Konten dari Pengguna

Logam Berat Rancaekek: Sawah Hijau, Air Hitam di Sungai Cikijing

Penulis (Ilman Khoirul Anwar) bersama narasumber Faizal (Karang Taruna Desa Sukamanah) saat mengambil sampel air di Rancaekek untuk diteliti lebih lanjut. (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Penulis (Ilman Khoirul Anwar) bersama narasumber Faizal (Karang Taruna Desa Sukamanah) saat mengambil sampel air di Rancaekek untuk diteliti lebih lanjut. (Foto: Dok. Pribadi)

Logam Berat Rancaekek: Temuan pada Sedimen Sungai Cikijing dan Tanah Sawah

Logam berat Rancaekek menjadi persoalan lingkungan yang perlu dibaca dengan cermat. Di tengah hamparan sawah dan kawasan industri tekstil, Sungai Cikijing mengalir sebagai salah satu sumber air irigasi bagi pertanian di sekitarnya. Dua penelitian mengenai sungai, sedimen, dan tanah sawah menunjukkan gambaran yang tidak sesederhana warna air. Konsentrasi logam pada sampel air yang diuji berada di bawah baku mutu irigasi, tetapi seng pada sedimen tergolong tinggi, sementara tembaga dan seng melampaui baku mutu di sejumlah titik tanah sawah.

Sungai Cikijing merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarik, yang bermuara ke Sungai Citarum. Sungai ini melintasi Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung, dan airnya dimanfaatkan warga untuk mengairi sawah di Rancaekek. Masalahnya, sungai yang sama juga menerima aliran limbah cair dari kawasan industri Rancaekek. Proses pewarnaan dan penyempurnaan kain menggunakan berbagai bahan kimia. Jika instalasi pengolahan air limbah (IPAL) tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sebagian residu dapat masuk ke sungai dan terbawa ke petak-petak sawah.

Selama ini, perbincangan tentang Cikijing sering berhenti pada warna airnya yang berubah-ubah. Padahal, warna hanyalah bagian yang terlihat di permukaan. Untuk memahami persoalan yang lebih dalam, kita perlu melihat hasil penelitian. Ada dua penelitian yang penting diperhatikan.

Air yang Lolos Baku Mutu, Dasar Sungai yang Tercemar

Pengambilan sampel air Sungai Cikijing di Rancaekek untuk menelusuri persoalan logam berat pada lingkungan sungai. (Foto: Dok. Pribadi)

Penelitian pertama dilakukan oleh Mariana Marselina dan M. Wijaya dari Program Studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2024. Sampel air dan sedimen diambil di sepuluh titik sepanjang Sungai Cikijing, mulai dari Desa Sawahdadap, Kecamatan Cimanggung, hingga Desa Linggar dan Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek. Pengambilan sampel dilakukan dua kali: pada musim hujan (Maret 2022) dan musim kemarau (Juni 2022). Penelitian ini mengukur empat logam berat, yaitu kromium (Cr), tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn).

Hasilnya perlu dibaca dengan cermat. Dalam penelitian ini, konsentrasi keempat logam pada air sungai masih berada di bawah baku mutu untuk peruntukan irigasi. Nilai Indeks Pencemaran (IP) tercatat 0,272 pada musim hujan dan 0,196 pada musim kemarau. Berdasarkan parameter logam berat yang diuji, kualitas air tergolong belum tercemar. Sekilas, ini kabar baik. Namun, logam berat cenderung mengendap dan terikat pada sedimen sungai sehingga konsentrasinya di sedimen jauh lebih tinggi daripada di air.

Di sedimen, persoalannya terlihat lebih jelas. Berdasarkan indeks geoakumulasi (Igeo), kromium, tembaga, dan timbal tergolong tidak mencemari. Seng menunjukkan kondisi berbeda. Nilai rata-rata Igeo seng mencapai 4,7 pada musim hujan dan 4,1 pada musim kemarau, yang menempatkan sedimen dalam kategori tercemar berat hingga sangat berat oleh seng. Indeks beban pencemaran (PLI) rata-rata mencapai 1,37 pada musim hujan. Nilai PLI di atas 1 menandakan pencemaran gabungan beberapa logam pada sedimen. Pada musim kemarau, PLI turun menjadi 0,73.

Secara rata-rata, Indeks Risiko Ekologis Potensial (PERI) masih tergolong ringan, yakni 93,94 pada musim hujan dan 96,49 pada musim kemarau. Namun, nilai rata-rata dapat menyembunyikan titik-titik rawan. Di titik tempat aliran buangan IPAL industri masuk ke sungai, PERI mencapai 478 pada musim hujan. Di salah satu titik lahan pertanian di Desa Linggar, nilainya mencapai 515 pada musim kemarau. Kedua nilai tersebut masuk kategori risiko ekologis buruk. Titik yang paling mengkhawatirkan berada di dekat saluran buangan industri dan di area sawah.

