Bicara Itu Ada Seninya: Mengapa Kata-Kata Sering Gagal Menyampaikan Maksud

Mahasiswi aktif program studi Sastra Inggris di Universitas Pamulang, dengan ketertarikan khusus pada sastra, budaya, dan isu-isu sosial kontemporer.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilma Andika Cahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bicara sering dianggap hal paling sederhana dalam hidup. Semua orang melakukannya, setiap hari. Namun melalui buku Bicara Itu Ada Seninya, Oh Su Hyang justru membongkar anggapan itu dengan cara yang tenang tapi menohok: masalah komunikasi bukan karena kita kurang pintar, melainkan karena kita sering tidak sadar bagaimana cara menyampaikan diri. Buku ini tidak datang sebagai panduan berbicara yang menggurui, melainkan sebagai cermin atas kebiasaan kita saat berinteraksi dengan orang lain.
Oh Su Hyang menekankan bahwa berbicara bukan hanya soal apa yang diucapkan, tetapi bagaimana, kapan, dan kepada siapa kata-kata itu disampaikan. Banyak konflik, kesalahpahaman, bahkan hubungan yang renggang, lahir bukan dari niat buruk, melainkan dari cara bicara yang tidak mempertimbangkan emosi dan posisi lawan bicara. Dalam konteks ini, komunikasi menjadi sebuah seni, bukan keterampilan instan yang bisa dikuasai hanya dengan menghafal teknik.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada pendekatannya yang realistis. Oh Su Hyang tidak menjanjikan bahwa dengan berbicara “lebih baik” kita akan selalu disukai atau dipahami. Sebaliknya, ia mengajak pembaca untuk lebih sadar bahwa setiap kata membawa dampak. Nada suara, pilihan diksi, hingga ekspresi nonverbal sering kali berbicara lebih keras daripada isi pesan itu sendiri. Kesadaran inilah yang membuat komunikasi menjadi lebih manusiawi, bukan sekadar efektif.
Buku ini juga menarik karena menggeser fokus dari “ingin didengar” menjadi “belajar mendengar.” Dalam banyak bagian, Oh Su Hyang menegaskan bahwa komunikasi yang baik dimulai dari kemampuan memahami orang lain, bukan dari keinginan untuk memenangkan percakapan. Sikap ini terasa relevan di tengah budaya berbicara cepat dan reaktif, di mana orang lebih sibuk merespons daripada benar-benar mendengarkan.
Alih-alih dipenuhi teori berat, Bicara Itu Ada Seninya bekerja lewat contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, di lingkungan kerja, keluarga, maupun pertemanan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat pesannya terasa mengena. Buku ini tidak menyuruh pembaca menjadi pembicara yang sempurna, tetapi menjadi pribadi yang lebih peka terhadap dampak ucapannya.
Pada akhirnya, buku ini tidak mengubah cara berbicara secara drastis dalam semalam. Namun ia perlahan mengubah cara kita memandang komunikasi: bahwa berbicara adalah proses memahami dan dipahami, bukan ajang menunjukkan siapa yang paling benar. Dan di situlah seninya, bukan pada banyaknya kata, tetapi pada kesadaran saat menggunakannya.
