Konten dari Pengguna

Ketika AI Mengubah Cara Kita Membaca

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Assoc Prof Dr KH M Ilyas Marwal, MM, DESA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Artificial Intelligence/ Kecerdasan Buatan (Generated by AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence/ Kecerdasan Buatan (Generated by AI)

Anak-anak kini dapat menemukan jawaban sebelum sempat memahami pertanyaan. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), sebuah esai dapat disusun dalam hitungan detik, argumen dapat dirapikan, bahkan kesalahan bahasa dapat diperbaiki tanpa proses berpikir yang panjang. Persoalannya, pendidikan tidak pernah sekadar bertujuan menghasilkan jawaban. Pendidikan seharusnya melatih manusia untuk bertanya, memeriksa, memahami, dan mengambil sikap.

Di sinilah perubahan yang dibawa AI perlu dibaca secara lebih kritis. Teknologi ini memang mempercepat akses terhadap informasi, tetapi kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pengetahuan. Seseorang dapat memiliki banyak jawaban, tetapi belum tentu memahami persoalan. Ia dapat menyelesaikan tugas, tetapi belum tentu mengalami proses belajar. Bahkan, ia dapat tampak cerdas di hadapan teknologi, sementara kemampuan berpikirnya justru semakin bergantung pada mesin.

Tantangan pendidikan pada era AI bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali tujuan pendidikan. Sekolah harus membentuk manusia yang mampu membaca teks, memahami kenyataan, mengenali dirinya, dan mempertanggungjawabkan pengetahuannya. Sebab, yang paling penting bukan seberapa cepat seseorang memperoleh jawaban, melainkan apakah ia memahami mengapa jawaban itu penting dan untuk siapa pengetahuan tersebut digunakan.

Iqra’ dan Arah Pengetahuan

Dalam tradisi Islam, membaca tidak pernah dipahami hanya sebagai kegiatan mengenali huruf atau mengumpulkan informasi. Perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. justru dimulai dengan kata iqra’—bacalah.

Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq.

Khalaqa al-insāna min ‘alaq.

Iqra’ wa rabbuka al-akram.

Alladzī ‘allama bi al-qalam.

‘Allama al-insāna mā lam ya‘lam.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1–5)

Perintah tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas membaca memiliki arah moral. Membaca tidak berdiri sendiri, tetapi diawali dengan kesadaran bismi rabbika—dengan nama Tuhanmu. Pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari kesadaran tentang asal-usul manusia, keterbatasan dirinya, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Pena dalam ayat tersebut juga menjadi simbol penting. Pena bukan sekadar alat untuk menulis, melainkan sarana pewarisan ilmu, pembentukan peradaban, dan penyampaian kebenaran. Karena itu, kemajuan teknologi semestinya memperluas kemampuan manusia untuk belajar, bukan menghilangkan proses berpikir yang menjadikan pengetahuan bermakna.

Dalam konteks ini, iqra’ perlu dipahami sebagai kegiatan membaca secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab. Membaca berarti menguji informasi, memahami konteks, membedakan fakta dan opini, serta mempertimbangkan akibat dari pengetahuan yang diperoleh. AI dapat membantu menyediakan bahan bacaan, tetapi manusia tetap harus menentukan bagaimana bahan tersebut dipahami dan digunakan.

Ketika Tugas Sekolah Berubah Menjadi Sekadar Hasil

Perubahan paling nyata akibat AI dapat dilihat dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Seorang siswa, misalnya, diminta menulis esai tentang pencemaran lingkungan. Dengan bantuan AI, ia dapat memperoleh tulisan yang tersusun rapi, lengkap dengan pendahuluan, pembahasan, dan kesimpulan. Secara administratif, tugas itu tampak selesai. Namun, apakah siswa tersebut benar-benar memahami persoalan lingkungan di sekitarnya?

Pertanyaan itu penting karena tugas sekolah sering kali dinilai dari hasil akhir, bukan dari proses pembentukan pengetahuan. Padahal, proses mencari data, mengamati keadaan, berdiskusi, mengalami kesulitan, dan menyusun kesimpulan merupakan bagian utama dari pembelajaran.

Guru dapat mengubah tugas tersebut menjadi pengalaman yang lebih bermakna. Siswa tidak cukup diminta menulis tentang sampah, tetapi perlu mengamati kondisi lingkungan sekolah, mencatat jenis sampah yang paling banyak ditemukan, mewawancarai petugas kebersihan, dan mendiskusikan penyebabnya. Setelah itu, AI dapat digunakan untuk membantu mengelompokkan data, menyusun kerangka tulisan, atau memperbaiki bahasa.

