Tim PKM UMY Teliti Fenomena Kesepian Gen Z di TikTok lewat Kajian Hiperrealitas

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Akreditasi Unggul, Sertifikasi Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mahasiswa. Muda Mendunia dengan Kompetensi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilmu Komunikasi UMY tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yogyakarta, 2 Agustus 2024 – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) meraih pendanaan dari Ditjen Dikti Ristek Kemendikbud RI 2025. Mengusung topik “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Kajian Hiperrealitas Audiovisual”, riset ini menyoroti maraknya ekspresi kesepian di TikTok yang dialami generasi Z, dengan pendekatan studi media, literasi digital, dan teori hiperrealitas Baudrillard.
Tim riset ini beranggotakan lima mahasiswa diantaranya: Fifin Anggela Prista (ketua), serta Najwa Aulia Habibah, Gifatul Hidayah, Rossy Safitri Putra Pratama, dan Muhammad Rasyid Ridha.
Berangkat dari kegelisahan atas maraknya ekspresi kesepian di TikTok khususnya di kalangan Gen Z, Tim Hypercrowd mengkaji bagaimana konten audiovisual membentuk realitas semu. Dengan pendekatan interdisipliner antara studi media, literasi digital, dan teori hiperrealitas Baudrillard, riset ini menyoroti kesepian bukan sekadar pengalaman batin, tapi sebagai fenomena budaya yang diproduksi dan dikonsumsi secara digital.
Fifin Anggela Prista, Ketua Tim (Doc. Pribadi/Hypercrowd)
Ketua tim, Fifin Anggela Prista, menjelaskan bahwa riset ini ingin mengungkap relasi antara algoritma media, ekspresi afeksi, dan keterasingan digital yang tersembunyi di balik tren hiburan TikTok. “Kami ingin membuka ruang diskusi kritis soal bagaimana media sosial membentuk pengalaman emosional kita. Kesepian hari ini bukan lagi tentang kesendirian klasik, tapi paradoks dari keterhubungan yang berlebihan namun dangkal,” ujarnya.
Dosen pembimbing, Dr. Fajar Junaedi, mengapresiasi pencapaian tim dan menilai topik yang diangkat sangat relevan dengan dinamika sosial digital masa kini. “Penelitian ini penting sebagai kontribusi akademik dalam memahami gejala sosial kontemporer yang kerap terabaikan, terutama di platform yang kerap dipandang sekadar sebagai ruang hiburan,” ujarnya.
PKM ini akan berlangsung selama lima bulan, mencakup observasi digital, analisis konten visual, hingga penyusunan rekomendasi literasi media digital yang inklusif dan reflektif terhadap persoalan psikososial anak muda. Capaian ini menambah daftar prestasi UMY di tingkat nasional, sekaligus memperkuat komitmen kampus dalam mendorong mahasiswa aktif dalam riset sosial yang berdampak nyata. (Fifin Anggela Prista)
