Konten dari Pengguna

Dari Katanya ke Apa Buktinya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ildi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi main HP. Foto: jd8/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi main HP. Foto: jd8/Shutterstock

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar:

“Katanya obat ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit kronis”

“Katanya besok akan terjadi badai besar”

“Katanya Artificial Intelligence (AI) lebih pintar dari manusia”

“Katanya Indonesia akan gelap dalam beberapa tahun ke depan”

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan “Katanya” tersebut. Masalahnya muncul ketika “Katanya” tersebut diulang-ulang, bahkan dibagikan beribu kali di media sosial, sehingga yang awalnya hanya “Katanya” menjadi sebuah “Kebenaran” karena “Katanya” tersebut dikatakan langsung oleh seseorang yang mempunyai otoritas atau kekuasaan. Dengan kata lain bahwa “pengulangan informasi dapat membuat suatu klaim terasa lebih benar, meskipun pengulangan tersebut tidak menjamin bahwa klaim itu benar (Hassan & Barber, 2021)”.

Dalam kehidupan modern sekarang, arus informasi dapat diakses tanpa batas ruang dan waktu. Misalnya, dengan smartphone, kita dengan cepat dapat mendapatkan ribuan informasi yang dibutuhkan. Bahkan, informasi tersebut dapat langsung dibagikan melalui berbagai platform media sosial dalam hitungan detik saja.

Namun demikian, kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial bukannya tanpa risiko. Informasi yang menyesatkan justru akan cepat menjangkau masyarakat dan tentunya hal ini akan mempengaruhi perilaku masyarakat itu sendiri. Misalnya, misinformasi tentang kesehatan, kesalahan dalam memahami hal tersebut akan mempengaruhi keputusan seseorang dalam tindakan pengobatan ataupun operasi, dan membuat masyarakat ragu terhadap vaksin sehingga dapat berakibat pada penundaan seseorang untuk mendapatkan layanan kesehatan yang sesuai (Wang et al., 2019; WHO Regional Office for Europe, 2022).

Hadirnya kecerdasan buatan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat juga menambah bentuk informasi yang beragam seperti gambar, teks, video, dan bentuk lainnya yang dapat dengan mudah dibuat oleh AI tersebut. Namun, di tengah banjirnya informasi yang ada, muncul satu pertanyaan: Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu benar?

Barangkali, untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut, kajian metode ilmiah masih sangat relevan untuk kita pertimbangkan dalam menghadapi arus informasi yang begitu masif menerpa kehidupan kita sehari-hari.

Berawal dari Rasa Ingin Tahu Berujung pada Pengetahuan

Dalam sejarahnya, manusia mendapatkan pengetahuan modern seperti saat ini, setelah jauh sebelumnya telah melalui tahapan atau proses yang panjang. Untuk bisa bertahan hidup di muka bumi, manusia mulai mencari jawaban dengan mengamati alam sekitarnya, mencoba mempertanyakan berbagai gejala yang muncul, sampai pada tahap mengembangkan ide atau gagasan, mencoba ide atau gagasan tersebut, serta mengamati pola yang muncul dan mencoba membuat prediksi. Bahkan prediksi tersebut diuji beberapa kali untuk mendapatkan suatu kenyataan atau fakta.

Singkatnya, kita sebagai manusia terus berusaha mencari dan mengembangkan pengetahuannya, tidak hanya berhenti pada pertanyaan “Apa yang dipercaya?”, tetapi justru bergerak maju ke pertanyaan yang lebih penting, yaitu “Apa buktinya?” Metode ilmiah sebenarnya lahir dari semangat tersebut.

Pada dasarnya, “Metode Ilmiah”, bukan sekadar serangkaian langkah yang melekat pada para ilmuwan atau hanya dipakai oleh peneliti di laboratorium. Metode ilmiah adalah cara berpikir. Di dalamnya ada proses keberanian untuk bertanya, mencari bukti, membuat prediksi, dan keterbukaan diri untuk menerima kemungkinan dugaan atau prediksi salah (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2009).

Sikap yang terakhir ini justru sangatlah penting karena kita sering kali ingin membuktikan bahwa dirinya benar. Padahal, dalam ilmu pengetahuan yang jauh lebih penting itu adalah seberapa jauh gagasan atau ide yang kita miliki dapat bertahan ketika diuji dengan bukti-bukti yang ada.

Discovery: Keberanian untuk Bertanya

Discovery, yang berarti penemuan, merupakan salah satu perkembangan metode ilmiah saat ini. Penemuan ini biasanya dimulai dengan pertanyaan “why”, tidak dimulai dengan jawaban. Misalnya, mengapa air laut asin? Mengapa tanaman ini menghasilkan lebih banyak buah, yang lainnya tidak berbuah sama sekali? Mengapa di Indonesia sering terjadi gempa bumi? Pertanyaan-pertanyaan ini seperti inilah yang kemudian mendorong manusia melakukan pengamatan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam konteks kehidupan modern saat ini, kemampuan untuk bertanya secara kritis merupakan hal penting untuk dilakukan. Ketika kita mendapatkan sebuah berita melalui media sosial, kita tidak langsung menerima berita tersebut atau hanya dengan bertanya “Apakah saya percaya dengan berita ini?” Hal pertama yang mestinya kita tanyakan adalah “Dari mana sumber berita tersebut? Atau dari mana informasi tersebut berasal?”. Kemudian munculkan pertanyaan berikutnya, seperti: Siapa yang menuliskan berita tersebut? Apa buktinya? Apakah berita tersebut disertai data dukung lainnya? Dan apakah berita ini masih relevan dengan kondisi sekarang atau justru sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan langkah-langkah penting dalam proses berpikir secara ilmiah.

