Haul Gus Dur Ke-16: Tunisia Menerapkan 9 Makna Utama Gus Dur
Tulisan dari Muhamad Fathi Ilmy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Haul ke-16 KH. Abdurrahman Wahid di Tunisia tidak sekadar menjadi agenda peringatan tahunan, melainkan menjelma menjadi ruang perjumpaan nilai, ingatan, dan harapan. Di tengah udara pagi Kota Tunis yang sejuk pada Ahad, 1 Februari 2026, ratusan mahasiswa Indonesia perlahan memadati Cinema Le Mondial. Langkah mereka ringan, wajah-wajahnya penuh antusias. Mereka datang bukan hanya untuk mengenang sosok Gus Dur, tetapi untuk merawat api perjuangan yang telah beliau wariskan.
Sejak registrasi dibuka, suasana kekeluargaan terasa begitu kental. Panitia menyambut peserta dengan senyum hangat, mengarahkan mereka menuju tempat duduk, sementara obrolan ringan antar mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia saling bersahutan. Di tanah rantau yang jauh dari kampung halaman, peringatan ini terasa seperti rumah bersama, ruang di mana identitas, kebersamaan, dan cita-cita kemanusiaan bertemu dalam satu napas.
Komunitas Gusdurian Tunisia memang sejak awal dibentuk sebagai wadah belajar dan bergerak. Ia bukan sekadar forum nostalgia terhadap figur Gus Dur, tetapi ruang kolektif bagi pelajar, mahasiswa, dan diaspora Indonesia untuk menerjemahkan gagasan-gagasan beliau ke dalam tindakan nyata. Di negeri yang multikultural seperti Tunisia, nilai toleransi, dialog lintas iman, serta penghormatan terhadap perbedaan terasa semakin relevan. Karena itulah, haul ini dimaknai bukan sebagai peringatan kematian, melainkan perayaan hidupnya nilai-nilai kemanusiaan.
Acara dibuka dengan lantunan shalawat dan Maulid Diba’ yang menggema syahdu. Irama hadrah mengisi ruangan dengan ketenangan spiritual, seakan membawa setiap hadirin menundukkan hati. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an kemudian menambah kekhidmatan suasana, menegaskan bahwa perjuangan Gus Dur berakar kuat pada ajaran Islam yang ramah dan membebaskan. Di momen itu, haul terasa bukan hanya sebagai kegiatan formal, tetapi juga sebagai ibadah kolektif.
Sambutan demi sambutan menghadirkan refleksi mendalam. Pesan yang disampaikan perwakilan Duta Besar Republik Indonesia dan tokoh PCINU Tunisia mengingatkan kembali paradigma Gus Dur: bahwa membela Tuhan sejatinya berarti membela kemanusiaan. Bahwa agama tidak hadir untuk memisahkan, melainkan untuk memuliakan manusia. Kutipan-kutipan tersebut menggugah kesadaran bahwa di tengah dunia yang sering dipenuhi konflik identitas, nilai kasih sayang dan keadilan sosial justru menjadi inti ajaran.
Memasuki sesi utama, seminar oleh Muhammad Ismail, Lc., MA mengajak peserta menyelami perjalanan intelektual Gus Dur secara lebih dekat. Kisah tentang masa kecilnya di pesantren, pengembaraan ilmu di Al-Azhar, hingga interaksi lintas budaya di Eropa dan Amerika membuka pemahaman baru: kebesaran Gus Dur lahir dari keluasan wawasan dan keberanian berdialog dengan dunia. Dari sanalah tumbuh sikap inklusif, rendah hati, dan keberpihakan kepada kelompok tertindas. Para peserta tidak hanya mendengar sejarah, tetapi diajak bercermin—bagaimana sebagai pelajar di luar negeri, mereka pun bisa meneladani semangat belajar dan keterbukaan yang sama.
Namun, Gus Dur tidak hanya dikenal lewat gagasan seriusnya. Ia juga diingat melalui humornya yang cerdas. Karena itu, suasana akademik perlahan mencair lewat penampilan stand-up comedy bertema humor khas Gus Dur. Gelak tawa pecah di berbagai sudut ruangan, menciptakan energi baru. Tawa tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan cara lain untuk merayakan warisan beliau: mengkritik dengan santai, menyentil tanpa melukai.
Nuansa emosional semakin terasa saat puisi dibacakan dengan penuh penghayatan, disusul drama musikal yang dibawakan mahasiswa angkatan pertama. Dengan sederhana namun tulus, mereka menggambarkan perjalanan hidup Gus Dur dari masa kecil hingga akhir hayatnya. Setiap adegan seolah menjadi pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan tidak lahir secara instan, melainkan ditempa oleh kesederhanaan, keberanian, dan keteguhan sikap.
Puncaknya, film pendek tentang sembilan nilai utama Gus Dur ditayangkan. Dalam suasana hening, layar menampilkan pesan tentang ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, ksatria, dan kearifan lokal. Nilai-nilai itu terasa begitu dekat dengan realitas mahasiswa diaspora hidup berdampingan dengan budaya berbeda, belajar menghargai keberagaman, dan menjadi jembatan antarbangsa.
Kemeriahan berlanjut dengan pembagian hadiah lomba hasil kolaborasi bersama Fatayat NU Tunisia, disusul penampilan musik akustik yang menghadirkan suasana hangat dan santai. Lagu-lagu dinyanyikan bersama, obrolan mengalir, dan hidangan sederhana dinikmati dengan penuh syukur. Dalam kebersamaan itu, tidak ada sekat angkatan, organisasi, atau latar belakang, semuanya larut sebagai satu keluarga besar.
Ketika acara ditutup dengan sesi foto bersama, senyum para peserta menyimpan kesan mendalam. Haul ini bukan hanya tentang mengenang tokoh besar bangsa, tetapi tentang menemukan kembali arah perjuangan. Tentang menyadari bahwa menjadi mahasiswa Indonesia di Tunisia berarti membawa misi lebih besar: menjadi duta nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian.
Pada akhirnya, Haul Gus Dur ke-16 di Tunisia membuktikan satu hal: Gus Dur mungkin telah tiada, tetapi gagasannya tetap hidup, berdenyut dalam diskusi, tumbuh dalam karya, dan bergerak dalam tindakan. Dari ruang bioskop sederhana di jantung Kota Tunis, cahaya nilai-nilai itu memancar jauh melampaui batas negara, menjangkau lintas zaman.
Dan di sanalah Gus Dur benar-benar hidup, di hati generasi muda yang memilih untuk melanjutkan perjuangannya.

