Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Masih Kesepian di Dunia yang Katanya Serba Terhubung

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ikhsan Nulhakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi Saat Kena Musibah
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Saat Kena Musibah

Kenapa bisa aku tidak pernah benar-benar sendirian secara teknis. ada 400-an teman di Instagram, beberapa grup WhatsApp yang tidak pernah sepi notifikasi, dan sebuah nomor yang bisa dihubungi kapan saja kalau butuh bantuan. tapi kenapa, di tengah semua itu, aku masih sering merasa seperti berbicara ke ruangan kosong, seakan-akan kesepian?

Saya masih ingat betul malam itu — bukan malam yang istimewa, cuma Selasa biasa. Saya baru selesai video call kerja kelompok, mematikan laptop, lalu duduk diam di kasur sambil menatap layar HP yang penuh chat belum dibalas. Ada 14 pesan masuk hari itu. Saya balas semuanya dalam sepuluh menit, cepat, efisien, seperti robot customer service. Lalu saya sadar: tidak ada satu pun dari 14 pesan itu yang benar-benar bertanya "kamu baik-baik aja?"

Untuk memahami kenapa perasaan ini begitu umum, mari kita mundur jauh — bukan ke masa lalu personal saya, tapi ke skala yang jauh lebih besar: bagaimana manusia membangun konsep "terhubung" sepanjang sejarah, dan kenapa definisi itu berubah drastis dalam waktu yang sangat singkat.

Dari Api Unggun ke Notifikasi

Selama ribuan tahun, "terhubung" berarti satu hal sederhana: berada di ruangan yang sama, mendengar suara yang sama, melihat wajah yang sama saat bicara. Manusia purba duduk mengelilingi api unggun bukan cuma untuk kehangatan fisik, tapi karena kehadiran fisik adalah satu-satunya bentuk koneksi yang mereka kenal.

Lalu datang telepon, yang memisahkan suara dari tubuh untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia. Lalu datang internet, yang memisahkan kata-kata dari suara. Lalu datang media sosial, yang memisahkan "kehadiran" dari kehadiran itu sendiri — kita bisa terlihat aktif, terlihat hadir, terlihat "ada" untuk ratusan orang sekaligus, tanpa benar-benar berada di ruangan siapa pun.

Setiap lompatan teknologi ini menjanjikan hal yang sama: lebih banyak koneksi, lebih sedikit jarak. Tapi ada satu hal yang tidak pernah diakui secara terbuka — setiap kali kita menambah lapisan teknologi antara satu manusia dengan manusia lain, kita juga menambah satu lapisan penyaring yang membuat koneksi itu terasa lebih ringan, lebih mudah diputus, dan diam-diam lebih dangkal.

Lima Hal yang Ternyata Kita Salah Pahami Soal "Terhubung"

Setelah merenungkan malam Selasa itu cukup lama, saya sadar ada beberapa asumsi keliru yang selama ini saya pegang — mungkin kita semua pegang soal apa artinya benar-benar terhubung dengan orang lain.

1. Jumlah bukan kedalaman. Kamu bisa punya 400 teman dan tidak satu pun yang benar-benar tahu kabar terakhirmu. Angka besar memberi ilusi kelimpahan, padahal yang sebenarnya kamu butuhkan mungkin cuma satu percakapan yang tidak terburu-buru.

2. Kecepatan membalas bukan tanda peduli. Membalas dalam sepuluh menit tidak sama dengan benar-benar hadir. Kadang justru sebaliknya — kecepatan itu tanda kita sedang menyelesaikan tugas, bukan sedang menyimak seseorang.

3. Terlihat aktif tidak sama dengan terlihat oleh seseorang. Ada beda besar antara dilihat banyak orang dan benar-benar dilihat oleh satu orang. Yang kedua jauh lebih langka, dan jauh lebih berarti.

4. Kesepian di tengah keramaian digital bukan tanda kamu aneh. Ini bukan kegagalan personal. Ini konsekuensi struktural dari cara teknologi ini dirancang — dioptimalkan untuk jangkauan, bukan untuk kedalaman.

5. Solusinya bukan menghapus semua aplikasi, tapi mengubah satu kebiasaan kecil. Bukan soal digital detox drastis. Cukup satu percakapan panjang tanpa distraksi per minggu, dengan satu orang, tanpa terburu-buru membalas pesan lain di saat bersamaan.

Kembali ke Api Unggun

Ya mungkin yang kita rindukan bukan lebih banyak koneksi,mungkin yang kita rindukan adalah versi paling kuno dari koneksi itu sendiri — duduk diam, tanpa buru-buru, di depan seseorang yang benar-benar menatap kita, bukan menatap layar di antara kita berdua. 400 teman tidak akan pernah menggantikan itu,satu percakapan yang jujur, mungkin bisa.