Yuk, Kenalan dengan Makhluk Bernama Skripsi

Mahasiswi aktif program studi Sastra Inggris di Universitas Pamulang, dengan ketertarikan khusus pada sastra, budaya, dan isu-isu sosial kontemporer.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ilma Andika Cahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kata yang mungkin terdengar biasa bagi mahasiswa semester awal, tetapi perlahan berubah menjadi sesuatu yang cukup menakutkan ketika semester bertambah: skripsi. Awalnya, skripsi hanya sebuah tugas akhir yang namanya sering disebut senior.
Lama-kelamaan, kata itu mulai muncul dalam percakapan teman, grup kelas, bahkan dalam pikiran sendiri setiap kali melihat kalender akademik. Skripsi kemudian terasa seperti makhluk yang belum pernah dilihat, tetapi semua orang sudah punya cerita tentang betapa sulitnya menghadapinya. Padahal, sebelum takut pada skripsi, mungkin kita perlu mengenalnya terlebih dahulu. Secara sederhana, skripsi adalah karya ilmiah yang disusun mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan sarjana. Berbeda dengan tugas kuliah biasa, skripsi menuntut mahasiswa untuk membahas sebuah persoalan secara lebih mendalam dengan menggunakan metode penelitian dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, skripsi bukan sekadar tulisan panjang yang dibuat menjelang wisuda. Ada proses mencari masalah, menentukan topik, membaca penelitian terdahulu, memilih teori atau metode, mengumpulkan data, melakukan analisis, hingga menarik kesimpulan. Bagian yang sering membuat mahasiswa mulai kehilangan arah justru datang sebelum satu paragraf pun ditulis: menentukan topik. Kelihatannya sederhana—tinggal pilih sesuatu yang disukai. Kenyataannya, topik yang menarik belum tentu bisa diteliti, dan sesuatu yang bisa diteliti belum tentu menarik untuk dibahas selama berbulan-bulan.
Dari sinilah mahasiswa mulai mengenal kalimat seperti, “Topiknya sudah ada, tapi rumusan masalahnya apa?” atau “Teorinya mau pakai apa?” Skripsi perlahan berubah dari sekadar ide menjadi pekerjaan yang membutuhkan keputusan. Setelah topik ditemukan, datanglah sosok lain yang sering disebut bersama skripsi: dosen pembimbing. Hubungan mahasiswa dengan dosen pembimbing bisa menjadi bagian penting dalam proses penelitian karena mahasiswa tidak hanya membutuhkan persetujuan, tetapi juga arahan untuk mengembangkan penelitiannya.
Namun, di sinilah kata yang paling sering muncul mulai menghantui: revisi. Satu halaman bisa kembali dengan beberapa catatan, beberapa halaman bisa kembali dengan lebih banyak catatan, dan kalimat “sudah diperbaiki” belum tentu berarti perjalanan sudah selesai. Revisi memang melelahkan, tetapi pada dasarnya proses tersebut membantu mahasiswa melihat kelemahan penelitian yang mungkin tidak terlihat ketika dikerjakan sendiri. Skripsi juga mengajarkan sesuatu yang jarang dibahas ketika mahasiswa pertama kali mendengar kata tersebut: penelitian membutuhkan kesabaran. Tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Sumber yang dicari bisa sulit ditemukan, data tidak selalu sesuai dugaan, teori yang awalnya terasa cocok ternyata tidak cukup membantu, dan tulisan yang sudah dianggap selesai bisa saja masih membutuhkan perbaikan.
Karena itu, kemampuan menyelesaikan skripsi tidak hanya bergantung pada seberapa pintar seseorang menulis, tetapi juga pada kemampuannya bertahan ketika prosesnya mulai membosankan. Menariknya, ketakutan terhadap skripsi sering kali muncul bahkan sebelum skripsi itu sendiri dimulai. Cerita dari senior, pengalaman teman, dan berbagai candaan tentang revisi membuat skripsi terdengar seperti sesuatu yang hampir mustahil diselesaikan. Padahal, setiap skripsi pada akhirnya memang dikerjakan melalui langkah-langkah kecil.
Satu hari mencari jurnal, hari berikutnya membaca teori, kemudian menulis beberapa halaman, melakukan revisi, dan mengulanginya lagi. Tidak terdengar spektakuler, tetapi memang begitulah sebagian besar pekerjaan akademik diselesaikan. Pada akhirnya, skripsi mungkin memang bukan makhluk yang bisa dikalahkan dalam sekali pertemuan. Ia harus dikerjakan sedikit demi sedikit, dibaca ulang, direvisi, dan kadang ditinggalkan sebentar ketika kepala sudah terlalu penuh.
Namun, semakin kita mengenalnya, semakin jelas bahwa skripsi bukan monster yang datang untuk menghukum mahasiswa. Ia hanya sebuah proses akademik yang kebetulan ditulis dalam puluhan halaman. Yang membuatnya terlihat menakutkan mungkin bukan skripsinya, melainkan bayangan kita sendiri sebelum benar-benar mulai mengerjakannya.
