Ketika Amal Tak Lagi Menjadi Kebanggaan
Tulisan dari Assoc Prof Dr KH M Ilyas Marwal, MM, DESA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada saat ketika seorang manusia berhenti menghitung apa yang telah dilakukannya, lalu mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apakah semua amal itu benar-benar telah mendekatkanku kepada Allah?
Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Tetapi bagi hati yang mulai belajar mengenal Allah, pertanyaan tersebut dapat menjadi sangat dalam.
Sebab selama hidup, kita terbiasa menghitung.
Kita menghitung ilmu yang telah dipelajari.
Kita menghitung karya yang telah dihasilkan.
Kita menghitung orang-orang yang pernah kita bantu.
Kita menghitung berapa banyak majelis yang kita hadiri, berapa banyak nasihat yang kita sampaikan, berapa banyak sedekah yang kita keluarkan.
Bahkan tanpa sadar, kita dapat menghitung semua itu sebagai alasan untuk merasa baik.
Padahal, semakin seorang hamba mengenal Tuhannya, semestinya semakin kecil ia melihat amalnya sendiri.
Di situlah kisah Ibn al-Jauzi menjadi sebuah cermin.
Ia adalah seorang ulama yang hidupnya dipenuhi ilmu, dakwah, pendidikan, dan penulisan. Melalui majelis-majelisnya, banyak manusia memperoleh hidayah. Banyak orang bertobat setelah mendengar nasihatnya. Ratusan karya lahir dari tangannya dan menjadi warisan ilmu bagi generasi sesudahnya.
Namun yang paling menyentuh dari kisahnya bukanlah banyaknya murid, kitab, atau luasnya ketenarannya.
Justru sebuah kalimat yang dinisbatkan kepadanya ketika berbicara kepada murid-muridnya:
“Apabila kalian telah masuk surga, lalu kalian tidak mendapatiku berada bersama kalian, maka tanyakanlah tentang diriku. Katakanlah: ‘Wahai Tuhan kami, dahulu hamba-Mu si Fulan pernah mengingatkan kami kepada-Mu.’”
Lalu beliau menangis.
Seorang alim menangis.
Seorang yang umurnya dihabiskan untuk ilmu menangis.
Seorang dai yang melalui lisannya banyak manusia kembali kepada Allah menangis.
Seorang penulis yang meninggalkan ratusan karya masih takut tentang bagaimana akhir perjalanan dirinya di hadapan Allah.
Lalu...
bagaimana dengan kita?
Pertanyaan itu seharusnya tidak berhenti pada kisah Ibn al-Jauzi. Ia perlahan kembali kepada diri kita sendiri.
Jika seorang alim masih menangis, dari manakah datangnya keberanian kita untuk merasa telah cukup beramal?
Kita yang salatnya masih sering kehilangan kekhusyukan.
Kita yang membaca al-Qur’an, tetapi hati kadang tidak ikut membacanya.
Kita yang mengucapkan istighfar, sementara dosa-dosa lama masih kita pelihara.
Kita yang begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi begitu sulit menangisi kesalahan diri sendiri.
Kita yang merasa sedih ketika manusia tidak menghargai kita, tetapi jarang bersedih ketika hati semakin jauh dari Allah.
Kita yang ingin dikenal sebagai orang baik, padahal hanya Allah yang mengetahui siapa diri kita ketika tidak seorang pun melihat.
Kita yang mungkin telah begitu banyak berbicara tentang agama, tetapi belum tentu sebanyak itu berbicara kepada Allah dalam kesunyian.
Kita yang menyampaikan nasihat kepada orang lain, tetapi terkadang nasihat itu belum sepenuhnya menembus hati kita sendiri.
Mungkin di situlah letak kerapuhan seorang hamba.
Kita dapat terlihat baik di hadapan manusia, tetapi belum tentu baik di hadapan Allah.
Kita dapat memiliki banyak amal yang terlihat, tetapi belum tentu memiliki hati yang benar-benar ikhlas.
Kita dapat dikenal karena ilmu, karya, dakwah, jabatan, dan pengabdian, tetapi semua itu tidak serta-merta menjadi ukuran keselamatan.
Sebab ada sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia.
Hati.
Semakin seseorang mengenal Allah, semestinya semakin ia tidak merasa besar karena amalnya.
