Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Lestarikan Tradisi Midang di Desa Jatirejo

Ilham Faiqul Hakim Amrulloh

Ilham Faiqul Hakim Amrulloh

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilham Faiqul Hakim Amrulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi KKN UIN Walisongo Posko 115
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi KKN UIN Walisongo Posko 115

Tradisi Midang di Desa Jatirejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, tradisi ini mulai ditinggalkan dan hanya dijalankan oleh juru kunci serta beberapa warga luar desa. Melihat fenomena ini, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut berinisiatif untuk ikut melestarikannya.

Desa Jatirejo dikenal sebagai desa yang menyimpan dua situs peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Balai Panjang dan Masjid Baiturrahman. Tradisi Midang, yang digelar setiap 35 hari sekali atau tepat pada Jumat Legi dalam penanggalan Jawa, merupakan bentuk rasa syukur dan silaturahmi warga dengan cara berdoa bersama di Balai Panjang. Dalam pelaksanaannya, warga duduk mengelilingi tumpeng dan sesaji sambil melantunkan doa, menciptakan suasana sakral yang sarat nilai keagamaan.

Tradisi ini dipercaya berakar dari sejarah pembangunan Masjid Baiturrahman sekitar tahun 1450 M oleh Sunan Kalijaga. Balai Panjang dulunya menjadi tempat bermusyawarah sebelum pembangunan masjid, dan syukuran pertama digelar pada Jumat Legi usai masjid berdiri. Tradisi itu kemudian diwariskan secara turun-temurun sebagai wujud rasa syukur dan permohonan berkah kepada Allah SWT.

Namun kini, minat masyarakat lokal terhadap tradisi Midang semakin berkurang. Pergeseran budaya dan stigma negatif bahwa kegiatan ini mengarah pada kemusyrikan menjadi salah satu penyebab utama. Padahal, tradisi Midang sejatinya adalah sarana spiritual untuk berdoa kepada Allah SWT, bukan meminta kepada selain-Nya.

Melalui program kerja KKN Posko 115 tahun 2025, mahasiswa UIN Walisongo melakukan dua upaya utama:

1. Mengikuti secara langsung prosesi Midang di Balai Panjang pada hari Jumat Legi untuk memahami dan merasakan makna spiritual tradisi tersebut.

2. Mempromosikan tradisi Midang melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, guna mengenalkan kembali budaya ini kepada generasi muda yang cenderung lebih dekat dengan dunia digital.

"Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda, memahami bahwa Midang adalah bentuk syukur kepada Allah, bukan praktik musyrik. Justru nilai-nilainya sangat Islami karena mengajarkan doa, kebersamaan, dan pelestarian budaya," ujar salah satu mahasiswa peserta KKN.

Diharapkan, melalui pelibatan langsung dan pemanfaatan media digital, tradisi Midang dapat kembali dikenal dan dicintai masyarakat, serta tidak punah tergerus zaman.