Konten dari Pengguna

Temanku Menghasilkan UMR, Ini yang Dia Ajarkan Ke Saya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ikhsan Nulhakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi

Beberapa minggu lalu, seorang teman kuliah tiba-tiba mengirim pesan singkat melalui WhatsApp: "Coba lihat ini." Dia mengirim tangkapan layar laporan penjualan sebuah produk digital sederhana miliknya. Angkanya Rp4,2 juta, hanya dari bulan lalu.

Saya kaget, bukan karena angkanya besar, melainkan karena saya tahu persis dia bukan tipe orang yang memiliki ribuan pengikut atau modal iklan besar. Dia hanya mahasiswa biasa yang sering begadang mengerjakan tugas kelompok dan sesekali mengeluh soal skripsi yang belum selesai.

"Bagaimana caranya?" tanya saya.

Dia menjawab santai, "Aku tidak memasang iklan sama sekali. Tidak mengirim pesan pribadi kepada orang asing. Hanya satu berkas PDF, satu akun Instagram yang tadinya hanya untuk memperlihatkan foto liburan, dan sedikit kesabaran."

Saya penasaran, sehingga saya meminta dia menjelaskan dari awal. Ternyata, ceritanya jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan, tetapi juga jauh dari kesan "cepat kaya" yang biasa kita lihat di konten-konten sejenis.

Semua Berawal dari Rasa Penasaran, Bukan Rencana Besar

Dia bercerita, awalnya dia sama sekali tidak berencana menjual apa pun. Dia hanya sering mengunggah cerita soal kebiasaan belajarnya yang berantakan, lalu menjadi rapi setelah dia menemukan sistem sendiri untuk mengatur waktu kuliah sambil bekerja paruh waktu.

"Awalnya saya kira itu hanya keluhan biasa," katanya. "Namun, setiap kali saya mengunggah cerita tentang hal itu, selalu ada yang mengirim pesan menanyakan, 'Bagaimana sistemnya? Bolehkah dibagikan?'"

Dari situ dia menyadari satu hal: orang tidak butuh nasihat motivasi generik. Mereka butuh solusi konkret untuk masalah spesifik yang sedang mereka rasakan.

Kesalahan yang Hampir Dia Lakukan di Awal

Sebelum akhirnya berhasil, dia sempat hampir terjebak pada kesalahan yang menurutnya paling sering dilakukan orang: membuat produk dahulu, memikirkan kebutuhannya belakangan.

"Saya hampir saja membuat template asal-asalan hanya karena melihat orang lain berhasil menjual template," katanya. "Untung saya sempat berpikir dua kali."

Alasannya masuk akal: orang tidak membeli produk hanya karena produk itu ada. Mereka membeli karena produk itu menjawab sesuatu yang benar-benar membuat mereka pusing.

Dua Cara Berpikir yang Dia Pelajari

Dia menjelaskan kepada saya, ada dua tingkatan cara orang biasanya menjual produk digital.

Tingkat pertama, bekerja sekali untuk membuat satu produk, dijual ke beberapa orang, lalu terhenti di situ-situ saja jika tidak laku.

Tingkat kedua, membangun semacam sistem kecil yang terus berjalan, bukan menebak-nebak produk apa yang ingin dibuat, melainkan mendengarkan dahulu apa yang orang benar-benar cari, baru membuat sesuai kebutuhan itu.

"Saya berpindah dari tingkat pertama ke tingkat kedua saat saya mulai mendengarkan komentar orang melalui pesan pribadi, bukan sekadar menebak," katanya.

Sistem Sederhana yang Dia Gunakan

Saya meminta dia menjabarkan langkah-langkahnya, supaya saya juga bisa mencobanya. Berikut yang dia sampaikan.

1. Dengarkan dahulu sebelum membuat apa pun. Dia membaca ulang semua pesan dan komentar yang masuk selama beberapa bulan terakhir. Jika ada pertanyaan yang muncul berkali-kali dengan kata-kata berbeda, itu pertanda ada kebutuhan nyata di situ.

2. Buat versi paling sederhana terlebih dahulu. Bukan buku seratus halaman. Cukup PDF lima belas halaman, berisi sistem belajar-bekerja yang biasa dia gunakan sendiri, ditulis rapi tetapi apa adanya.

3. Letakkan di tempat yang sudah memiliki audiens. Dia tidak membuat toko daring baru dari nol. Dia hanya meletakkan tautannya di bio Instagram yang memang sudah biasa dia gunakan untuk bercerita sehari-hari.

4. Sisipkan tawarannya pada saat yang tepat, bukan hanya di akhir. Ini bagian yang menurutnya paling krusial. "Dahulu saya meletakkan tautan penjualan di bagian paling bawah keterangan, semacam catatan tambahan bahwa ada berkas PDF yang bisa dibeli. Tidak ada yang mengeklik," katanya. "Setelah saya mulai menyebutkan berkas itu tepat saat sedang bercerita tentang masalah spesifik yang dijawab olehnya, barulah mulai ada yang membeli."

5. Jangan berhenti setelah sekali mengunggah. Dia sempat hampir menyerah setelah minggu pertama sepi peminat. Namun, menurutnya, orang perlu melihat dia muncul berkali-kali terlebih dahulu sebelum akhirnya percaya dan bersedia membeli.

Angka yang Sebenarnya, Bukan yang Dipoles

Saya menanyakan detail angkanya, dan dia jujur bercerita: dari sekitar 340 orang yang melihat unggahannya bulan lalu, hanya 12 orang yang akhirnya membeli. Kedengarannya kecil, tetapi menurutnya justru itu yang lebih penting daripada angka besar yang hanya terjadi sekali lalu hilang.

"Bukan soal viral satu kali lalu berhenti. Ini soal angka kecil yang konsisten setiap bulan," katanya.

Yang Saya Pelajari dari Ceritanya

Mendengar cerita ini membuat saya menyadari satu hal: yang membuat dia berhasil bukan trik rahasia atau modal besar, melainkan kesediaan untuk benar-benar mendengarkan apa yang orang butuhkan, dan kesabaran untuk terus menunjukkan solusinya berulang kali sampai orang percaya.

Jika Anda, seperti saya waktu itu, berpikir menjual produk digital membutuhkan pengikut ribuan atau kemampuan desain tingkat tinggi, cerita teman saya ini menjadi pengingat kecil bahwa kadang yang dibutuhkan hanyalah satu hal yang benar-benar Anda pahami, dan kesabaran untuk terus muncul, bukan menghilang setelah sekali mencoba.