Dengan cara demikian, AI tidak menggantikan pengalaman belajar. Teknologi justru menjadi alat untuk memperkuat proses pengamatan dan analisis. Siswa tetap menjadi pemilik pengalaman, sedangkan AI berfungsi sebagai pendukung dalam mengolah pengetahuan.

Membaca Wahyu sebagai Orientasi Moral

Pendidikan juga perlu mengajarkan bahwa penggunaan AI bukan hanya persoalan teknis, tetapi menyangkut kejujuran dan tanggung jawab. Ketika siswa menyerahkan tulisan yang sepenuhnya dihasilkan AI tanpa menyebutkan penggunaannya, persoalannya bukan semata-mata apakah tulisan itu benar atau salah. Ada persoalan kejujuran akademik yang perlu diperhatikan.

Karena itu, sekolah perlu membangun budaya transparansi. Siswa dapat diarahkan untuk menjelaskan bagian mana yang dikerjakan sendiri, bagian mana yang dibantu AI, serta bagaimana informasi yang diperoleh telah diperiksa. Sumber tetap harus dicantumkan, fakta perlu diverifikasi, dan kesimpulan tidak boleh diterima begitu saja hanya karena disusun dengan bahasa yang meyakinkan.

Dalam perspektif moral, pengetahuan merupakan amanah. Orang yang mengetahui sesuatu memiliki tanggung jawab untuk tidak menyalahgunakannya. AI dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi tidak selalu benar, relevan, atau sesuai dengan konteks. Oleh sebab itu, kemampuan memeriksa dan mempertanggungjawabkan informasi menjadi bagian penting dari pendidikan.

Membaca wahyu berarti menjadikan nilai sebagai arah. Pengetahuan tidak cukup hanya menghasilkan kecakapan, tetapi juga harus membentuk kejujuran, kerendahan hati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Membaca Semesta sebagai Ruang Pengetahuan

Selain membaca teks dan wahyu, peserta didik perlu dibiasakan membaca semesta. Lingkungan sekitar merupakan ruang belajar yang menyediakan persoalan nyata. Genangan air di halaman sekolah, penggunaan listrik yang berlebihan, tumpukan sampah, kualitas udara, dan perubahan kondisi sungai dapat menjadi bahan pembelajaran lintas disiplin.

Dalam penelitian sederhana tentang genangan, misalnya, siswa dapat mencatat lokasi, waktu, kedalaman, kondisi saluran air, serta kebiasaan masyarakat sekitar. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menemukan pola dan kemungkinan penyebab. AI dapat membantu membuat tabel, mengolah data, atau menyusun visualisasi, tetapi data awal tetap harus berasal dari pengamatan yang dilakukan siswa.

Pembelajaran semacam ini membuat pengetahuan tidak berhenti pada hafalan. Siswa belajar bahwa teori memiliki hubungan dengan kenyataan. Mereka juga memahami bahwa sebuah persoalan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan satu jawaban. Diperlukan pengamatan, dialog, verifikasi, dan kesediaan untuk memperbaiki kesimpulan.

Dengan membaca semesta, siswa belajar menjadi peneliti kecil yang peka terhadap lingkungan. Ia tidak hanya mengetahui bahwa sampah dapat menimbulkan banjir, tetapi juga memahami bagaimana kebiasaan manusia, tata kelola lingkungan, dan kebijakan publik saling berkaitan.

Membaca Diri sebagai Jalan Kesadaran

Ada satu ruang pembacaan yang sering terabaikan dalam pendidikan, yaitu membaca diri sendiri. Siswa dapat memiliki pengetahuan luas tentang dunia, tetapi belum tentu memahami kekuatan, kelemahan, kecemasan, dan tanggung jawabnya.

Karena itu, pembelajaran perlu menyediakan ruang refleksi. Siswa dapat diminta menulis jurnal tentang pengalaman belajar, kesulitan yang dihadapi, keputusan yang diambil, serta perubahan perilaku yang terjadi. Dalam kegiatan presentasi, mereka juga perlu dilatih menjelaskan gagasan dengan bahasa sendiri, bukan sekadar membaca teks yang telah disiapkan.

Refleksi membuat siswa menyadari bahwa belajar bukan hanya proses memperoleh nilai. Belajar juga merupakan proses mengenali diri dan membentuk sikap. Siswa yang menyadari kesalahannya akan lebih siap memperbaiki diri. Siswa yang memahami keterbatasannya akan lebih terbuka terhadap kritik. Sementara siswa yang mampu melihat hubungan antara tindakannya dan kehidupan orang lain akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepedulian.

AI dapat membantu seseorang menyusun refleksi, tetapi kesadaran tidak dapat diserahkan kepada mesin. Refleksi yang bermakna lahir dari pengalaman yang benar-benar dijalani dan keberanian untuk menilai diri sendiri secara jujur.