Sebab ia mengetahui berapa banyak ibadah yang mungkin tercampur riya, berapa banyak kebaikan yang diam-diam menginginkan pujian, berapa banyak ilmu yang tidak diamalkan, dan berapa banyak kata indah tentang Allah yang keluar dari lisan sementara hati sedang jauh dari-Nya.
Manusia mengenal apa yang tampak.
Allah mengetahui apa yang tersembunyi.
Manusia mendengar kata-kata kita.
Allah mengetahui suara hati yang tidak pernah terdengar siapa pun.
Manusia melihat amal.
Allah mengetahui niat di balik amal.
Maka ketika malam datang dan semua manusia telah pergi, tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikan diri.
Allah mengetahui air mata yang tulus dan air mata yang dibuat-buat.
Allah mengetahui amal yang benar-benar untuk-Nya dan amal yang diam-diam mengharap pandangan manusia.
Allah mengetahui luka yang kita sembunyikan.
Allah juga mengetahui dosa yang tidak seorang pun mengetahuinya.
Maka bagaimana mungkin hati masih merasa layak membanggakan diri?
Karena itu, para salihin begitu takut terhadap pujian.
Ketika manusia memuji apa yang tampak dari diri mereka, hati mereka justru berkata:
“Ya Allah, janganlah Engkau menghukum kami karena apa yang mereka katakan tentang kami. Ampunilah apa yang tidak mereka ketahui dari diri kami, dan jadikanlah kami lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan.”
Betapa dalam doa itu jika benar-benar kita hayati.
“Ampunilah apa yang tidak mereka ketahui tentang kami.”
Sebab memang ada begitu banyak hal tentang diri kita yang tidak diketahui manusia.
Ada maksiat yang hanya Allah mengetahuinya.
Ada kelalaian yang ditutupi-Nya.
Ada cacat hati yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Ada doa yang tidak khusyuk.
Ada salat yang tergesa-gesa.
Ada pandangan yang tidak terjaga.
Ada ucapan yang pernah melukai.
Ada hak orang lain yang mungkin belum tertunaikan.
Ada dosa yang bahkan telah kita lupakan.
Tetapi Allah tidak pernah lupa.
Kalau Allah membuka seluruh aib kita kepada manusia, masihkah mereka akan memuji kita sebagaimana hari ini?
Kalau Allah menyingkap seluruh isi hati kita, masihkah kita berani mengangkat wajah dengan penuh kebanggaan?
Maka sesungguhnya kemuliaan kita bukan karena kita tanpa dosa.
Kemuliaan kita hanyalah karena Allah masih menutupi dosa-dosa kita.
Di titik itu, mungkin amal mulai menemukan tempatnya yang sebenarnya.
Amal bukan alasan untuk merasa tinggi.
Amal adalah jalan untuk merendahkan diri di hadapan Allah.
Amal bukan sesuatu yang membuat kita merasa telah memiliki Allah.
Amal justru mengajarkan bahwa kita tidak memiliki apa-apa tanpa pertolongan-Nya.
Sebab kita beribadah dengan tubuh yang Allah berikan.
Kita bersujud dengan kekuatan yang Allah anugerahkan.
Kita berdzikir menggunakan lisan yang Allah ciptakan.
Bahkan kemampuan untuk mengucapkan Astaghfirullah adalah nikmat dari-Nya.
Maka dengan apakah kita dapat berbangga?
Tidak ada.
Kita miskin di hadapan Allah.
Dan barangkali saat seseorang benar-benar menyadari kemiskinannya kepada Allah, di situlah pintu penghambaan mulai terbuka.
Karena itu, ada saat ketika kita tidak perlu datang kepada Allah dengan daftar panjang tentang apa yang telah kita kerjakan.
Kita cukup datang sebagai seorang hamba.
Dengan kekurangan.
Dengan penyesalan.
Dengan dosa yang bahkan kita malu menyebutkannya.
Dengan umur yang terus berkurang, sementara bekal belum seberapa.
Kita datang bukan karena merasa pantas menerima surga-Nya.
Kita datang karena tidak memiliki pintu lain selain pintu-Nya.
“Ya Allah, aku lelah membawa diriku sendiri.”
Kalimat itu mungkin lebih jujur daripada banyak kata tentang kesalehan.
Jika Engkau menolakku, kepada siapa lagi aku harus pergi?
