Sabtu Sore yang Saya Habiskan Sendirian di Kos, dan Kenapa Itu Cukup
Tulisan dari Ilyas Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sabtu lalu, dua teman satu kelompok tugas saya, Dimas dan Naila, ngajak healing dadakan ke Puncak buat ngerayain selesainya UAS. Saya sempat mikir cukup lama sebelum akhirnya jawab, "Kalian duluan aja, aku di kos dulu." Bukan karena nggak punya uang buat ikut — kebetulan waktu itu saya baru gajian dari kerja freelance. Tapi entah kenapa, bayangan macet di jalan, ramai-ramai packing dadakan, dan harus "on" seharian penuh sama orang lain rasanya lebih melelahkan daripada menyenangkan.
Jadi Sabtu itu saya habiskan di kamar kos. Bangun agak siang, masak indomie telur ala kadarnya, terus rebahan sambil nonton ulang satu series yang sudah saya tonton dua kali sebelumnya. Nggak ada agenda khusus. Nggak ada yang harus difoto buat story. Cuma diam, istirahat, dan sesekali scroll HP tanpa tujuan jelas.
Kenapa Saya Memilih Itu
Kalau ditanya kenapa saya milih diam di kos daripada ikut healing ke Puncak, jujur alasannya bukan soal duit atau males jalan-jalan. Minggu itu saya baru selesai dua ujian susulan, revisi proposal penelitian, dan rapat organisasi yang molor sampai malam tiga hari berturut-turut. Saya ngerasa energi saya benar-benar di titik paling bawah, dan yang saya butuhkan bukan destinasi baru, tapi jeda yang benar-benar sepi dari interaksi.
Dimas sempat bilang lewat chat, "Sayang banget lho nggak ikut, pemandangannya bagus." Saya jawab jujur, "Aku lagi pengen sendirian aja dulu, bukan karena nggak sayang kalian." Untungnya dia paham, malah bilang next time gantian dia yang absen kalau lagi capek.
Momen yang Bikin Saya Yakin Pilihan Itu Tepat
Yang bikin saya makin yakin pilihan itu tepat adalah keesokan harinya. Dimas dan Naila balik dari Puncak dengan wajah keliatan capek, cerita soal macet parah pulang-pergi dan hujan deras yang bikin rencana foto-foto gagal total. Sementara saya, Minggu paginya bangun dengan kepala jauh lebih ringan, siap lagi buat mulai minggu baru.
Bukan berarti healing ke luar kota itu salah — buat Dimas dan Naila, itu tetap jadi pengalaman seru yang mereka syukuri. Tapi buat saya waktu itu, diam sendirian di kos ternyata jadi bentuk istirahat yang jauh lebih pas dengan kondisi saya saat itu.
Yang Saya Pelajari
Dari situ saya belajar, healing itu ternyata nggak punya standar baku. Nggak harus jauh, nggak harus rame, dan nggak harus sesuai standar orang lain. Kadang, bentuk istirahat yang paling dibutuhkan justru yang paling sederhana — sesederhana rebahan sendirian sambil nonton ulang series lama, tanpa perlu merasa bersalah karena melewatkan momen "seru" bareng teman-teman.

