Ketika Agama Ramai, Mengapa Kesalehan Sosial Sepi?
Tulisan dari Assoc Prof Dr KH M Ilyas Marwal, MM, DESA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup di zaman ketika agama ada di mana-mana. Masjid penuh, pengajian tumbuh di setiap sudut kota, ceramah mengalir tanpa henti di YouTube, TikTok, dan Instagram, sementara kutipan ayat dan hadis berseliweran setiap hari di layar ponsel kita. Anehnya, di saat yang sama, kebohongan terasa biasa, ujaran kebencian makin mudah diucapkan, korupsi terus berulang, dan kepedulian kepada sesama justru sering datang paling belakangan. Agama tampak semakin ramai, tetapi kesalehan sosial terasa semakin sepi.
Paradoks ini seharusnya membuat kita tidak nyaman. Sebab, jika ibadah semakin meningkat tetapi kejujuran tidak ikut tumbuh, jika zikir semakin sering tetapi empati semakin tipis, ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memahami keberagamaan. Mungkin masalahnya bukan karena kita kurang beribadah, melainkan karena ibadah belum benar-benar mengubah cara kita memperlakukan manusia lain.
Di titik inilah tasawuf menemukan relevansinya.
Tasawuf sering dipahami sebagai dunia zikir, wirid, khalwat, atau pembahasan tentang maqam dan ahwal. Padahal, hakikat tasawuf jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendalam. Ia berbicara tentang bagaimana seseorang menjadi jujur kepada Allah dan baik kepada manusia. Seorang sufi pernah merumuskan inti tasawuf dalam kalimat yang sangat singkat: al-ṣidqu ma‘a al-Ḥaqq wa al-khuluqu ma‘a al-khalq-jujur kepada Tuhan dan berakhlak mulia kepada makhluk.
Rumusan ini terasa sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Banyak persoalan sosial lahir bukan karena kurangnya pengetahuan agama, melainkan karena rapuhnya kejujuran. Orang bisa tampak saleh di hadapan publik, tetapi belum tentu jujur di hadapan Tuhannya. Ia dapat berbicara tentang keikhlasan, tetapi diam-diam mengejar pujian; menyerukan kesederhanaan, tetapi terikat pada kemewahan; mengajak persatuan, tetapi tindakannya justru memperlebar perpecahan.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa tujuan ibadah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs). Salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya seharusnya membentuk hati yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih penyayang. Syariat mengatur tindakan, sedangkan tasawuf menghidupkan ruh di balik tindakan itu.
Al-Qur’an memberikan arah yang sangat jelas mengenai hubungan antara kesalehan spiritual dan tanggung jawab sosial. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.”
(QS. Al-Nahl: 128)
Ayat ini mempertemukan dua kata kunci: takwa dan ihsan. Takwa menjaga hubungan manusia dengan Allah, sedangkan ihsan menyempurnakan hubungannya dengan sesama. Karena itu, ukuran kedekatan seseorang kepada Allah tidak cukup dilihat dari panjangnya doa atau banyaknya wirid. Ia juga tampak dari caranya berbicara kepada keluarga, memperlakukan bawahannya, menghormati tetangganya, menyikapi orang yang berbeda pandangan, bahkan bersikap kepada mereka yang pernah menyakitinya.
Konsep ini sejalan dengan ajaran ihsan dalam hadis Jibril. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika tidak mampu, menyadari bahwa Allah selalu melihat kita. Kesadaran seperti ini membuat seseorang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga berhati-hati dalam bertindak. Ia tidak mudah berbohong, tidak mudah menyebarkan fitnah, dan tidak mudah menyakiti orang lain karena merasa selalu berada dalam pengawasan Allah.
Ibn Miskawayh, seorang filsuf dan ulama klasik, menyebut bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang melakukan kebaikan secara spontan. Artinya, akhlak bukan sekadar teori atau ceramah, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari hati yang telah ditempa. Tasawuf bekerja pada wilayah ini: membentuk manusia yang baik bukan karena takut dinilai orang, tetapi karena hatinya telah dekat dengan Allah.
Di era digital, pesan tasawuf menjadi semakin penting. Kita hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Media sosial memberi ruang bagi setiap orang untuk berbicara, tetapi juga sering mendorong budaya pencitraan, kemarahan, dan saling menghakimi. Tidak sedikit orang yang tampak saleh di layar, tetapi kasar dalam komentar; rajin mengutip dalil, tetapi mudah mempermalukan orang lain.
Tasawuf mengajarkan jeda sebelum bereaksi, introspeksi sebelum menuduh, dan kasih sayang sebelum menghukum. Ia mengingatkan bahwa setiap kata yang kita tulis, setiap informasi yang kita bagikan, dan setiap komentar yang kita tinggalkan adalah bagian dari tanggung jawab moral kita di hadapan Allah. Spiritualitas yang sejati tidak membuat seseorang merasa paling benar, melainkan semakin sadar bahwa dirinya pun terus belajar memperbaiki diri.
Karena itu, tasawuf bukanlah pelarian dari kehidupan. Ia justru mengajak kita hadir sepenuhnya di dalam kehidupan, tetapi tidak diperbudak oleh ego, harta, jabatan, atau pujian. Seorang yang menempuh jalan tasawuf tetap bekerja, memimpin, berdagang, mengajar, dan berorganisasi, tetapi menjaga agar hatinya tidak dikuasai oleh kesombongan.
Mungkin yang paling dibutuhkan masyarakat kita hari ini bukanlah semakin banyak simbol keagamaan, melainkan semakin banyak manusia yang jujur kepada Tuhannya dan lembut kepada sesamanya. Sebab agama tidak hanya diuji di masjid atau di ruang ibadah. Agama juga diuji di kantor ketika ada kesempatan untuk curang, di jalan ketika menghadapi perbedaan, di media sosial ketika emosi sedang memuncak, dan di rumah ketika tidak ada kamera yang merekam perilaku kita.
Barangkali, kesalehan sosial memang tidak lahir dari seberapa sering kita mengucapkan nama Tuhan, tetapi dari seberapa jauh kehadiran Tuhan membuat kita menghormati manusia. Mungkin agama tidak sedang kekurangan ceramah, melainkan kekurangan teladan. Dan mungkin, yang paling perlu kita tanyakan setiap selesai salat bukanlah berapa rakaat yang telah kita tunaikan, melainkan siapa yang menjadi lebih tenang, lebih dihargai, dan lebih terbantu karena kehadiran kita hari ini. Jika pertanyaan itu mulai kita biasakan, bisa jadi kesalehan sosial tidak lagi menjadi wacana, melainkan perlahan kembali menjadi wajah agama yang sesungguhnya.

