Konten dari Pengguna

Semua Orang Merasa Benar: Tapi Mana Kebenaran Yang Sesungguhnya?

Ilelli Putri

Ilelli Putri

Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama UIN Imam Bonjol Padang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilelli Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kebenaran (sumber pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kebenaran (sumber pixabay.com)

Kita hidup di zaman dimana setiap orang memiliki pendapat, dan bahkan merasa pendapatnya adalah yang paling benar. Di dunia yang semakin terhubung, semua orang bisa bicara dan semua orang merasa benar. Mulai dari obrolan WhatsApp keluarga, perdebatan politik di Twitter, sampai komentar netizen di YouTube, salah satu hal yang selalu muncul adalah: keyakinan bahwa pendapat sendirilah yang paling masuk akal.

“Kalau semua orang merasa benar, siapa yang benar sesungguhnya? Apakah kebenaran itu hanya soal sudut pandang?”

Ternyata, perasaan ini memang hal yang wajar terjadi, karena otak manusia memang “diprogramkan” untuk menyukai apa yang mendukung keyakinan sendiri.

Psikolog Daniel Kahneman, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow(2011), dimana disana dijelaskan bahwa kita cenderung mencari, mempercayai, dan mengingat informasi yang sejalan dengan apa yang sudah kita percayai sebelumnya. Sebaliknya, infomasi yang bertentangan sering kita abaikan, sangkal, atau anggap “tidak masuk akal”.

Sejak zaman Yunani kuno, para filsuf telah bertanya-tanya: apa itu kebenaran?

Plato dan Aristoteles percaya bahwa kebenaran itu ada, bersifat tetap, dan bisa ditemukan melalui logika dan akal sehat.

• Namun, postmodernisme dan pemikiran kontemporer mengusulkan bahwa tidak ada satu kebenaran tunggal. Kebenaran adalah soal perspektif.

Lalu, siapa yang benar?

Meski sulit, manusia tetap butuh standar untuk membedakan mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak.

Kita membutuhkan empat pendekatan utama:

1. Kebenaran Logis, sesuatu dianggap benar hukum logika, tidak bertentangan, dan bisa dibuktikan secara rasional.

2. Kebenaran Empiris, kebenaran berdasarkan pengalaman dan pengamatan.

3. Kebenaran Konsensus, dalam masyarakat, ada banyak kebenaran yang disepakati bersama dengan keteraturan misalnya hukum, adat dan etika. Tapi ini bisa berubah tergantung zaman dan budaya.

4. Kebenaran Pribadi atau Eksistensial, kebenaran yang hanya bisa ditemukan lewat pengalaman pribadi, pencarian makna, dan krisis batin. Ini bukan fakta umum, tapi tetap sah untuk seseorang.

Apakah semua kebenaran itu relatif ? Di satu sisi, menghargai sudut pandang dan pendapat orang lain itu penting. Tapi kalau semua hal dianggap relatif, tidak ada lagi cara untuk membedakan fakta atau hoaks.

Kita tidak akan selalu benar, dan itu tidak apa-apa. Justru pengakuan bahwa kita bisa salah adalah awal dari kita berfikir kritis.

Merasa benar itu manusiawi.

Tapi mencari kebenaran meskipun menyakitkan, melelahkan, dan kadang bertentangan dengan keyakinan itulah yang bisa membuat kita tumbuh menjadi lebih baik.

“Orang bodoh yakin dia tahu segalanya. Orang bijak tahu bahwa dia masih harus tetap belajar.”

Setiap orang berjalan dengan bendera “benar” ditangannya, namun kebenaran sejati tidak memihak kepada siapapun ia hanya menunggu pada mereka yang mau menunduk, bertanya dan mendengar.