Saat Perempuan Lapar Kasih Sayang, Cinta Datang Sebagai Ilusi

Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama UIN Imam Bonjol Padang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ilelli Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua Perempuan pacarana karena cinta. Kadang, ada yang Cuma ingin dipeluk tanpa harus minta. Ada yang Cuma ingin didengar tanpa dihakimi. Dan ada juga yang cuma ingin merasa ada, karena di rumah sendiri pun dia serasa tak dianggap.
Aku sering melihat bahkan ngalamin sendiri bagaimana rasanya tumbuh jadi Perempuan yang “ kurang disapa”, bukan secara kata-kata, tapi secara rasa. Orang tua terlalu sibuk, terlalu cuek, atau bahkan terlalu keras. Kita belajar mandiri dari kecil, tapi sebenarnya kita hanya menyesuaikan diri, bukan karena kuat, tapi karena taka da pilihan.
Lama-lama, kita jadi terbiasa cara rasa aman di luar rumah. Dan itulah kenapa banyak Perempuan akhirnya mencari validasi lewat pacaran.
Menurut penelitian dari Universitas Airlangga tahun 2019, remaja Perempuan yang kurang mendapat perhatian dan afeksi dari orang tua menunjukkan kecenderungan lebih tinggi untuk menjalin hubungan romantis yang tidak sehat. Penelitian ini menemukan bahwa kurangnya hubungan emosional dengan keluarga meningkatkan resiko mencari pelampiasan emosi melalui pacaran meskipun hubungan itu toxic atau tidak stabil.
Data dari Jurnal Psikologi Universitas Indonesia (2021) juga mendukung hal ini. Studi tersebut mengungkapkan bahwa Perempuan dengan attachment yang tidak aman terhadap orang tua lebih rentan mengalami ketergantungan emosional pada pasangan. Mereka lebih sulit membedakan antara cinta dan kebutuhan perlindungan. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam hubungan tidak sehat, tapi tetap dipertahankan karena “ setidaknya ada yang peduli.”
Padahal yang dicari bukan cinta romantis. Tapi kehadiran. Kasih sayang yang mestinya datang dari orang tua, tapi tidak pernah benar-benar kita rasakan.
Mungkin banyak dari kita yang pernah ngerasa “ dilihat “ Cuma karna ada pencapaian. Sisanya? Seperti hantu di rumah sendiri. Jadi ketika ada laki-laki yang sekedar bertanya “ udah makan belum? “, rasanya langsung melting. Bukan karena dia spesial, tapi karena kita sudah kelaparan perhatian terlalu lama.
Terus apa solusinya?
Yang pertama, kita harus sadar: kebutuhan emosional itu valid. Tapi jangan salah tempat melampiaskannya. Pacaran bukan pelarian, bukan obat dari sepi. Kalau dasarnya luka, hubungan yang dibangun juga rapuh.
Yang kedua, penting banget untuk kenali pola attachment kita sendiri. Kalau memang merasa ada luka dari pola asuh orang tua, tidak apa-apa untuk mencari bantuan professional. Konseling bukan buat orang gila, tapi buat orang yang cukup waras untuk peduli sama diri sendiri.
Dan buat kita para perempuan: Kamu ngak perlu dicintai untuk merasa cukup. Kamu cukup karena kamu ada. Kamu pantas disayang, tapi jangan jadikan rasa kesepian sebagai alasan untuk menerima cinta yang salah.
