Konten dari Pengguna

Mengenal Snowplow Parenting dan Bahayanya Bagi Masa Depan Anak

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ikon Sauki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak mengalami tekanan emosional dan stres. Foto: Unsplash/Curated Lifestyle
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak mengalami tekanan emosional dan stres. Foto: Unsplash/Curated Lifestyle

Snowplow parenting adalah fenomena pola asuh di mana orang tua berusaha "menyingkirkan" segala rintangan dan kesulitan anak dan hal itu menadi perhatian dalam dunia parenting dan isu kesehatan mental anak. Pernahkah Moms refleks langsung menyelesaikan tugas sekolah anak yang dirasa sulit, memarahi temannya saat berselisih, atau mengambil alih semua urusannya?

Ibarat buldoser atau mesin pembersih salju, orang tua dengan gaya snowplow parenting akan "menyingkirkan" segala rintangan, kegagalan, dan ketidaknyamanan dari jalur hidup anak sebelum anak menyadarinya sendiri. Niatnya tentu baik untuk melindungi anak, namun risikonya cukup besar bagi tumbuh kembang mereka.

Apa Bedanya Snowplow Parenting dengan Helicopter Parenting?

Jika helicopter parent cenderung terus mengawasi dan membayangi setiap gerak-gerik anak, orang tua yang menerapkan snowplow parenting melangkah lebih jauh. Mereka secara aktif maju ke depan untuk membereskan masalah, memastikan anak selalu menang, tidak pernah gagal, dan tidak pernah merasa sedih atau kecewa.

Bahaya Snowplow Parenting Bagi Masa Depan Anak

Julie Lythcott Haims, mantan Dekan Mahasiswa di Stanford University sekaligus penulis buku How to Raise an Adult, mengungkapkan fenomena mengejutkan. Banyak mahasiswa berprestasi masuk ke kampus ternama, namun runtuh secara mental saat menghadapi kegagalan kecil karena terbiasa dengan snowplow parenting sejak kecil.

Berikut beberapa dampak jangka panjang dari gaya pengasuhan ini:

  • Rendahnya Efikasi Diri (Self Efficacy) artinya Saat orang tua selalu mengambil alih masalah, pesan tersirat yang ditangkap anak adalah: "Kamu tidak mampu membereskan ini sendiri." Akibatnya, anak tumbuh tanpa rasa percaya pada kemauptannya.

  • Tidak Punya Toleransi Terhadap Frustrasi artinya Hidup orang dewasa penuh dengan penolakan dan kegagalan. Anak yang tidak pernah terlatih menghadapi kekecewaan kecil saat kecil akan mudah cemas dan stres ketika dihadapkan pada masalah nyata.

  • Lemahnya Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving) artinya Kemampuan berpikir kritis dan mencari solusi hanya terbentuk saat seseorang menghadapi tantangan. Jika rintangan selalu disingkirkan, otak anak tidak terlatih untuk mencari jalan keluar.

Bagaimana Orang Tua Harus Bersikap?

Melindungi anak tentu kewajiban, tetapi membiarkan mereka belajar dari proses adalah kunci kedewasaan. Mulailah bergeser dari "pembersih jalan" menjadi "pendamping".

Biarkan anak merasakan konsekuensi alami dari tindakannya seperti mendapat nilai kurang karena lupa belajar, atau memecahkan masalah sendiri saat berselisih dengan teman. Tugas orang tua bukanlah menghilangkan rintangan, melainkan memberi dukungan emosional agar anak kuat melompat melampaui rintangan tersebut demi kelangsungan Parenting dan Kesehatan Mental yang sehat.