Merakit PC dari Barang Rongsokan Teman-Teman, Total Rp900 Ribu
Tulisan dari Ilyas Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semua berawal dari keluhan iseng di grup WhatsApp circle SMA saya. Saya cerita pengin banget punya PC sendiri buat belajar desain sama sesekali main game ringan, tapi laptop tua saya udah terlalu lemot buat dipakai serius. Nggak lama, salah satu teman, Bagas, nyeletuk, "Gue ada motherboard nganggur di gudang, sisa PC lama yang udah nggak kepake." Dari situ, obrolan berlanjut, dan tanpa sengaja saya nemu ide buat coba rakit PC dari barang-barang sisa, bukan beli baru.
Motherboard dari Fauzi
Motherboard pemberian Fauzi itu keluaran lama, sudah nggak diproduksi lagi, sempat saya khawatir nggak kompatibel sama komponen lain. Tapi setelah dicek nomor serinya lewat internet, ternyata masih bisa dipasangin prosesor generasi yang cukup umum, jadi nggak terlalu susah cari komponen pelengkapnya nanti.
Prosesor dan RAM dari Kakak Kelas
Lewat grup alumni, saya nemu kakak kelas yang kebetulan lagi upgrade PC-nya dan mau lepas prosesor lama plus dua keping RAM, dijual murah cuma Rp350 ribu karena katanya "daripada nganggur di laci." Saya langsung deal, ketemuan di parkiran indomaret deket rumahnya buat serah terima barang.
Casing Bekas dari Tukang Servis Komputer
Buat casing, saya sengaja muter ke toko servis komputer langganan keluarga, nanya kalau-kalau ada casing rusak yang cuma perlu dibersihin. Untungnya, si abang servis punya satu casing lama, penyoknya dikit di bagian belakang, tapi masih layak pakai. Dia kasih gratis, katanya "daripada numpuk debu doang di gudang toko."
Power Supply, Satu-Satunya yang Saya Beli Baru
Untuk power supply, saya nggak berani ambil risiko pakai barang bekas, karena khawatir soal keamanan arus listrik yang bisa merusak komponen lain kalau kondisinya udah nggak stabil. Ini satu-satunya komponen yang saya beli baru, seharga Rp550 ribu di toko komputer daerah rumah.
Storage: SSD Sisa Proyek Kelompok
Terakhir, buat penyimpanan, saya inget salah satu teman kelompok tugas dulu punya SSD kecil sisa proyek yang nggak kepakai lagi. Setelah nanya-nanya lewat chat, ternyata dia rela kasih gratis, asal saya traktir dia makan siang sekali sebagai balasannya.
Hari Perakitan
Proses rakitnya sendiri saya kerjakan sendirian di kamar, modal nonton tutorial YouTube berkali-kali dan sempat panik waktu kabel power motherboard ternyata beda tipe konektor dari yang saya kira. Untungnya, setelah cari adaptor kecil seharga Rp20 ribu di toko online, masalah itu selesai.
Momen paling menegangkan adalah waktu pertama kali nyalain PC itu. Saya sempat pasrah kalau-kalau nggak nyala sama sekali, mengingat semua komponennya dari sumber yang beda-beda dan usianya juga nggak seragam. Tapi begitu tombol power ditekan, kipas mulai berputar, layar monitor nyala nunjukin logo BIOS, rasanya seperti menang undian kecil-kecilan.
Total Biaya dan Hasil Akhir
Setelah dihitung ulang, total yang saya keluarkan cuma sekitar Rp900 ribu, jauh di bawah harga PC rakitan baru dengan spesifikasi serupa yang bisa tembus tiga sampai empat juta rupiah. Performanya memang nggak bisa dibilang canggih, tapi lebih dari cukup buat kebutuhan desain ringan dan beberapa game lawas kesukaan saya.
Lebih dari sekadar hemat biaya, proses ini bikin saya belajar banyak soal cara kerja komponen komputer yang selama ini cuma saya anggap kotak ajaib tanpa saya ngerti isinya. Setiap komponen di PC itu sekarang punya cerita sendiri, mulai dari motherboard pemberian Bagas sampai SSD hasil traktir makan siang, dan entah kenapa itu bikin PC rakitan ini terasa lebih berarti dibanding kalau saya cuma beli jadi dari toko.

