Guru Kota Tangerang Harus Bertumbuh, Bukan Sekedar Mengikuti Perubahan
Tulisan dari Ilwandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengembangan SDM Guru di Kota Tangerang perlu diperkuat melalui pelatihan berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, kepemimpinan sekolah, dan perubahan nyata dalam pembelajaran.

Pengembangan SDM Guru di Kota Tangerang menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat. Guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi pelajaran. Mereka dituntut memahami karakter peserta didik, memanfaatkan teknologi, menciptakan pembelajaran yang menarik, sekaligus membangun lingkungan belajar yang positif.
Perubahan itu juga terasa di Kota Tangerang. Pemerintah daerah telah menjalankan berbagai program peningkatan kapasitas guru. Namun, ada satu pertanyaan yang menurut saya lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah pelatihan: setelah pelatihan selesai, apa yang benar-benar berubah di ruang kelas?
Pertanyaan tersebut penting karena pengembangan sumber daya manusia (SDM) guru tidak semestinya berhenti pada kehadiran peserta, sertifikat, atau selesainya sebuah kegiatan. Ukuran yang lebih bermakna adalah ketika pengetahuan baru digunakan untuk memperbaiki cara guru merencanakan pembelajaran, mengelola kelas, berinteraksi dengan siswa, dan mengevaluasi hasil belajar.
Pelatihan Guru Harus Menjadi Titik Awal
Pemerintah Kota Tangerang telah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan kompetensi guru. Pada Januari 2026, Pemerintah Kota Tangerang melalui BKPSDM dan Dinas Pendidikan menyelenggarakan pelatihan fungsional guru dan tenaga kependidikan yang diikuti 136 peserta. Pada Februari 2026, terdapat pula pelatihan manajemen kelas modern bagi guru SD. Kemudian pada April 2026, dilaksanakan pelatihan pengembangan pembelajaran berbasis aktivitas murid untuk guru SMP dan inkuiri kolaboratif pembelajaran mendalam untuk guru SD.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan guru mulai menyentuh kebutuhan yang lebih luas, bukan hanya penguasaan materi. Pengelolaan kelas, aktivitas murid, pembelajaran mendalam, dan kemampuan mengembangkan proses belajar menjadi bagian penting dari kompetensi guru.
Namun, pelatihan seharusnya menjadi titik awal, bukan titik akhir. Setelah kembali ke sekolah, guru membutuhkan ruang untuk mencoba, berdiskusi, mendapatkan umpan balik, dan memperbaiki praktiknya. Tanpa proses lanjutan, pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan berisiko berhenti sebagai pengetahuan pribadi.
Teknologi Penting, tetapi Bukan Segalanya
Perkembangan teknologi digital memang membuka banyak peluang. Guru dapat menggunakan berbagai media, sumber informasi, dan perangkat digital untuk mendukung pembelajaran. Akan tetapi, kemampuan menggunakan aplikasi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi efektif.
Menurut saya, teknologi seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu. Inti pembelajaran tetap berada pada kemampuan guru memahami kebutuhan siswa, membangun komunikasi, memilih strategi yang tepat, dan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Karena itu, pengembangan SDM guru di Kota Tangerang perlu menjaga keseimbangan antara keterampilan digital dan kompetensi pedagogik. Guru perlu mampu menggunakan teknologi sekaligus mengetahui kapan teknologi diperlukan, untuk tujuan apa, dan bagaimana penggunaannya dapat membantu siswa berpikir, bertanya, berdiskusi, serta menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Kepala Sekolah Jangan Hanya Menjadi Pengelola Administrasi
Pengembangan kompetensi guru tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada guru. Sekolah harus menjadi lingkungan yang memungkinkan guru terus belajar. Di sinilah peran kepala sekolah menjadi penting.
Pada Januari 2026, BKPSDM Kota Tangerang juga memberitakan pelatihan bagi kepala sekolah dan pengawas yang berkaitan dengan kepemimpinan pembelajaran, coaching, fasilitasi pembelajaran, dan mentoring. Arah ini relevan karena kepala sekolah bukan hanya bertanggung jawab terhadap administrasi sekolah, tetapi juga memiliki peran dalam mendorong kualitas pembelajaran.
Supervisi seharusnya tidak berhenti pada pemeriksaan administrasi. Kepala sekolah dapat menjadikan supervisi sebagai ruang dialog: apa kesulitan guru, apa yang sudah berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan dukungan apa yang dibutuhkan. Dengan cara seperti ini, supervisi dapat menjadi bagian dari proses pengembangan profesional yang berkelanjutan.
Jangan Mengembangkan Guru dengan Menambah Beban
Ada hal lain yang tidak boleh diabaikan: beban kerja guru. Selain mengajar, guru harus menyiapkan pembelajaran, melakukan penilaian, mengelola administrasi, dan menjalankan tugas tambahan. Jika setiap program pengembangan kompetensi hanya menambah agenda tanpa memperhatikan kondisi kerja, tujuan peningkatan kualitas justru dapat kehilangan efektivitasnya.
Guru membutuhkan waktu untuk belajar, tetapi juga membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pembelajaran dan mendampingi peserta didik. Karena itu, program pengembangan kompetensi perlu dirancang secara proporsional, didukung fasilitas yang memadai, dan benar-benar menjawab kebutuhan guru.
Dari Pelatihan Menuju Perubahan Nyata
Menurut saya, bagian yang paling perlu diperkuat dalam pengembangan SDM guru di Kota Tangerang adalah tindak lanjut setelah pelatihan. Setiap program sebaiknya memiliki mekanisme pendampingan dan evaluasi yang jelas.
Guru dapat diberi kesempatan untuk mencoba metode yang dipelajari, kemudian mendiskusikan hasilnya dalam komunitas belajar. Kepala sekolah dan rekan sejawat dapat memberikan umpan balik. Guru yang berhasil menerapkan praktik tertentu juga dapat berbagi pengalaman sehingga manfaat pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir.
Keberhasilan program akhirnya perlu dilihat dari perubahan yang dapat diamati: apakah perencanaan pembelajaran semakin baik, apakah kelas lebih terkelola, apakah siswa lebih aktif, dan apakah hasil evaluasi benar-benar digunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Ukuran seperti ini jauh lebih bermakna daripada sekadar jumlah peserta dan sertifikat.
Investasi Pendidikan Dimulai dari Guru
Berbagai program pelatihan yang telah dilakukan Pemerintah Kota Tangerang dapat menjadi fondasi bagi pengembangan SDM pendidikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan agar program tersebut tidak berjalan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari budaya belajar di sekolah.
Pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, kepala sekolah, perguruan tinggi, dan guru perlu membangun kolaborasi yang lebih kuat. Guru perlu didukung untuk terus belajar, kepala sekolah perlu menguatkan kepemimpinan pembelajaran, dan evaluasi program perlu diarahkan pada perubahan nyata dalam proses belajar.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas atau kecanggihan teknologi. Kualitas pendidikan sangat bergantung pada manusia yang berada di ruang kelas setiap hari: guru yang mampu membimbing, mengajar, mendengarkan, dan membantu peserta didik berkembang.
Guru Kota Tangerang perlu terus bertumbuh, bukan sekadar mengikuti perubahan. Sebab, investasi pendidikan pada akhirnya adalah investasi pada manusia yang setiap hari mendampingi generasi masa depan.

