Konten dari Pengguna

Soekarno dan teman kost nya

Ilham Beez

Ilham Beez

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilham Beez tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Soekarno dan teman kost nya
zoom-in-whitePerbesar

Soekarno dan Teman-teman Kosny

Daripada sebuah event, saya lebih tertarik mengapa event itu bisa terjadi, siapa yang menciptakan event tersebut, serta bagaimana prosesnya.

Sama seperti hari kemerdekaan Indonesia. Saya tahu ini hari penting. Namun, daripada saya memfokuskan di hari-H kemerdekaan, saya lebih menyoroti siapa saja yang terlibat, pihak mana yang merencanakan kemerdekaan, dan bagaimana proses kemerdekaan itu bisa terjadi.

Tetiba, pandangan saya meloncat ke masa awal 1900-an, saat Raja Tanpa Mahkota tengah berpidato dengan penuh wibawa. Ia dikintili oleh seorang anak muda yang belajar politik serta orasi darinya.

Kelak, orang-orang yang sempat hadir pada masa itu mengenang bahwa gaya orasi si anak kecil mirip sekali dengan gurunya. Raja Tanpa Mahkota tersebut adalah gelar untuk Tjokroaminoto, sedangkan anak kecil yang mengintilinya terus adalah Kusno. Yup, itu adalah nama akrab Soekarno dari teman-teman terdekatnya.

Dari seluruh timeline kehidupan Soekarno, saya pribadi paling tertarik pada fase saat Soekarno tinggal di asrama milik Tjokroaminoto.

Bayangkan seperti ini. Sekumpulan anak muda cerdas dan peka tinggal bersama. Mereka dimentor oleh salah satu tokoh politik paling ternama di zamannya. Level Tjokroaminoto tidaklah main-main. Ia mampu membangkitkan Sarekat Islam ke masa jayanya dengan perkiraan anggota sebanyak 2 juta orang. Itu tahun 1900 awal, lebih dari 100 tahun lalu, ketika Facebook Ads belum ada untuk membuat sesuatu menjadi viral. Sampai-sampai ia dijuluki Raja Tanpa Mahkota.

Alkisah, sejauh yang saya tahu, saat itu Soekarno remaja dititipkan oleh ayahnya di tempat Tjokroaminoto. Sebab, keluarga Pak Tjokro adalah teman dari keluarga Soekarno. Selama mondok di rumah Pak Tjokro lah, Kusno bertemu dengan pelbagai tokoh bangsa dan rekan seperjuangan.

Rumah itu begitu magis. Ia menjadi tempat belajarnya para tokoh yang masih remaja tanggung. Di sana lah Soekarno bertemu dengan Muso, Alimin, Kartosoewirjo, sampai Tan Malaka. Mereka adalah kawan sejawat, teman sepermainan. Saya membayangkan mereka seperti remaja masa kini, bandel tak tertahankan, tapi juga cerdas alang kepalang.

Suatu ketika mereka duduk serius mendengarkan petuah Pak Tjokro tentang kondisi Indonesia, momen yang lain mereka bermain dan menciptakan keributan bersama, atau di saat yang lain mereka berkelahi memperebutkan makanan.

Kelak, ketika Soekarno sudah menjadi presiden, ia menulis buku autobiografi. Di buku itu, penulisnya Cindy Adams menulis momen manis yang Kusno ingat. Tiap malam, demi berlatih kemampuan orasinya, Kusno berteriak-teriak dan berpidato di depan cermin di kamarnya hingga tengah malam. Kalau Kusno sudah bertingkah begitu, kawan-kawan kosnya seperti Alimin dan Muso tertawa-tawa sendiri karena mendengarkan suara Kusno yang cempreng.

Bahkan, menurut informasi (kalau tidak salah) dari Fadli Zon yang menemukan album foto hukuman mati nya Kartosoewirjo, saya menemukan sebuah fakta unik. Ketika meneken hukuman mati kepada Kartosoewirjo tersebab pemberontakannya di DI/TII, Soekarno menandatanginya dengan air mata berderai.

Bagaimanapun, "Abang Kartosoewirjo" adalah teman kosnya dahulu, teman yang sama-sama melewati masa muda bersama, kadang berbaikan dan kadang berkelahi.

Dan memang begitulah. Saya dibuat takjub oleh rumah Pak Tjokro di jalan Peneleh itu. Betapa baik cara Pak Tjokro mendidik para anak muda itu sampai mereka beranjak dewasa, mereka memiliki jalan mereka masing-masing.

Walaupun murid-murid Pak Tjokro saling bersilangan jalan, saya lebih melihatnya kepada keberhasilan Pak Tjokro dalam mendidik mereka. Mereka, para murid Pak Tjokro, mampu menyerap ilmu Pak Tjokro, memahami, kemudian mengolahnya, dan meracik ulang dengan jalan hidup yang mereka pilih. Mereka tidak mengekor. Masing-masing murid melangkah dengan pasti bersama dengan keyakinan yang mereka pilih. Dalam konteks perjalanan bangsa Indonesia, itu memberikan pengalaman dan sejarah kepada kita semua.

Pun dari inspirasi Rumah Peneleh milik Pak Tjokro, sekarang banyak sekali program yang mengumpulkan anak-anak muda terbaik di dalam satu atap rumah untuk kemudian dibina dan saling dipersaudarakan.

Mereka ini yakin bahwa di masa depan, anak-anak yang pernah punya kenangan manis tinggal bersama, akan mempermudah kolaborasi mereka di masa depan saat mereka sudah jadi orang. Akhirnya, dari potensi kolaborasi yang semakin terbuka, potensi Indonesia semakin maju pun akan tambah terbuka.

Buat diri kita semua, jangan remehkan kekuatan sahabat. Kata sebuah hasil penelitian, 5 orang terdekatmu mendefinisikan siapa dirimu. Jadi, bersahabatlah dengan orang-orang yang tepat. Kalau saat ini tidak ada orang seperti itu di lingkunganmu, carilah. Kenalan dengan mereka, bersahabatlah dengan mereka, belajarlah dari mereka, dan kalau memungkinkan, tinggal lah bersama mereka.

Siapa tahu, dengan saling kolaborasi dan rivalitas dengan sahabat-sahabat satu atapmu, kalian semua bisa berperan besar nanti di masa depan, turut mengantar negeri ini menuju Indonesia Emas 2045.

Iya, seperti Kusno dan teman-teman satu kosannya.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!

#wahyuawaludin