Ekonomi Sulit, Kenapa Kopi Tetap Jadi 'Kebutuhan'?

Mahasiswi aktif program studi Sastra Inggris di Universitas Pamulang, dengan ketertarikan khusus pada sastra, budaya, dan isu-isu sosial kontemporer.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ilma Andika Cahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi Sulit, Kenapa Kopi Tetap Jadi “Kebutuhan”? Ketika harga berbagai kebutuhan naik, banyak orang mulai belajar membedakan mana yang benar-benar harus dibeli dan mana yang sebenarnya bisa ditunda. Pengeluaran mulai dihitung, belanja dikurangi, dan barang yang dulu dibeli tanpa berpikir panjang mulai dipertimbangkan kembali. Namun, di tengah usaha menghemat tersebut, ada satu kebiasaan yang masih sulit ditinggalkan: membeli kopi. Secangkir kopi kekinian mungkin bukan kebutuhan pokok, tetapi bagi sebagian orang, rasanya ada sesuatu yang kurang ketika rutinitas tersebut tiba-tiba hilang. Kalau dilihat secara sederhana, kopi memang mudah dimasukkan ke dalam daftar pengeluaran yang bisa dipangkas. Kita bisa membuat kopi sendiri di rumah dengan harga yang jauh lebih murah. Tidak perlu membayar biaya tempat, kemasan, atau ongkos aplikasi. Secangkir kopi seharga puluhan ribu rupiah mungkin terlihat tidak terlalu besar jika hanya dibeli sesekali. Masalahnya, “sesekali” bisa berubah menjadi beberapa kali dalam seminggu tanpa kita sadari. Namun, alasan orang membeli kopi tidak selalu sesederhana rasa haus atau kebutuhan akan kafein. Bagi sebagian orang, membeli kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas. Ada yang membelinya sebelum bekerja, setelah kelas, ketika bertemu teman, atau sekadar sebagai hadiah kecil setelah melewati hari yang melelahkan. Dalam situasi seperti ini, yang dibeli sebenarnya bukan hanya minuman. Ada pengalaman dan kebiasaan yang ikut dibayar. Kopi juga memiliki posisi yang unik sebagai bentuk small indulgence, yaitu pengeluaran kecil untuk memberikan kesenangan kepada diri sendiri. Dibandingkan membeli barang mahal atau pergi berlibur, membeli secangkir kopi terasa jauh lebih mudah dibenarkan. Kita mungkin berpikir, “Cuma dua puluh ribu,” atau “Sekali ini saja.” Jumlahnya memang kecil. Tetapi ketika dilakukan berulang kali, pengeluaran tersebut mulai membentuk angka yang berbeda. Di sinilah hubungan antara kopi dan kondisi ekonomi menjadi menarik. Ketika seseorang tidak mampu membeli sesuatu yang besar, pengeluaran kecil masih terasa seperti kemewahan yang dapat dijangkau. Kita mungkin tidak bisa pergi berlibur setiap bulan, membeli gadget baru, atau makan di restoran mahal. Tetapi membeli kopi favorit masih terasa memungkinkan. Karena itu, kopi bisa menjadi semacam bentuk penghargaan kecil di tengah rutinitas yang semakin mahal. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan membeli kopi. Masalahnya bukan pada kopinya, melainkan pada kemampuan kita membedakan antara sesuatu yang memang kita inginkan dan sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Kalau membeli kopi sudah masuk dalam anggaran dan tidak mengganggu kebutuhan lain, tentu tidak ada alasan untuk merasa bersalah. Menghemat bukan berarti harus menghilangkan semua hal yang membuat hidup terasa menyenangkan. Sebaliknya, masalah muncul ketika kebiasaan kecil mulai dianggap terlalu sepele untuk diperhitungkan. Kita mungkin teliti ketika membeli barang seharga ratusan ribu rupiah, tetapi tidak terlalu memikirkan pengeluaran puluhan ribu yang terjadi berkali-kali. Padahal, pengeluaran yang kecil bukan berarti tidak memiliki dampak. Justru karena terasa ringan, kita lebih mudah mengulanginya. Mungkin itu juga alasan mengapa kopi tetap bertahan sebagai bagian dari gaya hidup meskipun kondisi ekonomi sedang tidak mudah. Kopi tidak selalu dibeli karena seseorang tidak tahu cara menghemat uang. Kadang, orang memang sengaja menyisihkan sedikit uang untuk sesuatu yang membuat harinya terasa lebih menyenangkan. Dan menurut saya, itu tidak selalu merupakan keputusan yang buruk. Hidup juga bukan sekadar tentang memangkas semua pengeluaran sampai tidak ada lagi ruang untuk menikmati sesuatu. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kita harus berhenti membeli kopi ketika ekonomi sedang sulit. Pertanyaannya adalah apakah kita tahu berapa banyak yang sebenarnya kita keluarkan untuk kebiasaan tersebut. Secangkir kopi mungkin hanya terlihat seperti pengeluaran kecil. Tetapi kalau kita membelinya terus-menerus, ia bukan lagi sekadar secangkir kopi. Jadi, kalau besok masih ingin membeli kopi, silakan. Hanya saja, mungkin ada baiknya sesekali berhenti dan bertanya: kita benar-benar membutuhkan kopinya, atau kita hanya sedang membeli sedikit rasa senang untuk melewati hari? Kadang jawabannya adalah keduanya. Dan tidak apa-apa, selama kita tahu berapa harga yang harus dibayar untuk kebiasaan kecil tersebut.