Para peneliti menyebut beberapa kemungkinan sumber seng, antara lain saluran buangan industri tekstil, saluran pembuangan permukiman, limbah deterjen rumah tangga, dan pupuk kimia yang digunakan di sawah. Artinya, industri bukan satu-satunya sumber yang perlu ditelusuri; aktivitas rumah tangga dan pertanian juga perlu diperhatikan. Meski begitu, tingginya nilai indeks di sekitar saluran buangan industri dan area sawah tetap perlu ditindaklanjuti.

Tanah Sawah: Nitrogen Rendah, Logam Berat di Atas Baku Mutu

Penelitian kedua dilakukan oleh Leony Agustine, Rija Sudirja, dan Rachmat Harryanto, lalu diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno pada 2022. Jika penelitian pertama memeriksa air dan sedimen sungai, penelitian ini memeriksa tanah sawah di daerah pengairan Cikijing. Sampel diambil pada Februari hingga November 2017 dari delapan titik yang tersebar di lima desa. Parameter yang diuji adalah nitrogen total serta logam berat tembaga dan seng.

Temuannya perlu diperhatikan. Kandungan nitrogen total di wilayah penelitian tergolong rendah hingga sedang, bahkan sangat rendah di beberapa titik. Pada saat yang sama, kandungan tembaga di beberapa lokasi dan seng juga tercatat melampaui baku mutu. Dengan kata lain, hasil pengukuran menunjukkan dua persoalan yang muncul bersamaan: kandungan nitrogen yang rendah di sejumlah titik dan kadar logam berat yang melampaui baku mutu.

Tembaga dan seng termasuk unsur mikro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil, tetapi konsentrasi berlebih tetap menjadi persoalan lingkungan. Sebagai unsur logam, keduanya tidak terurai seperti senyawa organik dan dapat bertahan serta terakumulasi di lingkungan. Karena itu, pengaruhnya terhadap kualitas tanah perlu dipantau dari waktu ke waktu.

Benang Merah yang Perlu Diingat

Temuan logam berat Rancaekek perlu dibaca berdasarkan media yang diuji. Air sungai, sedimen, dan tanah sawah tidak selalu menunjukkan tingkat pencemaran yang sama. Karena itu, pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui perubahan kualitas lingkungan serta menentukan lokasi yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Pengambilan sampel kedua penelitian berjarak sekitar lima tahun: penelitian tanah dilakukan pada 2017, sedangkan pengambilan sampel air dan sedimen dilakukan pada 2022. Metode dan objek yang diteliti berbeda. Namun, kedua penelitian sama-sama menyoroti seng—di sedimen Cikijing dan di tanah sawah yang berada di daerah pengairannya. Temuan ini tidak membuktikan bahwa beras dari Rancaekek berbahaya, sebab kedua penelitian tersebut tidak menguji padi atau beras. Namun, hasilnya cukup menjadi alasan untuk memperkuat pemantauan. Endapan logam di dasar sungai dapat kembali terlepas ke kolom air ketika kondisi aliran berubah, lalu terbawa bersama air irigasi ke sawah.

Marselina dan Wijaya juga mengakui keterbatasan penelitian mereka: pengambilan sampel hanya dilakukan dua kali, masing-masing pada musim hujan dan musim kemarau. Mereka menyebut pemantauan setiap bulan sepanjang tahun akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang variasi pencemaran. Karena itu, Cikijing membutuhkan pemantauan rutin dan transparan, bukan pemeriksaan sesekali.

Tulisan ini tidak bermaksud menolak keberadaan industri. Pabrik-pabrik di Rancaekek menjadi sumber penghidupan banyak keluarga, dan itu nyata. Persoalannya terletak pada pengawasan. Marselina dan Wijaya merekomendasikan agar pihak yang menerbitkan izin usaha di sekitar Cikijing mengawasi kinerja IPAL setiap industri secara ketat serta mewajibkan upaya konservasi di sekitar sungai. Hasil pengawasan itu juga semestinya dapat diakses warga, terutama petani yang sawahnya bergantung pada air Cikijing.

Rancaekek memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan jarang datang tiba-tiba. Ia mengendap pelan-pelan, persis seperti logam di dasar sungai. Air yang memenuhi baku mutu pada parameter tertentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh ekosistem sungai sehat. Sawah hijau yang menjadi kebanggaan warga membutuhkan air irigasi yang terjaga kualitasnya. Menjaga Cikijing berarti menjaga masa depan pertanian dan kehidupan warga Rancaekek sendiri.

"Air Cikijing boleh jadi lolos baku mutu, tetapi seng yang mengendap di dasar sungai dan menumpuk di tanah sawah adalah tagihan yang suatu hari harus dibayar petani Rancaekek."