In Memoriam Lieus Sungkharisma: Perginya Sang Aktivis Tanpa Jeda

Konten dari Pengguna
25 Januari 2023 9:13
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ilham Bintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
zoom-in-whitePerbesar
Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
ADVERTISEMENT
Saya terakhir bertemu aktivis tanpa jeda ini 5 Oktober 2022 lalu. Kami sama-sama menghadiri diskusi politik yang diselenggarakan media portal Inilah.com di sebuah Cafe di Blok M Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
Pembawa acara talkshow saat itu Rahma Sarita menampilkan pembicara utama Eep Saefullah Fatah dan Rocky Gerung. Namun, saya dan Lieus Sungkharisma juga diminta Rahma sebagai penanggap.
Selesai diskusi kami melanjutkan kongko lepas kangen sambil menikmati kopi dan penganan yang dihidangkan tuan rumah, wartawan senior, Muchlis Hasyim.
Berbeda dengan penampilan umumnya di depan publik, hari itu Lieus lebih banyak tertawa lepas. Dokumentasi foto hari itu memperlihatkan suasana gembira tersebut.

Aktivis Asli

Ilham Bintang bersama Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
zoom-in-whitePerbesar
Ilham Bintang bersama Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
Lieus Sungkharisma asli aktivis tanpa jeda. Paling tidak sejak kami berkenalan pertengahan tahun 80-an posisinya tetap seperti apa adanya sekarang. Momen perkenalan kami waktu Lieus bersama Eros Djarot gencar mengkritisi dugaan praktik monopoli dunia perfilman di Tanah Air.
Selasa (24/1) malam datang kabar duka mengenai Lieus yang mendapat serangan jantung.
ADVERTISEMENT
Lieus sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Pondok Indah, Jalan Boulevard Bintaro Jaya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.
Namun, jiwanya tidak tertolong. Ia meninggal dunia dalam usia 63 tahun.
Ilham Bintang bersama Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
zoom-in-whitePerbesar
Ilham Bintang bersama Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
Sebagai aktivis Lieus sangat menonjol bukan hanya karena sikap dan keberaniannya frontal menentang praktik penyimpangan penguasa. Tetapi juga karena ia keturunan Tionghoa.
Jarang, kalau tak mau dikatakan tidak ada sama sekali aktivis Tionghoa secemerlang dia dari etnik Tionghoa. Dia bahkan lebih Islami dibandingkan orang Islam.
Tahun lalu ketika mengetahui ada penentangan pembangunan masjid dari kalangan etnik Tionghoa di kompleks perumahan kami, dia langsung terjun ke lapangan. Lieus menghujat penentang sebagai pihak yang tidak tahu diri dan intoleran.
Saat bertemu di acara diskusi Inilah.com air mukanya berseri mengucapkan selamat atas keberhasilan pembangunan Masjid At Tabayyun di kompleks Taman Villa Meruya.
Ilham Bintang bersama Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
zoom-in-whitePerbesar
Ilham Bintang bersama Lieus Sungkharisma. Foto: Ilham Bintang
Lieus selalu tampil menyuarakan kebenaran di hampir berbagai kasus ketimpangan di negeri ini. Baik kesenjangan sosial, ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
ADVERTISEMENT
Ia sudah berkali-kali merasakan penangkapan dan penahanan oleh pihak yang berwajib. Dari rezim pemerintahan Soeharto hingga pemerintahan Jokowi.
Namun itu tidak membuatnya berhenti. Kelak yang betul-betul membuatnya bisa berhenti hanya Tuhan melalui serangan jantung semalam.

Coverstory Tabloid Cek&Ricek

Tabloid Cek & Ricek Foto: Dok Cek & Ricek
zoom-in-whitePerbesar
Tabloid Cek & Ricek Foto: Dok Cek & Ricek
Tabloid Cek&Ricek dengan coverstory tentang Hartati Murdaya baru beredar ketika saya mendapat informasi Lieus mengadu ke Polda Metro Jaya dengan membawa Tabloid C&R edisi itu.
Saya berpikir Lieus mungkin memprotes isu utama mengenai dugaan skandal asmara pengusaha tajir yang juga merupakan tokoh umat Buddha di Tanah Air.
Maklum, Lieus juga tokoh umat Buddha. Saya pertama kali mengenalnya sewaktu dia menjabat sebagai Ketua Umum Gemabuddhi, organisasi generasi muda Budhis pada tahun 1985.
ADVERTISEMENT
Saya mengontak Lieus. Tawanya pecah di balik ponsel.
"Terbalik, Boss," kata Lieus disertai suara derai tawa. Lieus kemudian bertandang ke kantor redaksi.
Lieus Sungkharisma usai menjenguk Ahmad Dhani di Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (27/12/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lieus Sungkharisma usai menjenguk Ahmad Dhani di Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (27/12/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Benar. Duduk perkaranya terbalik. Lieus ke Polda justru untuk melaporkan Hartati Murdaya atas dugaan telah mencemarkan nama kalangan umat Buddha di Indonesia.
Tabloid C&R dibawa ke kantor polisi, sebagai salah satu bukti untuk mendukung pengaduannya. Ada banyak lagi alasan yang mendasari ia mengadukan Hartati Murdaya, seperti yang diceritakan ketika bertandang di kantor redaksi hingga berjam-jam.
Lieus Sungkharisma (Nama Tionghoa: Li Xue Xiung) lahir 11 Oktober 1959. Menurut catatan redaksi, Lieus pernah menjadi Ketua Umum Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI); Wakil Bendahara Depinas SOKSI (Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) periode 1986-1991; Ketua DPP AMPI (Angkatan Muda Pembaruan Indonesia) dan DPP KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia); Ketua Umum Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabuddhi) pada tahun 1985.
ADVERTISEMENT
Ia juga pernah menjadi Ketua Perhimpunan Pengusaha Tionghoa DKI Jakarta dan Ketua Umum Multi Culture Society, sekaligus Wakil Presiden The World Peace Committee. Lieus mengelola tabloid bernama Naga Post dan belakangan punya podcast, saluran digital untuk menyampaikan pendapat dan kritik merespons ketimpangan.
Presiden Joko Widodo berkunjung ke Manado Town Square, Manado, Kamis (19/1/2023).  Foto: Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo berkunjung ke Manado Town Square, Manado, Kamis (19/1/2023). Foto: Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden
Lieus mengaku sebagai pendukung Joko Widodo pada pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, namun kemudian menjadi pendukung Prabowo Subianto pada pemilihan umum Presiden Indonesia 2019.
Lalu, menjadi pendukung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni pada pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2017. Selain itu, Ia adalah salah satu dari pendukung Jusuf Kalla-Wiranto pada Pemilihan umum Presiden Indonesia 2009.
Pernah dalam suatu kesempatan saya tanya, mengapa dia tampak menyempal sendiri dari kebanyakan turunan Tionghoa yang diam dan lebih memilih menekuni dunia usaha saja.
ADVERTISEMENT
Sama sekali seperti haram terlibat di dunia politik apalagi menjadi aktivis seperti Lieus? Jawabnya singkat saja.
"Sebab hidup bukan hanya untuk mengurus diri sendiri saja dan keluarga. Ada banyak lagi kewajiban bagi orang yang diberi hidup," pungkasnya.
Selamat jalan kawan. Istirahatlah dengan tenang.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020