Membangun SDM Unggul melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB)
Tulisan dari Ilwandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengembangan SDM melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB) mendorong kepedulian, kerja sama, dan kontribusi positif di lingkungan kerja.

Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pengembangan SDM, organisasi tidak cukup hanya memiliki orang-orang yang kompeten. Organisasi juga membutuhkan individu yang memiliki kepedulian, mampu bekerja sama, dan bersedia memberikan kontribusi positif di luar tugas formalnya. Perilaku tersebut dikenal sebagai Organizational Citizenship Behavior (OCB).
Tidak semua kontribusi di tempat kerja tercantum dalam uraian tugas. Ada seseorang yang bersedia membantu rekan ketika mengalami kesulitan, memberikan masukan, ikut menyelesaikan pekerjaan bersama, atau mengambil inisiatif ketika melihat persoalan yang perlu segera ditangani.
Sekilas, tindakan tersebut terlihat sederhana. Namun, ketika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, perilaku tersebut dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun organisasi.
Pengembangan SDM Tidak Hanya tentang Kompetensi
Pembahasan mengenai pengembangan SDM sering dikaitkan dengan pendidikan, pelatihan, kompetensi, produktivitas, dan penguasaan teknologi.
Semua aspek tersebut memang penting. Namun, organisasi juga membutuhkan manusia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan kerjanya.
Seorang guru, misalnya, tidak hanya menjalankan pembelajaran di dalam kelas. Dalam kehidupan sekolah terdapat berbagai kegiatan yang membutuhkan kerja sama. Guru dapat membantu rekan menyiapkan kegiatan sekolah, berbagi pengalaman pembelajaran, memberikan dukungan ketika rekan mengalami kesulitan, atau ikut menjaga lingkungan sekolah tetap kondusif.
Kontribusi seperti itu tidak selalu tercantum secara rinci dalam tugas formal.
Namun, dampaknya dapat dirasakan oleh organisasi.
Mengenal Organizational Citizenship Behavior
Organizational Citizenship Behavior (OCB) secara sederhana dapat dipahami sebagai perilaku sukarela individu yang memberikan kontribusi positif terhadap organisasi di luar tuntutan pekerjaan formal.
OCB tidak harus berbentuk pekerjaan besar.
Membantu rekan kerja, menjaga hubungan yang baik, menghargai orang lain, menunjukkan kepedulian terhadap organisasi, serta bersedia memberikan bantuan ketika dibutuhkan merupakan contoh perilaku yang dapat muncul dalam kehidupan organisasi.
Konsep ini banyak dibahas dalam kajian perilaku organisasi karena keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu menjalankan tugas pokoknya.
Organisasi juga membutuhkan kerja sama.
Dengan demikian, kompetensi membuat seseorang mampu menjalankan pekerjaan, sedangkan OCB mendorong seseorang memberikan kontribusi positif bagi lingkungan kerjanya.
OCB dalam Lingkungan Pendidikan
Lingkungan sekolah menjadi salah satu contoh yang menarik untuk melihat penerapan OCB.
Sekolah tidak hanya membutuhkan guru yang mampu mengajar. Sekolah juga membutuhkan guru yang mampu bekerja sama dengan kepala sekolah, sesama guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan orang tua.
Misalnya, ketika seorang guru membantu rekannya mempersiapkan perangkat pembelajaran atau memberikan masukan mengenai metode pembelajaran, tindakan tersebut dapat memperkuat kerja sama profesional.
Ketika guru bersedia terlibat dalam kegiatan sekolah tanpa harus selalu menunggu instruksi, muncul rasa memiliki terhadap organisasi.
Dalam konteks inilah pengembangan SDM guru tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan kompetensi individual. Pengembangan juga perlu diarahkan pada pembentukan budaya kerja yang mendorong kolaborasi dan kepedulian.
Dari “Ini Bukan Tugas Saya” Menjadi “Apa yang Bisa Saya Bantu?”
Kalimat “ini bukan tugas saya” sebenarnya bukan sesuatu yang selalu salah. Pembagian tugas tetap diperlukan agar organisasi berjalan secara teratur.
Namun, dalam situasi tertentu, organisasi membutuhkan fleksibilitas.
