Konten dari Pengguna

Godok Abui: Warisan Rasa dan Budaya dari Nagari Lubuak Tarok (Sijunjung)

Ilelli Putri

Ilelli Putri

Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama UIN Imam Bonjol Padang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilelli Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi Godok Abui (sumber Pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Godok Abui (sumber Pixabay.com)

Di tengah perbukitan yang asri dan udara yang sejuk di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, terdapat sebuah nagari yang menyimpan kekayaan budaya kuliner yang unik dan menggugah selera. Namanya nagari Lubuak Tarok, tempat asal dari sebuah makanan tradisional yang mulai langka namun kaya makna Godok Abui.

Godok Abui adalah sejenis maknan tradisional khas Minangkabau yang terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan pisang batu yang sudah matang, kemudian dibentuk bulat dan dimasak dalam santan yang mendidih. Adonan tersebut kemudian dicampur dengan santan yang sudah diberi gula dan garam, lalu dimasak hingga matang dan mengapung biasanya dibuat dalam porsi besar dan disajikan saat acara pernikahan atau hajatan lainnya.

Biasanya, proses pembuatan Godok Abui dilakukan sehari sebelum acara pernikahan ( pada malam Jum’at), dan disantap keesokan paginya di rumah gadang suku.

Godok Abui bukan sekedar makanan. Ia adalah identitas, kenangan, dan bagian dari sejarah lokal masyarakat Lubuak Tarok. Melestarikannya berarti menjaga warisan leluhur yang sarat nilai dan rasa.

Bagi para perantau Lubuak Tarok, mencicipi Godok Abui seperti mencicipi kampung halaman. Sebuah rasa yang sederhana namun dalam, mengikat hati pada tanah asal.

Di era yang serba cepat ini, menjaga budaya lokal seperti Godok Abui bukanlah hal yang mudah. Namun melalui edukasi, dokumentasi, dan kebanggan kolektif, kita semua bisa menjadi bagian dari pelestari warisan ini. Karena setiap makanan tradisional adalah cerita hidup dari sebuah komunitas dan Godok Abui adalah cerita indah dari Nagari Lubuak Tarok.