Konten dari Pengguna

Pengagum Rahasia Dirimu

Muhammad Ali

Muhammad Ali

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dengan perempuan. Mereka hidup berdampingan, untuk membina keluarga di masa depan. Pada dasarnya manusia akan kesulitan bahkan tidak mampu jika mereka harus hidup sendirian. Namun semuanya harus diawali dengan sebuah pertemuan antar insan.

Aku bukan orang yang sempurna, aku juga bukan dari keluarga kaya, aku hanya orang biasa yang hanya bisa mangagumi dirimu dari jauh. Aku bahkan ragu untuk berbicara hanya berdua denganmu. Inilah aku, laki-laki yang sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan ini padamu. Tidak perlu kau menyadari ini dari awal, justru seperti inilah yang aku inginkan. Aku hanya sekedar pengagum dirimu dari kejauhan.

Pertemuan Pertama

Aku tidak pernah melupakan hal terbaik dalam hidupku, salah satunya adalah pertemuanku dengan perempuan itu. Pertemuan pertama yang begitu singkat bagiku. Entah mengapa pertama kali aku melihat matamu, perasaan itu tiba-tiba muncul dalam diriku. Perasaan dimana selalu membuatku salah tingkah ketika berbicara denganmu, perasaan yang selalu membuatku teralihkan dari dunia ini, bahkan yang selalu membuatku malu untuk menyapamu setiap kali aku bertemu denganmu. Aku tidak pernah mengerti perasaan seperti itu untuk pertama kalinya. Apa yang harus kulakukan untuk mengendalikan perasaan itu? Aku tidak mengerti. Aku hanya mengerti satu hal, perasaan inilah yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, tapi hal seperti ini pasti dialami banyak orang diluar sana. Cinta katanya.

Aku berusaha untuk bersikap normal ketika perasaan itu muncul dalam hatiku, sangat sulit rasanya untuk menahan itu. Perasaan itu belum menghilang sejak pertemuan pertama kali aku dengan dirinya, aku mencoba memberanikan diriku untuk terus menjaga jarak dengannya bukan karena aku membencinya, aku takut orang-orang menertawaiku. Aku terlalu takut kalau sampai mereka ikut menertawakanmu karena diriku yang berada di dekatmu. Hanya dapat melihatmu dari jauh saja sudah lebih dari cukup bagiku.

Selalu Memerhatikanmu

Entah mengapa aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakumu meskipun dari jauh. Beberapa kali aku bisa duduk berdekatan denganmu walaupun tidak dalam kondisi berduaan. Melihatmu tersenyum merupakan pemandangan terindah bagiku. Hal yang paling kuingat saat memerhatikanmu adalah melihatmu tertawa gembira. Tertawa karena suatu hal yang lucu, bukan tertawa diatas penderitaan orang lain. Sesekali aku melihatmu tertidur karena letih dengan wajah manismu yang terlelap dan beberapa kali aku melihat ekspresi lucu dari wajahmu saat sedang bingung. Aku masih ingat semua itu. Ketika mengerjakan sesuatu bersama denganmu membuatku tak sadarkan diri, entah mengapa rasanya jadi lebih nyaman dan tidak ingin waktu cepat berlalu begitu saja. Aku sadar saat itu aku juga sempat membuatmu tertawa karena leluconku. Aku memang sering memberikan lelucon kepada teman-temanku karena memang aku sangat suka melakukannya. Membuat orang lain tertawa merupakan suatu penghargaan tersendiri bagiku. Tapi entah kenapa ketika membuatmu tertawa, rasanya jauh lebih berarti bagiku, bahkan perasaan dalam diriku ini semakin menjadi-jadi. Aku sangat senang bisa membuatmu tertawa.

Kamu yang tidak pernah menunjukan rasa sedih kepada orang lain yang membuatku harus berhati-hati untuk mendekatimu. Aku tidak mau meyakiti perasaan orang lain, tapi aku tidak akan ragu menolong mereka jika mereka disakiti orang lain. Aku tahu mungkin diluar sana ada orang yang juga menyukaimu, atau mungkin mereka memang berniat untuk mendekatimu. Aku hanya bisa harap kamu mendapatkan yang terbaik, serta kebahagian yang tak terlupakan. Asalkan kau bahagia dan nyaman dengan seseorang, itu sudah cukup bagiku. Semoga kau masih mengingatku walaupun sudah lama kita tidak bertemu. Aku berharap dapat melihatmu lagi bukan dari kejauhan lagi, tapi melihatmu dari dekat suatu saat nanti.

(Muhammad Ali Hafizhuddin - Politeknik Negeri Jakarta)