Tidak Pernah Diajari Gagal, Tapi Disuruh Tangguh

Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama UIN Imam Bonjol Padang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilelli Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sekolah, kita diajari cara menghitung cepat, membuat puisi, membaca puisi, menulis esai, atau bahkan hal-hal sulit lainnya. Tapi, ada satu hal penting yang tidak pernah diajarkan: cara menghadapi kegagalan.
Lucunya, begitu kita lulus sekolah, dunia nyata langsung memberikan “ujian praktik”. Banyak kegagalan yang didapatkan seperti: gagal masuk kampus Impian, gagal lolos selelsi kerja, gagal dalam hubungan, dan bahkan gagal ,menghadapi diri sendiri.
Miris bukan? Kita hidup dalam sistem Pendidikan yang membanggakan prestasi, tapi menghindari pembicaraan soal jatuh dan gagal.
Dalam banyak system Pendidikan termasuk di Indonesia budaya “anti gagal” begitu kuat. Siswa diajar untuk: Tidak boleh salah menjawab, Takut nilai jelek, Takut dimarahi guru atau orang tua, Berlomba ranking tinggi demi validasi sosial.
Padahal, sistem Pendidikan yang terlalu berfokus pada hasil justru membuat siswa cenderung menghindari tantangan. Mereka lebih memilih aman dan bermain selamat agar tidak gagal, bukan belajar dari kesalahan.
Pendidikan kita, baik formal maupun di rumah, masih lebih sibuk memoles “anak sukses” daripada membekali anak Tangguh.
Anak pintar diangkat tinggi-tinggi, anak gagal ditekan, bahkan dipermalukan.
Padahal, seperti kata penulis Pendidikan “ Sir Ken Robinson:
“Kalau kamu tidak siap untuk gagal, kamu tidak akan pernah menemukan hal yang orisinal.”
Sekolah mestinya jadi ruang katihan hidup. Di dakamnya, anak-anak seharusnya belajar bahwa gagal itu bukan akhir cerita, melainkan awal dari pembelajaran baru.
Sebab dunia nyata tidak memberi raport, tapi memberikan tantangan. Dan satu-satunya bekal paling kuat adalah mental yang siap jatuh dan bangkit kembali.
“Lebih baik gagal di usia muda dalam ruang yang aman, daripada tidak pernah gagal dan rapuh saat dewasa.”
