Konten dari Pengguna

Mengapa Partisipasi Masyarakat dalam Dunia Politik Masih Dikategorikan Rendah?

Ilham Ramadhan

Ilham Ramadhan

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilham Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi partisipasi politik (sumber : canva)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi partisipasi politik (sumber : canva)

Partisipasi politik adalah suatu kegiatan seseorang ataupun kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan berpolitik, antara lain dengan jalan memilih pemimpin negara baik secara langsung maupun tidak langsung yang memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Salah satu contoh dari partisipasi politik yaitu seperti pemilihan presiden/wakil presiden, gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, serta walikota/wakil walikota. Hal ini terjadi karena wujud nyata dari negara yang menganut sistem demokrasi. Namun sebagian besar orang belum memiliki kesadaran politik yang tinggi, alasan mereka belum memiliki kesadaran politik yang tinggi diantaranya seperti sistem pendidikan yang masih dikategorikan rendah, sosialisasi yang kurang, dan anggapan bahwa dunia politik hanya perebutan kekuasaan saja, hal ini yang menjadikan masyarakat bersifat apatis dalam berpolitik.

Persoalan ini saya tulis karena dalam dunia politik masih banyak sekali masyarakat yang memiliki perspektif negatif mengenai partisipasi dalam dunia politik. Pertanyaan mengapa masih rendahnya partisipasi mayarakat dalam dunia politik? Karena masih banyak faktor-faktor penghambat yang mendorong masyarakat untuk enggan berpartisipasi dalam dunia politik, contohnya seperti para pemilih mulai merasakan jenuh dengan proses demokrasi yang tidak sesuai dengan harapan para pemilih.

Selain itu menurut pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang, mengatakan bahwa faktor rendahnya partisipasi politik pada setiap pemilih disebabkan karena adanya pemahaman bahwa “memilih merupakan sebuah hak, bukan kewajiban”. Kemudian ia juga mengatakan faktor lain yang menyebabkan rendahnya partisipasi politik adalah persepsi mengenai figur itu sendiri, programnya, dan kepentingannya. “Jika figur tersebut di perspeksikan secara negatif maka otomatis para pemilih tidak akan menggunakan hak politiknya”. Kata Atang.

Tidak hanya itu, pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Urbanus Hurek, ia berpendapat bahwa terdapat 3 faktor utama yang menyebabkan rendahnya partisipasi politik dalam setiap momen pemilihan umum diantaranya :

  1. Calon pemimpin yang diajukan dalam pesta demokrasi kurang berkenan di hati masyarakat.

  2. Para pemilih mulai merasakan jenuh dengan proses demokrasi lima tahunan yang tidak membawa dampak bagi kehidupan masyarakat.

  3. Lalu penyebab ketiga, ia menyatakan bahwa pemilihan umum baik itu Pilkada, Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tidak lagi dipandang rakyat sebagai sesuatu yang prioritas dalam membangun kehidupannya sehari-hari.

Perspektif saya mengenai persoalan ini bahwasannya kita sebagai warga negara yang hidup di negara demokrasi harus memaksimalkan partisipasi kita dalam dunia politik, sebab dalam sistem demokrasi kedaulatan berada pada tangan rakyat, oleh karena itu kita sebagai warga negara harus benar-benar memaksimalkan hak pilih kita sebagai warga negara dan pilihlah calon yang terbaik untuk kita semua.

Ilham Ramadhan, mahasiswa Pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta