia tidak bisa mengendalikan harga telur di pasar, tetapi dia bisa memutuskan bagaimana caranya merespons kenyataan itu esok hari.
Bertahan di tengah kondisi ekonomi yang berat bukan soal siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling konsisten menyesuaikan diri, sedikit demi sedikit, tanpa kehilangan harapan di sepanjang prosesnya.