Prediction: Masa Depan Tidak Selalu Pasti

Prediction atau prediksi dalam bahasa Indonesia, berbeda dengan ramalan. Sebuah prediksi dibuat berdasarkan pada data, pola, teori, dan bukti yang ada. Hasil prediksi kecenderungan tidak pasti (bisa benar, bisa juga salah). Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, seringkali kita menginginkan jawaban yang serba pasti. Sementara dalam ilmu pengetahuan, walaupun sudah menggunakan berbagai metode ilmiah, suatu peristiwa (misalnya saja gempa bumi) memiliki kemungkinan kapan akan terjadinya gempa tersebut (prakiraan probabilistik). Namun, untuk kepastian tanggal, waktu, dan lokasinya mungkin sulit untuk diprediksi (Geological Society of London, 2015).

Oleh karena itu, kita sering mendengar bahwa prediksi yang tidak terjadi sama sekali seperti yang diperkirakan, maka ilmu pengetahuan dianggap gagal. Padahal kita ketahui bersama bahwa ketidakpastian adalah bagian dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan tidak selalu berkata “Inilah yang pasti terjadi”, melainkan “Berdasarkan, fakta dan data yang kita miliki sekarang, inilah yang kemungkinan yang masuk akal yang akan terjadi” Cara berpikir seperti ini dapat membuat kita lebih realistis dalam menyikapi berbagai prediksi yang muncul dalam media sosial.

Confirmation: Tidak Semua yang Viral adalah Fakta

Konfirmasi adalah bagian penting dari metode ilmiah. Informasi atau gagasan yang ada, tidak bisa kita terima begitu saja hanya karena terdengar masuk akal. Informasi atau gagasan tersebut harus dapat diuji dan dibandingkan dengan bukti yang ada. Sayangnya, masyarakat digital kita cenderung bekerja dengan logika berbeda. Informasi yang mendapat banyak likes, comment dan di share ke berbagai platform media sosial dianggap benar.

Parahnya lagi pendapat yang diulang terus menerus bisa menjadi kebenaran dan dianggap semakin menyakinkan dirinya apalagi pendapat tersebut disampaikan oleh seseorang yang berpengaruh atau mempunyai kekuasaan. Padahal, popularitas karena viralnya informasi tersebut bukanlah bukti sebuah kebenaran. Viralnya sesuatu itu bisa jadi karena mengejutkan, menarik, atau menakutkan, di luar kewajaran, dan sebab lainnya, sehingga hal tersebut tidak serta merta menjadi suatu kebenaran.

Apalagi kalau informasi tersebut didapat dari hasil kecerdasan buatan, maka kita perlu memeriksa hasil informasi tersebut dengan kritis. Kita harus terus berkomitmen untuk bertanya, memeriksa, membandingkan dan mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut dengan bukti yang ada. Intinya, semakin canggih teknologi yang dapat menghasilkan informasi, maka kita juga harus semakin kritis dengan informasi yang dihasilkan tersebut. Memang teknologi membantu manusia mencari informasi, tetapi manusia harus bisa menentukan apakah informasi itu terpercaya atau hanya hoaks.

Oleh karena itu, masyarakat perlu diingatkan betapa pentingnya melakukan tindakan verifikasi atau konfirmasi informasi yang kita terima, sebelum kita membagikannya ke orang lain. Mulailah dengan mengajukan pertanyaan sederhana, seperti: Apa buktinya? Bagaimana bukti tersebut diperoleh? Apakah sumber lain mengonfirmasinya atau justru membantahnya?

Metode Ilmiah sebagai Sikap Hidup

Metode ilmiah dapat menjadi budaya berpikir masyarakat. Ia mengajarkan kita untuk tidak mudah menerima suatu informasi yang ada serta mengajarkan kita untuk tidak menolak informasi begitu saja. Ia mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Yang penting juga metode ilmiah barangkali juga mengajarkan kita tentang kesalahan; kesalahan itu bukanlah sesuatu yang memalukan melainkan tempat kita untuk dapat mengambil hikmah dibalik kesalahan tersebut, manusia dapat belajar dari kesalahan tersebut untuk memperbaiki pemahamannya, sikap dan perilakunya.

Pada akhirnya, di tengah kehidupan modern saat ini, kita tidak kekurangan dengan informasi, justru malah informasi membanjiri kehidupan kita. Oleh karena itu, kemampuan kita memilih dan memilah informasi yang ada menjadi suatu keharusan. Selanjutnya, sudah saatnya kita mengurangi penggunaan “Katanya” dalam interaksi kita, dan memperbanyak menggunakan pertanyaan“Apa buktinya?”, sebab dari “katanya” menuju “apa buktinya?” bukan sekadar perubahan cara berbicara. Ia adalah perubahan cara berpikir, dan mungkin, di tengah banjir informasi hari ini, cara berpikir itulah yang mungkin paling kita butuhkan.