Menjelajahi Parepare, Berwisata sekaligus Bernostalgia

Tulisan dari Ilham Bintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Ilham Bintang
Inilah Parepare. Kota yang amat saya akrabi pada masa kanak-kanak. Dikenal pula sebagai kota pelabuhan kedua terbesar di Sulawesi Selatan, setelah Kota Makassar.
Orang tua saya dulu memang kerap mengajak saya liburan ke Parepare. Bahkan beberapa kali, saya pernah ke sana sendirian dengan naik bus. Selain itu, keluarga kami memang banyak yang tinggal di Pare-Pare. Makanya, kami bisa betah liburan hingga seminggu lamanya di sana.
Dalam rangka bernostalgia, saya mengajak keluarga saya menempuh perjalanan pergi-pulang Makassar-Parepare pada Sabtu hingga Minggu (8-9 Juni 2019).
Bukan hanya laut dan perbukitan menjadi daya tarik Parepare, kulinernya juga beragam. Ayah saya, almarhum Haji La Bintang, yang pernah bersekolah dasar di sana, sering menjadi 'guide' untuk menjelajah tempat-tempat kuliner. Paling favorit tentu saja nasi kuning, songkolo (ketan), dan sop burasa, serta aneka seafood kelas istimewa.
Di sepanjang perjalanan dari Makassar ke Parepare; sejak dari Maros, Pangkep, Segeri, hingga Barru; juga bertebaran beragam tempat kuliner khas. Di situ, Anda bisa menikmati penganan gogos dan telur asin, juga goreng cuwiwi—sejenis burung belibis.
Hal lain yang mengesankan adalah pemandangan alam saat menjelang masuk ke Kota Parepare. Pemandangan pantainya menyerupai pemandangan pantai di kota-kota ternama dunia. Mirip pantai Cannes di Prancis atau Wellington dan Queens Town di Selandia Baru. Malah menurut saya mirip Long Island di California, AS.
Kekurangannya satu, Pemda setempat kurang bisa mengemasnya, padahal bisa jadi potensi mendatangkan turis asing. Belum fokus ditangani, padahal amat potensial untuk menjadi sumber devisa negara.
Ada satu kawasan di Parepare yang cukup menjanjikan: “Tonrangeng River Side“ di pusat kota. Ini tampaknya baru dibangun. Pelatarannya dibangun menghadap laut tempat puluhan restoran dan kafe.
Sabtu malam (8/6), saya berkunjung ke sana. Sayang, semua restoran tutup karena semua karyawannya masih libur Lebaran. Padahal, musim libur Lebaran adalah kesempatan bagus promosi kepada wisatawan yang datang dari Makassar atau kota-kota/kabupaten di luar Parepare.
Malam itu, hanya ada dua kafe dari kontainer yang buka. Alhasil, beberapa pengunjung terpaksa hanya memanfaatkan tempat itu untuk berfoto-foto.
Selanjutnya, saya ingin sedikit mengulas tentang Kota Parepare itu sendiri.
Kota Parepare terletak di sebuah teluk yang menghadap ke Selat Makassar. Di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang, dan di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru. Meskipun terletak di tepi laut, tetapi sebagian besar wilayahnya berbukit-bukit.
Kota ini memiliki luas wilayah 99,33 kilometer persegi dan berpenduduk sebanyak ±140.000 jiwa. Salah satu tokoh terkenal yang lahir di kota ini adalah B. J. Habibie, Presiden Republik Indonesia ke-3.
Pada awal perkembangannya, perbukitan yang sekarang ini disebut sebagai Kota Parepare itu dahulunya adalah semak belukar yang diselang-selingi oleh lubang-lubang tanah yang agak miring sebagai tempat yang pada keseluruhannya tumbuh secara liar tidak teratur, mulai dari utara (Cappa Ujung) hingga ke jurusan selatan kota. Kemudian, dengan melalui proses perkembangan sejarah sedemikian rupa, dataran itu dinamakan Kota Parepare.
Wikipedia mengulas sejarah Parepare dari sumber Lontara Kerajaan Suppa. Dikisahkan, pada abad XIV, seorang anak Raja Suppa meninggalkan istana dan pergi ke selatan, lalu mendirikan wilayah tersendiri di tepi pantai karena memiliki hobi memancing. Wilayah itu kemudian dikenal sebagai Kerajaan Soreang, kemudian ada satu lagi kerajaan berdiri sekitar abad XV, yakni Kerajaan Bacukiki.
Kata 'Parepare' ditenggarai sebagian orang berasal dari kisah Raja Gowa, Manrigau Dg. Bonto Karaeng Tunipallangga (1547-1566), yang melakukan kunjungan persahabatan, berjalan-jalan dari Kerajaan Bacukiki ke Kerajaan Soreang. Sebagai seorang raja yang dikenal sebagai ahli strategi dan pelopor pembangunan, Raja Gowa tertarik dengan pemandangan indah di hamparan ini dan spontan menyebutnya 'Bajiki Ni Pare', yang artinya: (pelabuhan di kawasan ini) dibuat dengan baik”. Parepare ramai dikunjungi, termasuk oleh orang-orang Melayu yang datang berdagang ke kawasan Suppa.
Kata 'Parepare' punya arti tersendiri dalam bahasa Bugis, yakni bermakna 'kain penghias', kain yang digunakan di acara semisal pernikahan. Tentang hal ini dapat kita lihat dalam buku sastra lontara La Galigo yang disusun oleh Arung Pancana Toa Naskah NBG 188 yang terdiri dari 12 jilid yang jumlah halamannya 2851. Kata 'Parepare' terdapat di beberapa bagian, di antaranya pada jilid 2 hal [62] baris no. 30 yang berbunyi: "pura makkenna linro langkana PAREPARE" (KAIN PENGHIAS depan istana sudah dipasang).
Melihat posisi yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi oleh tanjung di depannya, serta memang sudah ramai dikunjungi orang-orang, maka Belanda pertama kali merebut tempat ini kemudian menjadikannya kota penting di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan. Di sinilah, Belanda bermarkas untuk melebarkan sayapnya dan merambah seluruh dataran timur dan utara di Sulawesi Selatan.
Balik lagi seputar Parepare masa kini. Ada banyak objek wisata menarik, seperti Sumur Jodoh Soreang, Goa Tompangeng, Desa Wisata Wattang Bacukiki, Salo Karajae, Museum Gandaria, Bendungan Lappa Angin, dan yang terbaru Monumen Cinta Habibie-Ainun.
42 tahun lalu, saya buat ulasan panjang soal Sumur Jodoh Soreang (di Harian Angkatan Bersenjata, 1977). Sumur air tawar itu berada di bibir laut. Saat air laut pasang pun, bahkan sampai menutupi permukaan sumur sekali pun, air sumur itu tetap tawar.
Masyarakat menganggapnya sebagai sumur ajaib. Sebagian percaya sebagai sumur jodoh. Cerita yang berkembang setelah berkunjung ke sana dan mandi dengan airnya adalah banyak pemuda-pemudi yang mengaku dapat jodoh.
Betulkah itu? Wallahualam. Satu hal yang kita percaya: jodoh itu di tangan Tuhan.
