Konten dari Pengguna

Etika Jurnalistik di Era Viralitas, Ilmu Komunikasi UMY Hadirkan KPI Pusat

Ilmu Komunikasi UMY

Ilmu Komunikasi UMY

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Akreditasi Unggul, Sertifikasi Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mahasiswa. Muda Mendunia dengan Kompetensi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilmu Komunikasi UMY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Evri Risqi Komisoner KPI Pusat dalam penyampaian materi (Dok: pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Evri Risqi Komisoner KPI Pusat dalam penyampaian materi (Dok: pribadi)

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar kuliah umum bertajuk “Menjadi Jurnalis dan Penyiar yang Beretika di Tengah Tekanan Rating dan Viralitas” pada Rabu (29/10) di Ruang Sidang, Gedung AR.B Lantai 5, Kampus Terpadu UMY. Menghadirkan Evri Rizqi Monarshi, M.Sos Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dan Dr. Senja Yustitia Ketua Program Magister Media dan Komunikasi UMY serta dimoderatori oleh Ine Yudhawati, M.I.Kom. dosen Ilmu Komunikasi UMY.

Dalam pemaparannya Evri Rizqi Monarshi, menegaskan bahwa integritas dan etika jurnalistik menjadi fondasi utama di tengah tekanan viralitas dan rating yang kian mendominasi lanskap media digital. Ia menjelaskan bahwa persaingan media konvensional dengan platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram telah memunculkan “kultus viralitas”, di mana ukuran kesuksesan jurnalis bergeser dari kualitas informasi menjadi seberapa cepat dan viral sebuah berita.

“Tekanan rating dan viralitas sering kali menggoda jurnalis untuk mengorbankan akurasi dan objektivitas demi perhatian publik,” ujarnya.

Dengan menyoroti sejumlah dilema etika, mulai dari praktik clickbait, plagiarisme, hingga eksploitasi isu pribadi. Evri Rizqi Monarshi mengingatkan bahwa kecepatan publikasi tidak boleh mengalahkan verifikasi fakta. “Kecepatan penting, tapi akurasi adalah tanggung jawab moral,” tegasnya.

Evri Rizqi Monarshi juga memaparkan strategi bagi media untuk tetap relevan tanpa kehilangan integritas. Media perlu mengintegrasikan platform digital, menghadirkan konten visual interaktif, serta memperkuat literasi media di tengah maraknya hoaks dan disinformasi.

Selain itu, Evri menekankan pentingnya pelatihan etika berkelanjutan bagi jurnalis serta regulasi adaptif yang dapat mengikuti perkembangan teknologi tanpa membatasi kebebasan pers.

“Etika bukan sekadar pilihan moral, tapi strategi bertahan di era digital. Kredibilitas dibangun setiap hari melalui laporan yang akurat dan transparan,” pungkasnya.

Dr. Senja dalam penyampaian materi Dislokasi Berita (Dok: pribadi)

Materi kedua dijelaskan oleh Dr. Senja Yustitia dengan memaparkan materi bertajuk “Dislokasi Berita, Dislokasi Kekuasaan.” Ia mengulas bagaimana relasi kuasa dalam industri media modern mengalami pergeseran, terutama ketika algoritma dan platform digital kini lebih dominan mengatur arus informasi ketimbang ruang redaksi.

Melalui kuliah umum ini, Dr. Senja mengajak mahasiswa untuk memahami kembali peran media sebagai ruang demokratis yang berpihak pada publik. Ia juga mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen konten, melainkan turut berperan aktif dalam membangun ekosistem media yang kritis dan beretika.

Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya Prodi Ilmu Komunikasi UMY dalam memperkuat literasi media dan etika profesi jurnalistik di tengah gempuran digitalisasi dan budaya viral.