Menyatukan Tiga Ruang Pembacaan

Pembelajaran yang relevan pada era AI perlu menyatukan tiga ruang pembacaan: wahyu, semesta, dan diri. Ketiganya tidak seharusnya dipisahkan.

Sebagai contoh, proyek pengurangan sampah di sekolah dapat dimulai dari pembacaan nilai keagamaan tentang kebersihan, tanggung jawab, dan larangan berbuat kerusakan. Selanjutnya, siswa membaca semesta melalui pengamatan jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan. Setelah itu, mereka membaca diri dengan merefleksikan kebiasaan pribadi dalam menggunakan plastik dan membuang sampah.

AI dapat digunakan untuk membantu mengolah hasil pengamatan, menyusun laporan, atau membandingkan berbagai strategi pengurangan sampah. Namun, keputusan dan tindakan tetap harus lahir dari kesadaran siswa. Mereka dapat merancang program pemilahan sampah, membawa wadah makan sendiri, mengurangi penggunaan plastik, atau mengajak warga sekolah mengubah kebiasaan.

Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada pengetahuan tentang lingkungan. Pengetahuan tersebut bergerak menjadi kesadaran dan tindakan. Inilah tujuan pendidikan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi: membentuk manusia yang mampu menghubungkan apa yang dibaca dengan apa yang dilakukan.

Guru sebagai Penuntun Pembelajaran

Dalam situasi seperti ini, peran guru justru semakin penting. Guru tidak cukup menjadi penyampai informasi karena informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui teknologi. Guru perlu menjadi penuntun yang membantu siswa merumuskan pertanyaan, menilai sumber, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak dari setiap jawaban.

Guru juga perlu membangun batas yang jelas antara penggunaan AI sebagai alat bantu dan penggunaan AI sebagai pengganti proses berpikir. Siswa boleh memanfaatkan AI untuk mencari alternatif gagasan, memperbaiki tata bahasa, atau mengolah data. Namun, mereka tetap harus mampu menjelaskan gagasan utama, menunjukkan sumber, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.

Sekolah perlu menyusun pedoman penggunaan AI yang tidak hanya berisi larangan, tetapi juga prinsip etika. Pedoman tersebut dapat mencakup kejujuran akademik, perlindungan data pribadi, verifikasi informasi, keterbukaan penggunaan teknologi, serta kewajiban menjaga orisinalitas pemikiran.

Pendidikan tidak boleh bersikap gagap terhadap teknologi, tetapi juga tidak boleh menyerah kepada teknologi. Sikap yang diperlukan adalah terbuka sekaligus kritis: menerima manfaat AI, sambil memastikan bahwa manusia tetap menjadi pusat pembelajaran.

Mengembalikan Makna Pendidikan

AI dapat membantu manusia membaca lebih cepat, menemukan informasi lebih luas, dan mengolah pengetahuan secara lebih efisien. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan kesadaran tentang apa yang harus dibaca, mengapa sesuatu perlu dipahami, dan ke mana pengetahuan itu diarahkan. Mesin dapat menyusun kalimat, tetapi manusia tetap harus menentukan makna. AI dapat menawarkan jawaban, tetapi manusia harus menilai kebenaran, manfaat, dan akibatnya.

Karena itu, pendidikan tidak boleh menyerahkan seluruh proses pembelajaran kepada kemudahan teknologi. Di tengah banjir informasi, peserta didik justru perlu dibimbing untuk memperlambat diri: membaca dengan teliti, memeriksa sumber, mendengarkan kenyataan, mengakui keterbatasan, dan merefleksikan dampak dari pengetahuan yang dimilikinya. Dari proses itulah lahir kecerdasan yang tidak hanya terampil, tetapi juga berkarakter.

Pada akhirnya, persoalan AI bukan semata-mata tentang apakah manusia akan kalah oleh mesin. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah manusia masih mampu menjaga arah kemanusiaannya ketika mesin semakin mudah memberikan segala sesuatu. Pendidikan harus memastikan bahwa kemampuan membaca tidak berhenti pada pengumpulan informasi, tetapi berlanjut menjadi pemahaman, kesadaran, dan tindakan bagi kemaslahatan.

Sebab, manusia yang terdidik bukanlah mereka yang sekadar mengetahui banyak hal, melainkan mereka yang mampu menggunakan pengetahuannya dengan tanggung jawab. Di situlah pendidikan menemukan kembali maknanya: bukan hanya membuat manusia lebih cakap menghadapi perubahan, tetapi juga tetap manusiawi ketika perubahan itu datang terlalu cepat.