Anak-anak Berhak Bahagia: Refleksi Hari Anak Nasional

Seorang mahasiswa di Universitas Pamulang, Jurusan Ilmu Komunikasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ilya Rahmah Fidwiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap anak yang lahir ke dunia adalah anugerah, titipan Tuhan yang harus dijaga, disayangi, dan diberi ruang untuk tumbuh agar menjadi pribadi yang bahagia dan bermakna dikemudian hari. Hari Anak Nasional menjadi momen penting untuk mengingatkan kita semua bahwa dunia ini seharusnya menyediakan ruang aman, nyaman, dan ceria bagi anak-anak. Dunia yang ceria bukan hanya tentang tawa dan permainan, tetapi juga tentang pendidikan yang terpenuhi, lingkungan yang bersih, kasih sayang keluarga, dan perlindungan dari kekerasan fisik maupun verbal. Mereka berhak untuk bermimpi besar tanpa dihantui rasa takut dan keterbatasan.
Namun, hari ini... apakah benar dunia ini sudah menjadi milik anak-anak? Sayangnya, tak semua anak merasakan dunia yang ceria. Masih banyak yang harus bekerja di usia dini, tidak mengenyam pendidikan, bahkan menjadi korban kekerasan. Di sudut kota yang ramai, ada anak kecil berjualan tisu yang seharusnya ia duduk di bangku sekolah. Di balik pagar rumah mewah, ada anak yang tumbuh dalam sunyi, ditemani layar gadget, bukan pelukan ibu. Di desa yang terpencil, ada anak yang berjalan berkilo-kilo hanya untuk bisa bersekolah. Dunia mereka bukan lagi tempat bermain, tapi tempat di mana mereka dituntut untuk kuat dan bertahan. Padahal, mereka tidak meminta dilahirkan untuk menderita. Melainkan datang dengan mata yang berbinar, hati yang bersih, dan impian yang tinggi. Tapi sayangnya, tidak semua dari kita memberi mereka dunia yang pantas. Ini adalah masalah serius yang harus dibenahi bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara untuk memastikan bahwa hak-hak anak terpenuhi untuk keberlangsungan hidup mereka. Dunia yang ceria bukanlah mimpi, melainkan hak yang terpenuhi. Bayangkan jika sebuah dunia di mana tawa anak-anak terdengar bebas, tanpa dibungkam oleh rasa lapar dan ketakutan. Dunia di mana setiap langkah kecil mereka disambut oleh kasih sayang, bukan kekerasan. Dunia yang ceria, hangat, dan penuh harapan seharusnya menjadi milik mereka.
Hari Anak Nasional bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat. Bahwa setiap anak berhak tumbuh di lingkungan yang terlindungi, terdidik, dan terkasihi. Dunia ceria bukan sekadar taman bermain atau boneka lucu. Dunia ceria adalah rumah yang hangat, pendidikan yang adil, dan perhatian yang tulus. Mari kita semua berhenti hanya memberi janji. Mari benar-benar hadir. Dengarkan mereka. Peluk mereka. Beri mereka dunia yang tidak menakutkan. Karena masa depan bangsa ini lahir dari tawa anak-anak yang hari ini kita rawat. Jangan tunggu sampai tawa itu berubah menjadi tangis. Jangan tunggu sampai dunia ini kehilangan cahaya kecil yang sebenarnya menjadi harapan. Anak-anak bukan hanya objek pengasuhan, tetapi juga subjek yang punya suara, punya keinginan, dan punya hak untuk didengar.
