Konten dari Pengguna

Budaya Hustle Semakin Populer di Kalangan Anak Muda, Justru Berbahaya?

Ilhar Sena

Ilhar Sena

Mahasiswa Sistem Informasi, Universitas Pamulang

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilhar Sena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang anak muda bekerja hingga larut malam ditemani laptop dan secangkir kopi. Foto ini merepresentasikan budaya hustle yang sering dikaitkan dengan produktivitas berlebihan dan tekanan untuk selalu sibuk. sumber: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Seorang anak muda bekerja hingga larut malam ditemani laptop dan secangkir kopi. Foto ini merepresentasikan budaya hustle yang sering dikaitkan dengan produktivitas berlebihan dan tekanan untuk selalu sibuk. sumber: unsplash

Istilah hustle culture semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Banyak anak muda merasa harus selalu produktif, memiliki banyak aktivitas, dan terus bekerja agar dianggap sukses.

Media sosial turut memperkuat pandangan tersebut. Konten tentang bangun pukul lima pagi, bekerja hingga larut malam, atau memiliki banyak sumber penghasilan sering kali dianggap sebagai standar baru kesuksesan.

Di satu sisi, semangat bekerja keras memang merupakan hal positif. Namun, masalah muncul ketika seseorang mulai merasa bersalah setiap kali beristirahat.

Tubuh dan pikiran memiliki batas kemampuan. Memaksakan diri untuk terus produktif tanpa memberi waktu istirahat justru dapat meningkatkan risiko stres, kelelahan, hingga burnout.

Produktivitas bukan berarti bekerja selama mungkin, melainkan mampu menyelesaikan pekerjaan secara efektif tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.

Kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat, tetapi dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan pribadi.