Maka harapan kepada rahmat Allah menjadi tempat seorang hamba berteduh.
Lā taqnaṭū min raḥmatillāh—“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
Sekalipun dosa memenuhi lembaran umur, kita masih mengetuk pintu-Nya.
Sekalipun langkah berulang kali menjauh, kita masih ingin pulang.
Sekalipun pernah berjanji lalu kembali terjatuh, kita masih ingin berkata:
Yā Rabb, lā taruddanā ‘an bābik-“Ya Rabb, jangan Engkau usir kami dari pintu-Mu.”
Pada akhirnya, barangkali bukan banyaknya amal yang membuat seseorang selamat.
Sebab siapa di antara kita yang mampu membayar surga dengan amalnya?
Di sinilah seorang hamba belajar bahwa amal memang penting, tetapi rasa memiliki atas amal itulah yang harus dicurigai.
Sebab ketika amal membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain, mungkin amal itu telah kehilangan ruhnya.
Ketika ilmu membuat kita merasa lebih tinggi, mungkin ilmu itu belum benar-benar membawa kita kepada Allah.
Ketika ibadah membuat kita mudah merendahkan orang lain, mungkin kita masih belum memahami untuk apa kita bersujud.
Dan ketika pujian manusia menjadi sesuatu yang kita tunggu setelah berbuat baik, mungkin kita perlu kembali bertanya: untuk siapa sebenarnya semua itu kita lakukan?
Barangkali karena itu, kisah Ibn al-Jauzi terasa begitu dalam.
Beliau tidak meminta murid-muridnya kelak berkata:
“Ya Allah, ia seorang penulis besar.”
Bukan.
Ia tidak meminta mereka berkata:
“Ya Allah, ia seorang ulama terkenal.”
Bukan.
Ia juga tidak meminta disebutkan berapa banyak kitab yang telah ditulisnya.
Yang ingin dikenang hanyalah:
“Ya Allah, dahulu ia pernah mengingatkan kami kepada-Mu.”
Betapa sederhana.
Namun betapa agung.
Mungkin inilah ukuran keberhasilan hidup yang sesungguhnya:
bukan berapa banyak manusia yang mengenal nama kita,
tetapi...
berapa banyak manusia yang mengenal Allah karena pernah bertemu dengan kita.
Bukan berapa banyak orang yang memuji kita,
tetapi...
berapa banyak orang yang diam-diam mendoakan kita setelah kita tiada.
Bukan seberapa tinggi jabatan yang kita capai,
tetapi...
adakah satu hati yang menjadi lebih dekat kepada Allah karena kehadiran kita?
Suatu hari tubuh kita akan berada di bawah tanah.
Telepon kita tidak lagi aktif.
Kursi yang biasa kita duduki akan ditempati orang lain.
Nama kita perlahan tidak lagi disebut.
Foto-foto kita tinggal menjadi kenangan.
Anak-anak dan keluarga melanjutkan hidup.
Teman-teman satu demi satu semakin jarang mengingat kita.
Lalu mungkin, pada suatu malam, di tempat yang jauh, ada seseorang mengangkat tangan dan berkata:
“Ya Allah, ampunilah dia. Dahulu melalui nasihatnya aku mengenal-Mu.”
Betapa kita membutuhkan doa seperti itu.
Ketika tangan kita sendiri tidak lagi mampu bersedekah.
Ketika lisan kita tidak lagi mampu berdzikir.
Ketika kaki kita tidak lagi mampu melangkah menuju masjid.
Ketika seluruh hubungan kita dengan dunia telah terputus—
ternyata masih ada seseorang yang menghadiahkan doa kepada kita.
Mungkin karena satu ilmu yang pernah kita ajarkan.
Satu anak yatim yang pernah kita bahagiakan.
Satu murid yang pernah kita bimbing.
Satu orang berdosa yang tidak kita hina, tetapi kita tuntun perlahan kembali kepada Allah.
Satu hati yang hampir putus asa, lalu kita katakan kepadanya:
“Jangan menyerah. Rahmat Allah masih luas.”
Dan kalimat kecil itu ternyata menjadi sebab ia kembali kepada Tuhannya.
Maka jangan hanya bertanya:
“Apa yang telah aku capai dalam hidup?”