Ketika ada rekan yang membutuhkan bantuan, muncul pertanyaan sederhana: apakah kita hanya berpegang pada batas tugas atau bersedia membantu selama bantuan tersebut masih dalam batas yang wajar?
OCB berada pada ruang tersebut.
Perilaku membantu tidak berarti seseorang harus mengambil alih pekerjaan orang lain. OCB justru perlu berjalan bersama dengan pembagian kerja yang sehat.
Karena itu, organisasi perlu membangun budaya saling membantu tanpa menghilangkan kejelasan tanggung jawab.
Peran Pemimpin dalam Membangun OCB
OCB tidak dapat tumbuh dengan baik jika hanya dituntut dari anggota organisasi.
Pemimpin memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan perilaku tersebut berkembang.
Keteladanan menjadi salah satu faktor penting. Pemimpin yang terbiasa menghargai kontribusi, mendengarkan masukan, memberikan kepercayaan, dan membantu ketika tim menghadapi masalah dapat memberikan contoh perilaku yang kemudian diikuti oleh anggota organisasi.
Apresiasi juga penting.
Tidak semua penghargaan harus berbentuk uang. Ucapan terima kasih, pengakuan atas kontribusi, kesempatan untuk berkembang, dan kepercayaan untuk mengambil tanggung jawab tertentu juga dapat menjadi bentuk penghargaan.
Ketika individu merasa kontribusinya dihargai, muncul dorongan untuk mempertahankan perilaku positif tersebut.
Jangan Sampai OCB Berubah Menjadi Beban
Ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Budaya saling membantu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk memberikan pekerjaan tambahan secara terus-menerus kepada orang yang dianggap paling mampu atau paling bersedia membantu.
Jika hal tersebut terjadi, OCB justru dapat menimbulkan masalah baru.
Karena itu, organisasi perlu menjaga keseimbangan antara inisiatif, kepedulian, pembagian tugas, beban kerja, dan penghargaan.
OCB seharusnya lahir dari kesadaran dan kemauan memberikan kontribusi, bukan dari tekanan atau ketakutan.
Membangun SDM melalui Budaya Kerja
Pengembangan SDM pada akhirnya bukan hanya persoalan meningkatkan kemampuan individu.
Ada aspek budaya yang tidak kalah penting.
Bayangkan sebuah sekolah yang seluruh gurunya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi masing-masing hanya fokus pada tugas sendiri. Sekolah mungkin tetap berjalan, tetapi potensi kolaborasinya belum maksimal.
Sebaliknya, ketika kompetensi tersebut dipadukan dengan budaya saling membantu, komunikasi, kepedulian, dan rasa memiliki, organisasi memiliki modal sosial yang lebih kuat.
Inilah salah satu alasan mengapa Organizational Citizenship Behavior relevan dalam pembahasan pengembangan SDM.
OCB dapat menjadi bagian dari budaya yang membantu organisasi membangun lingkungan kerja yang lebih kolaboratif.
SDM Unggul Dimulai dari Kontribusi Kecil
Membangun SDM unggul tidak selalu dimulai dari program besar.
Kadang-kadang dimulai dari tindakan sederhana.
Membantu rekan yang kesulitan.
Mau berbagi pengetahuan.
Menghargai pendapat orang lain.
Menjaga komunikasi.
Bersedia terlibat dalam kegiatan bersama.
Memiliki kepedulian terhadap keberhasilan organisasi.
Jika perilaku tersebut dilakukan secara konsisten, kontribusi kecil dapat berkembang menjadi budaya organisasi.
Pada akhirnya, organisasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu bekerja, tetapi juga orang-orang yang mau berkontribusi.
Organizational Citizenship Behavior mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya dibangun melalui pekerjaan yang tercantum dalam uraian tugas. Ada kontribusi lain yang lahir dari kepedulian, kerja sama, dan kesadaran untuk memberikan manfaat bagi lingkungan.
Ketika kontribusi positif menjadi kebiasaan, pengembangan SDM tidak lagi hanya berbicara tentang peningkatan kompetensi.
Ia juga berbicara tentang bagaimana manusia tumbuh menjadi bagian penting dari keberhasilan bersama.

