Mahasiswa KKN Undip Sulap Sampah Galon Jadi Ladang Bisnis di Desa Tragung

Mahasiswa Universitas Diponegoro
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilham Ahmad Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kabupaten Batang, 4 Agustus 2024 – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2023/2024, mahasiswa FPIK, khususnya Ilham Ahmad Riyadi, berhasil mengajak warga Desa Tragung dengan inisiatif memanfaatkan sampah galon bekas menjadi media budidaya ikan lele dan tanaman hidroponik.
Pada Minggu, 4 Agustus 2024, di depan mushola Al-Ittihad di Desa Tragung, Ilham dan rekan-rekannya menggelar sosialisasi dan demonstrasi secara langsung. Dengan ilmu yang dimiliki sebagai mahasiswa perikanan, Ilham menjelaskan mengenai teknik budidaya ikan lele yang tepat, mulai dari pemilihan bibit, persiapan kolam, pemberian pakan, hingga pengendalian penyakit. Tak hanya itu, ia juga berbagi pengetahuan tentang budidaya hidroponik, mulai dari pemilihan jenis tanaman, pembuatan larutan nutrisi, hingga pengaturan sistem irigasi.
"Sebagai mahasiswa perikanan, saya merasa terpanggil untuk berbagi ilmu dan memberikan solusi atas permasalahan lingkungan yang ada di desa ini," ujar Ilham. "Budidaya ikan lele dan hidroponik menggunakan galon bekas ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat."
Warga Desa Tragung yang hadir sangat antusias mengikuti sosialisasi. Mereka terlihat serius mendengarkan penjelasan Ilham dan tidak ragu untuk bertanya. "Saya baru tahu kalau budidaya ikan lele dan hidroponik bisa semudah ini," ujar salah satu warga. "Saya tertarik untuk mencoba di rumah."
Selain teori, para mahasiswa juga melakukan demonstrasi langsung pembuatan media tanam hidroponik dari galon bekas. Mereka menunjukkan cara memotong, melubangi, dan menyusun galon agar berfungsi sebagai wadah tanaman. Tak hanya itu, mereka juga menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan alat dan lingkungan sekitar untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Salah satu hal yang menarik dari sosialisasi ini adalah informasi mengenai waktu panen. Ilham menjelaskan bahwa dengan perawatan yang tepat, ikan lele dapat dipanen dalam waktu sekitar 2-3 bulan, sedangkan tanaman hidroponik seperti selada atau kangkung dapat dipanen setiap 2-3 minggu sekali. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi warga yang ingin mendapatkan hasil panen dalam waktu singkat.
Dengan adanya program ini, diharapkan Desa Tragung dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam pengelolaan sampah plastik dan pengembangan budidaya dan pertanian. Selain itu, program ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan dari hasil budidaya ikan lele dan tanaman hidroponik.
