Tarot: Sebelum Dipakai untuk Meramal, Kartu Ini Ternyata Hanya Sebuah Permainan

Mahasiswi aktif program studi Sastra Inggris di Universitas Pamulang, dengan ketertarikan khusus pada sastra, budaya, dan isu-isu sosial kontemporer.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ilma Andika Cahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tarot hari ini identik dengan ramalan. Seseorang duduk di depan pembaca kartu, memilih beberapa kartu, lalu mencoba memahami simbol-simbol di dalamnya. Ada kartu The Fool, The Lovers, Death, hingga The Tower yang masing-masing memiliki makna tertentu. Karena itu, mudah untuk mengira bahwa tarot sejak awal memang diciptakan sebagai alat untuk membaca masa depan. Padahal, sejarahnya justru jauh lebih sederhana. Tarot pada awalnya adalah permainan kartu yang muncul di Italia pada masa Renaissance, bukan alat ramalan. Referensi paling awal mengenai tarot berasal dari sekitar tahun 1440-an dan 1450-an di wilayah Italia Utara, terutama kota-kota seperti Milan, Venice, Florence, dan Urbino. Pada masa itu, kartu tarot dikenal sebagai tarocchi dan digunakan untuk permainan yang mirip permainan kartu trick-taking. Satu set kartu memiliki empat jenis kartu biasa yaitu Cups, Swords, Batons, dan Coins ditambah kartu khusus yang disebut trump cards. Ada pula kartu Fool yang berfungsi sebagai kartu khusus dalam permainan. Kartu-kartu tersebut sebenarnya sudah memiliki gambar yang sangat berbeda dari kartu remi biasa. Selain raja, ratu, ksatria, dan kartu bernomor, tarot memiliki serangkaian kartu bergambar tokoh dan simbol alegoris. The Emperor, The Pope, Death, Love, dan berbagai figur lainnya bukan awalnya dirancang untuk memberikan pesan spiritual kepada seseorang. Kartu-kartu tersebut merupakan bagian dari struktur permainan sekaligus mencerminkan gambaran sosial dan simbolisme yang dikenal masyarakat Eropa pada masa itu. Salah satu contoh tertua adalah Visconti Tarot, yang dibuat sekitar pertengahan abad ke-15 dan berkaitan dengan lingkungan bangsawan Milan. Lalu, kapan tarot berubah dari permainan menjadi alat ramalan? Perubahannya tidak terjadi sekaligus. Hubungan tarot dengan ramalan dan praktik okultisme baru berkembang jauh setelah kartu-kartu tersebut muncul. Menurut Metropolitan Museum of Art, asosiasi tarot dengan fortune-telling dan okultisme baru menjadi populer pada abad ke-19. Dengan kata lain, gambaran tarot sebagai alat untuk membaca masa depan bukanlah fungsi awal kartu tersebut. Perubahan ini membuat simbol-simbol yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari permainan mulai dibaca dengan cara yang berbeda. Kartu Death, misalnya, tidak lagi sekadar sebuah gambar alegoris, tetapi kemudian memperoleh berbagai interpretasi spiritual. The Fool tidak hanya dipandang sebagai kartu dalam permainan, tetapi juga sebagai simbol perjalanan atau awal yang baru. Seiring berkembangnya tradisi pembacaan tarot, gambar dan urutan kartu mulai diperlakukan sebagai sistem simbol yang dapat digunakan untuk menafsirkan kehidupan seseorang. Menariknya, perkembangan tarot juga menunjukkan bagaimana sebuah benda dapat berubah makna ketika berpindah dari satu zaman ke zaman lain. Kartu yang awalnya digunakan untuk hiburan kemudian mendapatkan fungsi spiritual dan simbolis. Bahkan hingga sekarang, tarot tidak memiliki satu cara tunggal untuk dipahami. Bagi sebagian orang, tarot merupakan praktik spiritual atau alat refleksi diri. Bagi yang lain, tarot lebih menarik sebagai bagian dari sejarah seni, budaya, dan permainan kartu. Yang jelas, menyebut tarot hanya sebagai “kartu ramalan” sebenarnya menghilangkan sebagian besar perjalanan panjangnya. Perubahan tersebut juga terlihat dari perkembangan desain tarot modern. Salah satu deck yang paling berpengaruh adalah Rider-Waite-Smith Tarot, yang pertama kali diterbitkan pada 1909 dan diilustrasikan oleh Pamela Colman Smith. Dek ini kemudian menjadi salah satu bentuk tarot yang paling dikenal dan banyak memengaruhi cara orang modern memahami simbol-simbol tarot. Pada akhirnya, mungkin hal paling menarik dari sejarah tarot bukan apakah kartunya benar-benar bisa meramal masa depan. Yang lebih menarik adalah bagaimana manusia terus memberikan makna baru pada sesuatu yang sudah ada selama berabad-abad. Tarot pernah menjadi permainan, kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi okultisme, dan kini hadir kembali dalam berbagai bentuk sebagai alat spiritual, refleksi diri, bahkan objek seni. Jadi, ketika seseorang membuka setumpuk kartu tarot hari ini, ia sebenarnya sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada praktik meramal itu sendiri: sebuah sejarah panjang tentang bagaimana manusia bermain, menggambar, percaya, dan mencari makna.
