Opini & Cerita
·
20 Juli 2019 11:36

Mengenang Mas Wendo

Konten ini diproduksi oleh Ilham Bintang
Mengenang Mas Wendo (147921)
Keluarga almarhum Arswendo Foto: Ilham Bintang
Catatan Ilham Bintang
Budayawan dan wartawan senior Arswendo Atmowiloto wafat di rumahnya pada pukul 17.40 WIB, Jumat (19/7). Di usia 70 tahun, mendiang meninggalkan seorang istri, tiga anak, dan enam cucu. Juga, tentu seluruh penggemar karya-karyanya. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.
ADVERTISEMENT
Penghormatan kepada mendiang tergambarkan pada ucapan duka cita di media sosial, media pers televisi, dan online, tidak lama setelah berita wafatnya diumumkan keluarga. Di kompleks rumah duka, tampak ratusan kembang ucapan belasungkawa dari pelbagai lapisan masyarakat. Mulai dari Presiden Jokowi, Menteri Susi Pudjiastuti, seluruh penerbit media pers, stasiun televisi, kalangan perfilman, dan pengurus PWI Pusat.
Tiara, anak ketiga mendiang Arswendo Atmowiloto, bercerita sudah satu tahun setengah mendiang ayahnya divonis kanker prostat. Sejak itulah, Arswendo mengikuti berbagai terapi pengobatan medis.
“Tapi ayah tetap beraktivitas seperti biasa. Baru awal Mei lalu kondisinya memburuk. Beberapa kali dirawat di RS. Dua minggu lalu pulang ke rumah. Kemarin sore dipanggil Tuhan, “ kisah Tiara di rumah duka Kompleks Kompas, Jalan Damai Petukangan, Jakarta Selatan, Sabtu (20/7).
ADVERTISEMENT
Ketika Tiara bercerita, ia didampingi ibu, saudara, dan cucu. Di samping peti jenazah, mereka berkumpul, berseragam putih, menunggu jenazah diberangkatkan menuju Gereja St. Matius Penginjil di Paroki Bintaro, Pondok Aren. Selesai misa, rencananya jenazah akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di Sandiego Hills, Karawang.
Mengenang Mas Wendo (147922)
Arswendo pada Keluarga Cemara Foto: Munady Widjaja
Arswendo Atmowiloto lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948. Nama aslinya adalah Sarwendo, dengan nama baptis Paulus. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan pop. Lalu, di belakang namanya itu ditambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
Arswendo mulanya beragama Islam, namun berpindah agama menjadi Katolik mengikuti agama sang istri. Kakaknya, Satmowi Atmowiloto, adalah seorang kartunis.
Arswendo pernah kuliah di IKIP Solo tapi tidak tamat. Pernah juga memimpin Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, di Solo (1972). Tahun 1979, ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Ia mengawali karier sebagai penulis dan wartawan yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar Indonesia, seperti Hai dan KOMPAS. Tak sekadar wartawan biasa, di Hai, Monitor, dan Senang, ia mengampu jabatan sebagai pemimpin redaksi. Ratusan karya tulis juga telah diciptakannya, mulai dari cerpen, novel, naskah drama, dan skenario film.
Dalam karya-karyanya, tidak jarang dia menggunakan nama samaran. Untuk cerita bersambungnya, 'Sudesi (Sukses dengan Satu Istri)', di harian KOMPAS, ia menggunakan nama Sukmo Sasmito. Untuk 'Auk' yang dimuat di Suara Pembaruan, ia memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng yang ia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah Said Saat dan B.M.D Harahap.
Arswendo pernah mengelola tabloid Bintang Indonesia dan berhasil menghidupkan tabloid itu. Namun, Arswendo hanya bertahan tiga tahun, lalu mendirikan perusahaan sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 1990, ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena tabloid itu memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad saw yang terpilih menjadi tokoh nomor 11.
Sebagian masyarakat muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai divonis hukuman lima tahun penjara.
Makan Nasi Padang dengan Pisang
Perkenalan saya dengan Arswendo terjadi lebih 30 tahun lalu. Saya saat itu adalah salah satu Ketua Panitia Tetap Festival Film Indonesia yang berkantor di Gedung Dewan Film Nasional.
Suatu siang, dia datang menemui saya di ruang kerja untuk mengobrol. Pas makan siang, saya sajikan Nasi Rames Padang. Ia terkejut ketika saya mencampur sebuah Pisang Ambon ke dalam nasi rames itu, hingga berhenti menyuap.
ADVERTISEMENT
Itu menarik perhatian dia rupanya. Ia bertanya makan gaya apa itu? “Gaya Bugis,” saya jawab sekenanya sambil terkekeh.
"Serius?" tanyanya lagi. Rupanya dia serius. Sambil ikut terkekeh. Khas Arswendo.
“Iya kebiasaan makan di keluarga saya,” sahut saya sambil terus bersantap.
“Oke. Saya boleh muat yah untuk tabloid?” responsnya. Ia akhirnya memang menuliskan kisah nasi rames dicampur pisang itu dalam rubrik persona di tabloid Monitor yang amat populer masa itu. Itu saya ingat sebagai perkenalan dengan Mas Wendo--sapaan saya untuknya.
Hari-hari selanjutnya, kami sering kontak untuk urusan dunia perfilman dan sinetron. Ia sering kami libatkan sebagai narasumber untuk aturan festival dan sinetron, juga pers. Juga sebagai juri.
Mas Wendo memang mengagumkan. Saya belum ketemu lagi penulis dan wartawan seproduktif dia. Sampai usianya lanjut pun dia tetap representasi kaum muda. Bukan cuma tampilan fisiknya yang bergaya kekinian. Rambut gondrong, celana jeans, dan sendal jepit.
ADVERTISEMENT
Bersama Arswendo dan Margiono—owner Rakyat Merdeka Group—kami pernah merencanakan kolaborasi, yaitu menerbitkan sebuah tabloid baru yang sifatnya umum. Pertemuan kami intensif. Beberapa kali, dia mengunjungi kantor Tabloid C&R untuk urusan itu.
Namun, rencana itu tak pernah terwujud. Akibat dari kesibukan masing- masing pihak yang ingin berkolaborasi. Padahal, sesuai rencana, tabloid itu akan menjadi trend setter baru di dunia pers.
Di rumah duka Sabtu pagi (20/7), saya memandangi wajah Arswendo yang tenang. Ia telah kembali kepada pencipta-Nya. Selamat jalan, kawan.