Konten dari Pengguna

Journaling: Ketika Menulis Bisa Jadi Teman di Tengah Ramainya Pikiran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ilma Andika Cahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto. Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
foto. Shutterstock

Journaling sering dianggap sekadar kegiatan menulis diary. Padahal, keduanya tidak selalu sama. Menulis diary biasanya lebih banyak bercerita tentang apa yang terjadi sepanjang hari, sementara journaling bisa jauh lebih bebas. Kita bisa menulis perasaan, membuat daftar, mencatat hal yang ingin dilakukan, menuliskan ide, atau bahkan sekadar menuangkan isi kepala tanpa perlu memikirkan apakah tulisannya bagus atau tidak. Menariknya, journaling tidak membutuhkan banyak hal. Sebuah buku catatan dan pulpen sebenarnya sudah cukup. Tidak harus menggunakan notebook mahal, tulisan yang rapi, atau halaman yang dihias penuh warna. Di media sosial, journaling memang sering terlihat seperti kegiatan yang membutuhkan banyak perlengkapan. Ada washi tape, stiker, spidol warna-warni, hingga berbagai macam dekorasi. Padahal, inti journaling bukan seberapa cantik halaman yang dibuat, tetapi apa yang ingin kita tuliskan di dalamnya. Bagi sebagian orang, menulis menjadi cara untuk mengeluarkan berbagai hal yang sulit disampaikan secara langsung. Ada pikiran yang terlalu panjang untuk diceritakan kepada orang lain, perasaan yang belum tahu bagaimana menjelaskannya, atau masalah yang bahkan belum kita pahami sendiri. Menuliskannya di atas kertas bisa menjadi langkah sederhana untuk melihat semua itu dengan lebih jelas. Journaling juga tidak harus dilakukan setiap hari. Ini mungkin salah satu hal yang sering membuat orang berhenti sebelum mulai. Melihat orang lain memiliki jurnal dengan puluhan halaman bisa membuat kita merasa harus melakukan hal yang sama. Padahal, kalau hanya menulis ketika memang ingin atau membutuhkan, itu tetap bisa disebut journaling. Tidak ada aturan bahwa setiap halaman harus terisi setiap malam. Formatnya pun bebas. Kita bisa menulis panjang seperti sedang bercerita kepada seseorang, membuat to-do list, mencatat hal yang disyukuri, menuliskan target, atau membuat daftar film dan buku yang ingin dinikmati. Bahkan satu kalimat seperti “Hari ini benar-benar melelahkan” tetap merupakan bentuk tulisan. Tidak semua tulisan harus terdengar dalam atau inspiratif. Menurut saya, bagian paling menarik dari journaling justru kebebasannya. Kita tidak sedang menulis untuk mendapatkan nilai, bukan membuat caption untuk media sosial, dan tidak perlu membuat orang lain terkesan. Tidak ada yang perlu diedit hanya karena kalimatnya terdengar aneh. Buku jurnal bisa menjadi salah satu tempat di mana kita tidak perlu memikirkan bagaimana diri kita terlihat di mata orang lain. Tentu saja, journaling juga bukan solusi ajaib untuk semua masalah. Menulis beberapa halaman tidak otomatis membuat persoalan selesai. Tetapi kegiatan ini dapat membantu seseorang berhenti sejenak dan memperhatikan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan. Kadang kita baru menyadari apa yang sebenarnya mengganggu setelah melihatnya tertulis dengan jelas. Hal yang sama berlaku untuk kebiasaan mencatat hal-hal kecil. Kita bisa menulis film yang baru ditonton, makanan yang ingin dicoba, tempat yang ingin dikunjungi, atau kejadian sederhana yang ingin diingat. Beberapa tahun kemudian, catatan tersebut bisa menjadi semacam arsip pribadi. Kita mungkin lupa apa yang terjadi pada suatu hari, tetapi tulisan lama bisa mengingatkan kita pada versi diri yang pernah menjalani hari tersebut. Jadi, journaling tidak harus terlihat sempurna. Tidak perlu membeli notebook mahal, tidak perlu memiliki tulisan yang bagus, dan tidak perlu memaksakan diri menulis setiap hari. Kalau ingin menghiasnya, silakan. Kalau hanya ingin memenuhi halaman dengan tulisan tangan yang berantakan, juga tidak masalah. Karena pada akhirnya, jurnal bukan dibuat untuk terlihat bagus di mata orang lain. Jurnal dibuat supaya kita punya tempat untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu menyunting setiap kata.