Tiga karya DIKSAR FOTKA 053 Sorot Pesona & Perjuangan Seniman Tradisional

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Akreditasi Unggul, Sertifikasi Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mahasiswa. Muda Mendunia dengan Kompetensi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilmu Komunikasi UMY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yogyakarta – Pameran Pendidikan Dasar (DIKSAR) ke-15 yang digelar oleh komunitas fotografi FOTKA 053 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tak hanya menjadi wadah eksplorasi visual, tetapi juga berhasil menampilkan tiga karya terbaik yang memukau pengunjung dan dewan juri. Dari puluhan karya yang dipamerkan, tiga di antaranya berhasil mencuri perhatian lewat kekuatan narasi dan kedalaman visual yang ditampilkan. Ketiga pemenang ini menunjukkan bahwa fotografi bukan sekadar menangkap gambar, tetapi juga merangkai cerita dan memperlihatkan sisi kemanusiaan dari para pelaku seni tradisional.
Juara pertama diraih oleh Riskawati Pratiwi yang mengangkat kisah seorang pengrajin andong di Yogyakarta. Dalam karyanya yang berjudul “Perjuangan Melestarikan Warisan”, Riskawati menampilkan potret seorang pengrajin roda andong. Melalui fotonya, penonton diajak melihat bagaimana warisan transportasi tradisional ini bertahan di tengah gempuran modernitas. “Saya ingin orang mengenal lebih dekat sosok di balik andong yang biasa mereka lihat di Malioboro. Elemen-elemen dari andong bahkan sekadar rodanya saja memerlukan pengrajin agar hasilnya sesuai fungsi dan memiliki sisi estetika,” ujarnya.
Posisi juara kedua ditempati oleh Fadilah Ramdani dengan karya bertajuk “Merajut Tradisi”. Ia memotret kain tenun dengan mesin tradisionalnya. Fadilah berhasil menangkap detil kain, tiap helai benang yang dirapatkan. Narasi yang mengiringi karyanya menyoroti bagaimana proses menenun tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga dedikasi tinggi untuk menjaga agar seni tenun tidak hilang dari generasi muda. “Saya ingin menunjukkan bahwa apa yang terlihat sederhana, sesungguhnya menyimpan perjuangan yang luar biasa,” katanya.
Sementara itu, juara ketiga diraih oleh Muhammad Huda Lil Muttaqin dengan karyanya yang menyoroti keindahan payung lukis khas Klaten. Dalam karyanya, Huda menampilkan visual yang memikat yaitu proses pewarnaan. Karya tersebut disertai narasi yang menjelaskan bagaimana seni melukis payung telah menjadi bagian penting dari identitas budaya lokal. “Payung lukis bukan hanya barang hiasan, tapi juga hasil dari proses kreatif yang sangat panjang dan penuh kesabaran,” ungkap Huda.
Ketiga karya ini tidak hanya mengangkat sosok dan karya para seniman tradisional, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai perjuangan dan kecintaan terhadap budaya lokal yang mulai tergerus zaman. Melalui pendekatan fotografi yang jujur dan narasi yang kuat, para pemenang DIKSAR FOTKA 053 membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi jembatan penting dalam menjaga dan mengenalkan kembali warisan budaya Indonesia kepada publik yang lebih luas.
