Perawatan Akhir Hidup (End-of-Life Care) di Unit Gawat Darurat (UGD)

I am a student at the Faculty of Nursing, Jember University Class of 2022. Passionate about social work, participate in the Social Nursing Corporation & Staff at the Student Executive Board of the Ministry of Social Affairs.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Illa Rohmatul Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perawatan akhir hidup atau end-of-life care adalah salah satu aspek penting dalam keperawatan paliatif yang bertujuan untuk memastikan kenyamanan pasien di hari-hari terakhir hidupnya. Di Unit Gawat Darurat (UGD), perawatan akhir hidup menghadapi tantangan tersendiri, mengingat sifat UGD yang intens, dinamis, dan sering kali terfokus pada tindakan menyelamatkan nyawa. Namun, ketika pasien berada pada tahap terminal, keputusan yang berbeda harus diambil, yaitu mengalihkan fokus dari perawatan kuratif ke perawatan paliatif yang menitikberatkan pada kualitas hidup pasien.
Tantangan Perawatan Akhir Hidup di UGD
Di UGD, keputusan untuk memberikan perawatan akhir hidup sering kali dihadapkan pada dilema etis dan klinis. Tenaga kesehatan harus menyeimbangkan antara keinginan pasien dan keluarganya untuk mendapatkan tindakan medis agresif, serta kebutuhan untuk menghindari intervensi yang tidak bermanfaat. Dalam banyak kasus, pasien yang datang ke UGD dalam kondisi kritis mungkin sudah berada pada tahap akhir dari penyakit terminalnya, dan tindakan penyelamatan nyawa sering kali hanya akan memperpanjang penderitaan tanpa memperbaiki kualitas hidup.
Tantangan utama dalam perawatan akhir hidup di UGD meliputi:
Pengambilan Keputusan Cepat: Dalam lingkungan UGD yang serba cepat, dokter dan perawat sering kali dihadapkan pada situasi di mana keputusan harus diambil dengan segera. Mereka harus menilai kondisi pasien dengan cepat dan berkomunikasi secara efektif dengan keluarga untuk memahami keinginan pasien terkait dengan perawatan akhir hidup.
Kurangnya Dokumentasi Keinginan Pasien: Banyak pasien yang datang ke UGD tanpa adanya dokumen yang jelas tentang keinginan mereka terkait perawatan akhir hidup, seperti Do Not Resuscitate (DNR) atau dokumen pengambilan keputusan medis. Hal ini dapat memperumit proses pengambilan keputusan, terutama ketika keluarga tidak yakin tentang keinginan pasien.
Keterbatasan Waktu untuk Dukungan Psikososial: Di UGD, waktu sering kali menjadi barang yang sangat berharga, sehingga perawat dan dokter mungkin kesulitan menyediakan dukungan emosional dan psikososial yang memadai kepada pasien dan keluarga. Padahal, dukungan ini sangat penting dalam perawatan akhir hidup untuk membantu keluarga menghadapi kenyataan yang sulit.
Peran Perawat dalam Perawatan Akhir Hidup di UGD
Perawat memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan perawatan akhir hidup di UGD. Mereka berperan sebagai jembatan antara dokter dan keluarga pasien, serta bertanggung jawab untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan yang nyaman dan bermartabat di akhir hidupnya.
Beberapa peran penting perawat dalam perawatan akhir hidup di UGD antara lain:
Manajemen Gejala: Perawat di UGD sering kali berhadapan dengan pasien yang mengalami nyeri hebat, sesak napas, atau gejala lain yang memerlukan penanganan segera. Perawat harus cepat dalam menilai dan mengelola gejala ini, dengan fokus pada kenyamanan pasien.
Komunikasi dengan Keluarga: Perawat juga berperan penting dalam menjelaskan situasi medis kepada keluarga, serta membantu mereka memahami pilihan perawatan yang ada. Komunikasi yang jelas dan empatik sangat dibutuhkan, terutama ketika keluarga harus membuat keputusan yang sulit.
Koordinasi dengan Tim Multidisiplin: Perawat di UGD perlu bekerja sama dengan tim multidisiplin, termasuk dokter, ahli gizi, psikolog, dan rohaniawan, untuk memastikan bahwa semua aspek kebutuhan pasien terpenuhi, baik fisik maupun emosional.
Pendekatan Holistik dalam Perawatan Akhir Hidup di UGD
Pendekatan holistik dalam perawatan akhir hidup menekankan pentingnya memperhatikan semua aspek kebutuhan pasien, termasuk fisik, emosional, dan spiritual. Perawat harus peka terhadap kondisi pasien dan keluarga serta memberikan dukungan yang sesuai. Selain manajemen nyeri dan gejala, perawat harus mempertimbangkan kebutuhan spiritual pasien, yang sering kali menjadi penting saat mendekati akhir hidup. Melibatkan rohaniawan atau tokoh agama sesuai kepercayaan pasien dapat memberikan kenyamanan emosional dan spiritual yang sangat berharga.
Kesimpulan
Perawatan akhir hidup di UGD memerlukan keseimbangan yang hati-hati antara tindakan medis dan pendekatan paliatif. Peran perawat sangat krusial dalam memberikan perawatan yang tepat, mulai dari manajemen gejala hingga dukungan psikososial untuk pasien dan keluarga. Dengan pendekatan yang holistik dan komunikasi yang baik, perawatan akhir hidup di UGD dapat membantu memastikan bahwa pasien meninggalkan dunia dengan martabat dan tanpa rasa sakit yang berlebihan.
Daftar Pustaka
George, N., Kryworuchko, J., Hunold, K., & Rahman, O. (2016). End-of-life care in emergency departments: A systematic review. Journal of Emergency Medicine, 50(4), 653-664. https://doi.org/10.1016/j.jemermed.2016.02.011
Lamba, S., & Quest, T. E. (2011). Hospice and palliative care in the emergency department: A practitioner’s guide. Journal of Palliative Medicine, 14(8), 1057-1058. https://doi.org/10.1089/jpm.2011.9632
Smith, A. K., McCarthy, E., Weber, E., Cenzer, I. S., Boscardin, W. J., Fisher, J., & Covinsky, K. E. (2012). Half of older Americans seen in emergency department in last month of life: Most admitted to hospital, and many die there. Health Affairs, 31(6), 1277-1285. https://doi.org/10.1377/hlthaff.2011.0922
Waller, A., Girgis, A., Johnson, C., & Lecathelinais, C. (2010). Improving outcomes for people with progressive cancer: An interventional study to improve patient psychological and physical outcomes and reduce caregiver burden. Journal of Pain and Symptom Management, 39(5), 771-783. https://doi.org/10.1016/j.jpainsymman.2009.09.027
