Job Pertama Saya sebagai Freelancer: Edit Video Rp150 Ribu
Tulisan dari Ilyas Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Maret lalu, kakak tingkat saya di jurusan Sistem Informasi, Kak Rizky, japri saya lewat WhatsApp. Isinya singkat, "Bisa edit video nggak? Ada klien butuh video promosi UMKM, budget-nya lumayan buat mahasiswa." Waktu itu saya cuma bisa edit video ala kadarnya, hasil belajar otodidak dari YouTube buat konten organisasi kampus. Tapi karena penasaran dan butuh tambahan uang jajan, saya coba iyakan tawaran itu.
Job pertama itu videonya cuma durasi satu menit, promosi warung makan kecil di daerah Ciputat. Saya kerjakan selama tiga hari, begadang dua malam karena harus revisi beberapa kali sesuai request klien. Pas selesai dan dibayar Rp150 ribu, rasanya campur aduk — capek, tapi juga bangga karena itu uang pertama yang saya hasilkan sendiri dari skill yang saya pelajari sendiri, bukan dari uang bulanan orang tua.
Dari Satu Job, Jadi Kebiasaan
Setelah job pertama itu, saya mulai aktif nyari peluang serupa lewat grup Telegram freelancer dan beberapa platform kerja lepas. Nggak semua job langsung dapat, malah lebih banyak yang ditolak atau nggak dibalas sama sekali. Tapi lama-lama saya mulai dapat pola: klien lebih percaya kalau saya kirim portofolio hasil kerja sebelumnya, sekecil apa pun itu.
Sekarang, empat bulan berjalan, saya sudah pegang tiga klien tetap yang rutin order tiap bulan. Nggak besar-besar amat penghasilannya, tapi cukup buat nutup kebutuhan bulanan tanpa harus terus-terusan minta ke orang tua.
Kuliah Sempat Keteteran, Ini yang Saya Lakukan
Jujur, ada masa di mana saya sempat kewalahan. Waktu itu deadline klien bentrok sama minggu UTS, dan saya nekat begadang tiga hari berturut-turut buat ngejar dua-duanya sekaligus. Hasilnya, nilai salah satu mata kuliah saya turun karena saya kurang persiapan.
Dari situ saya belajar bikin batasan lebih jelas. Sekarang, kalau lagi musim ujian, saya bilang terus terang ke klien kalau saya lagi kurang available, minta perpanjangan deadline atau saya oper job ke teman freelancer lain yang lagi senggang. Awalnya takut kehilangan klien, tapi ternyata kebanyakan klien malah lebih menghargai kejujuran soal kapasitas waktu, dibanding saya maksain terima semua job.
Kenapa Saya Tetap Lanjutin
Kak Rizky pernah nanya, "Nggak capek ta, kuliah sambil kerja gini?" Saya jawab capek jelas iya, tapi saya ngerasa dapat sesuatu yang nggak bisa saya dapat cuma dari kelas — belajar komunikasi sama klien, belajar nolak kerjaan dengan sopan, sampai belajar ngatur waktu yang jauh lebih disiplin dibanding sebelumnya.
Buat saya, uang yang didapat memang penting, tapi pengalaman ngerjain proyek nyata dari awal sampai klien puas itu yang bikin saya terus lanjutin, meski kadang harus korbankan waktu istirahat.