Ada pertanyaan yang mungkin lebih penting:
“Siapa yang telah menjadi lebih dekat kepada Allah karena keberadaanku?”
Jika belum ada, selama napas masih ada, belum terlambat.
Kita masih dapat memulai.
Dengan satu nasihat.
Dengan satu maaf.
Dengan satu sedekah.
Dengan satu ilmu.
Dengan satu pelukan kepada anak.
Dengan satu doa kepada orang tua.
Dengan satu pesan kepada seseorang:
“Aku mencintaimu karena Allah. Jangan jauh-jauh dari-Nya.”
Siapa tahu, amal yang kita anggap kecil itulah yang kelak Allah jadikan sebab keselamatan kita.
Dan apabila suatu sore mata mulai basah, jangan buru-buru mengusap semuanya.
Biarkan beberapa tetes air mata itu jatuh.
Barangkali sudah terlalu lama mata ini menangis karena dunia.
Karena kehilangan.
Karena manusia.
Karena kecewa.
Karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Maka betapa indah bila kali ini kita menangis karena satu pertanyaan:
“Ya Allah, bagaimana kelak akhir hidupku di hadapan-Mu?”
Air mata tidak selalu berarti kesedihan.
Terkadang ia adalah cara hati membersihkan jalan pulangnya menuju Allah.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan pulang.
Ada yang pulang dengan membawa nama besar.
Ada yang pulang dengan membawa harta.
Ada yang pulang dengan membawa gelar dan kedudukan.
Namun di depan pintu keabadian, semuanya akan tertinggal.
Yang kita harapkan hanyalah satu:
ketika kita datang dengan tangan kosong, dosa yang banyak, dan amal yang tidak seberapa-
semoga Allah menyambut kita bukan karena kita pantas,
tetapi karena Dia Maha Pengasih.
Mungkin di sanalah kita akhirnya memahami: amal bukan tempat untuk membanggakan diri, melainkan jalan untuk mengenali kefakiran kita di hadapan Allah.
Semakin banyak yang kita lakukan, semestinya semakin dalam kesadaran bahwa semua itu tidak akan pernah cukup tanpa rahmat-Nya.
Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semestinya semakin tunduk hati kita.
Semakin banyak manusia yang mengenal kita, semestinya semakin takut kita jika Allah justru tidak mengenal amal kita.
Dan semakin dekat kita kepada Allah, semestinya semakin lembut kita kepada sesama.
Sebab seorang hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya tidak akan sibuk menghitung kelebihannya.
Ia akan sibuk memohon agar kekurangannya diampuni.
Ia tidak terlalu bangga dengan apa yang telah dikerjakannya.
Ia justru takut jika amal yang dibanggakannya ternyata tidak memiliki nilai di sisi Allah.
Maka sebelum perjalanan ini benar-benar berakhir, mungkin kita perlu belajar satu hal yang paling sederhana:
beramal tanpa membanggakan amal.
Berbuat baik tanpa merasa lebih baik.
Berilmu tanpa merasa lebih tinggi.
Beribadah tanpa merasa lebih suci.
Dan ketika semua itu selesai, pulanglah kepada Allah dengan hati yang tetap merasa membutuhkan-Nya.
Ya Allah, kami tidak menggantungkan keselamatan kepada amal-amal kami. Kami menggantungkannya kepada rahmat-Mu.
Maka jangan palingkan kami dari pintu-Mu.
Jangan biarkan hati kami mati sebelum tubuh kami mati.
Dan jangan biarkan dunia menjadi cinta terakhir yang memenuhi dada kami.
Biarkan cinta kepada-Mu menjadi sesuatu yang tersisa ketika segala sesuatu telah pergi.
Sebab pada akhirnya, mungkin bukan amal yang membuat kita layak berbangga.
Yang kita miliki hanyalah kesempatan untuk beramal, kesempatan untuk bertobat, kesempatan untuk mencintai, dan kesempatan untuk kembali.
Dan ketika semua kesempatan itu berakhir, semoga kita tidak pulang membawa kesombongan atas amal yang pernah dilakukan.
Semoga kita pulang sebagai seorang hamba.
Hamba yang tahu bahwa dirinya lemah.
Hamba yang tahu bahwa dosanya banyak.
Hamba yang tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan.
Tetapi hamba yang masih memiliki satu harapan:
rahmat Allah.

