Konten dari Pengguna

Dosen UMY Paparkan Film Inklusi Difabel Netra di HfK Bremen Jerman

Ilmu Komunikasi UMY

Ilmu Komunikasi UMY

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Akreditasi Unggul, Sertifikasi Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mahasiswa. Muda Mendunia dengan Kompetensi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilmu Komunikasi UMY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dhimas Ananda saat presentasi riset di HfK Bremen (Dok: Priibadi)
zoom-in-whitePerbesar
Dhimas Ananda saat presentasi riset di HfK Bremen (Dok: Priibadi)

Dhimas Ananda. S.Sn., M.Sn Dosen Ilmu Komunikasi UMY sukses mempresentasikan proses riset mengenai film inklusi difabel netra pada Kamis (19/6) bertempat di Hfk Bremen Jerman.

Creating Cultural Dialogues Art and Design in Transcultural Context adalah kerjasama Indonesia dan Jerman yang didukung oleh Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) yang dilakukan pertama kalinya antara dua kampus negeri yaitu Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan University of the Arts Bremen.

Dalam kesempatannya, Dhimas yang juga mahasiswa program Doktoral ISI Yogyakarta menyampaikan rasa syukurnya dapat berpartisipasi dalam kolokium ini. “Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, dapat mengikuti kolokium di hadapan para profesor dengan sudut pandang eropa dimana teori-teori seperti Rancière dan Roland Barthes berasal. Khususnya pintu masuk dalam penelitian film inklusi difabel netra ini melalui komunikasi interpersonal yaitu equality yang didapatkan dari interview Prof. Dr. Suciati, S.Sos., M.Si sangat berguna dan bermanfaat.” ucapnya. Ia juga menyampaikan bahwa banyak masukan dari para profesor agar dapat memakai lebih banyak teori dari Asia daripada barat, karena teori-teori filosofer barat sendiri sudah mulai ditinggalkan di Jerman.

suasana kolokium di HfK Bremen (Dok: pribadi)

Prof. Dr. Friedrich Weltzien dari HS Hannover mengatakan penelitian film inklusi penting untuk dilanjutkan karena akan memiliki dampak yang baik. “Jangan sampai dalam proses penelitian film inklusi difabel netra ini, teman-teman netra merasa dieksploitasi dan merasa direndahkan sehingga proses inklusi menjadi diabaikan.” ucapnya.

Program ini akan berlangsung selama 14 hari yang dimulai dari 15 - 29 Juni 2025 terdiri dari kunjungan museum, festival, kota lama, kolokium, mengajar mahasiswa program sarjana dan master kemudian diakhiri dengan pameran.

Peluang-peluang pertukaran internasional seperti ini sebaiknya terus dilakukan baik oleh individu dan dukungan universitas, untuk memperkaya pengalaman dosen, mahasiswa dan meningkatkan kerjasama internasional baik secara individu maupun institusional.