Mahasiswa Pakai AI buat Tugas: Pintar atau Malah Males Mikir

S1 Akuntansi at Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Abdullah Ibrahim Gamas Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Situasi ini menjadi salah satu alasan mahasiswa pakai AI untuk membantu mengerjakan tugas. Teknologi tersebut memang bisa mempercepat pekerjaan, tetapi ada perbedaan besar antara menggunakan AI untuk belajar dan menggunakannya supaya tidak perlu belajar.
pernah nggak, malam-malam baru ingat besok ada tugas kuliah yang harus dikumpulkan? file Word masih kosong, materi dari dosen belum benar-benar dipahami, sementara waktu tidur makin dekat. akhirnya, mahasiswa pakai AI untuk mencari jawaban, mengetik soal tugas, lalu menunggu beberapa detik sampai jawaban panjang muncul di layar.

Risiko mahasiswa pakai AI bukan terletak pada teknologinya, melainkan ketika jawaban instan menggantikan proses memahami dan mengerjakan tugas.
Awalnya terasa melegakan. Tinggal salin, rapikan sedikit, lalu tugas bisa segera dikumpulkan. Masalahnya, setelah dokumen selesai, apakah kita benar-benar memahami isinya?
Situasi seperti ini menjadi salah satu alasan mahasiswa pakai AI untuk membantu mengerjakan tugas. Teknologi tersebut memang bisa mempercepat pekerjaan, tetapi ada perbedaan besar antara menggunakan AI untuk belajar dan menggunakannya supaya tidak perlu belajar.
Menurut gue, justru perbedaan itulah yang layak dibahas. Bukan soal mahasiswa harus menjauhi AI atau tidak, melainkan apakah kemudahan yang ditawarkan teknologi ini masih membuat kita berpikir.
Tugas Selesai, Tapi Bisa Menjelaskan Isinya Nggak?
Bayangkan seorang mahasiswa mendapat tugas menjelaskan suatu teori dari mata kuliah yang sedang dipelajarinya. Karena belum memahami materi, ia meminta AI membuat jawaban lengkap beserta contoh. Jawabannya terlihat rapi, bahasanya meyakinkan, dan semua bagian tampak sudah tersedia.
Ia pun menyalin jawaban itu ke dokumen tugas. Tidak ada masalah selama proses pengumpulan. Namun, ketika dosen bertanya mengapa teori tersebut digunakan atau bagaimana contoh itu berhubungan dengan materi kuliah, ia justru kebingungan.
Tentu saja, ini bukan pengalaman semua mahasiswa. Namun, situasi tersebut menggambarkan satu risiko ketika AI digunakan sebagai pengganti proses belajar, bukan sebagai alat bantu.
Tugas kuliah sebenarnya bukan hanya tentang menghasilkan beberapa halaman tulisan. Ada proses mencari informasi, memahami konsep, membandingkan pendapat, menyusun alasan, lalu menarik kesimpulan. Ketika semua proses itu dilewati, mahasiswa mungkin berhasil menyelesaikan tugas tanpa benar-benar mendapatkan kemampuan yang seharusnya dilatih.
Di sinilah masalahnya. Dokumen yang selesai belum tentu berarti materi sudah dipahami.
Kenapa Jawaban AI Begitu Menggoda?
Alasannya sederhana: AI bisa memberikan respons dengan cepat. Ketika menemukan materi yang sulit dipahami, mahasiswa dapat meminta penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Saat bingung memulai tulisan, AI bisa membantu menyusun kerangka. Ketika ingin berlatih sebelum ujian, AI juga dapat memberikan contoh soal.
Bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan paruh waktu, organisasi, dan urusan pribadi, bantuan seperti ini tentu terasa berarti. Waktu yang sebelumnya habis untuk mencari titik awal bisa digunakan untuk mempelajari bagian yang lebih sulit.
Misalnya, saat mempelajari konsep akuntansi yang membingungkan, mahasiswa bisa meminta AI menjelaskan konsep tersebut melalui contoh transaksi sehari-hari. Setelah itu, ia mencoba mengerjakan soal sendiri dan membandingkan jawabannya dengan penjelasan yang diberikan.
Dalam situasi seperti ini, AI membantu mahasiswa memahami sesuatu yang sebelumnya terasa rumit. Mahasiswa tetap melakukan pekerjaan berpikir, sedangkan AI membantu membuka jalan.
Karena itu, menyebut semua penggunaan AI sebagai bentuk kemalasan juga tidak tepat. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dan apakah mahasiswa masih terlibat aktif dalam proses belajarnya.
Penelitian Menunjukkan AI Bisa Membantu, Tapi Ada Catatannya
Perdebatan tentang AI dan kemampuan berpikir bukan hanya soal pendapat mahasiswa atau dosen. Peneliti juga mulai menguji bagaimana teknologi ini memengaruhi proses belajar.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Educational Research Review pada 2025 merangkum 57 studi tentang penggunaan AI generatif dalam pembelajaran mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa AI dapat memberikan manfaat pada beberapa aspek, termasuk kemampuan bahasa dan hasil akademik.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa pengaruhnya terhadap metakognisi—kemampuan seseorang memantau dan menilai proses berpikirnya sendiri—tidak signifikan secara statistik dalam analisis yang dilakukan.
Temuan ini penting karena belajar bukan cuma soal mendapatkan jawaban benar. Mahasiswa juga perlu mengetahui bagian mana yang belum dipahami, alasan sebuah jawaban masuk akal, dan kapan informasi perlu diperiksa kembali.
Artinya, AI bisa membantu proses belajar, tetapi hasilnya tidak otomatis membuat mahasiswa lebih mampu mengevaluasi pemikirannya sendiri. Cara penggunaan, aktivitas belajar, dan keterlibatan mahasiswa tetap berperan.
UNESCO juga menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia dalam panduannya mengenai AI generatif untuk pendidikan dan penelitian. Teknologi perlu digunakan secara bertanggung jawab, dengan memperhatikan proses belajar, perlindungan data, dan peran manusia dalam pengambilan keputusan.
Jadi, persoalannya bukan sekadar seberapa sering mahasiswa membuka AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan mahasiswa setelah menerima jawabannya.
Ketika Jawaban Terlihat Meyakinkan, Belum Tentu Benar
Ada masalah lain yang sering luput ketika mahasiswa menggunakan AI: jawabannya bisa terdengar sangat meyakinkan meskipun mengandung kekeliruan.
Misalnya, mahasiswa meminta AI membuat rangkuman jurnal dan mencantumkan referensi. Jawaban yang muncul mungkin terlihat akademis, lengkap dengan nama penulis, tahun terbit, dan judul penelitian. Namun, jika referensinya tidak diperiksa, mahasiswa bisa saja memasukkan sumber yang tidak sesuai atau bahkan tidak dapat ditemukan.
Kesalahan serupa dapat terjadi pada angka, definisi, kutipan, dan penjelasan konsep. Tampilan jawaban yang rapi tidak menjamin seluruh isinya akurat.
Karena itu, menyalin jawaban tanpa memeriksa sumber justru dapat menambah masalah. Mahasiswa bukan hanya berisiko mengumpulkan informasi yang keliru, tetapi juga kesulitan mempertanggungjawabkan isi tugasnya.
Ada baiknya setiap informasi penting diperiksa melalui sumber asli, seperti jurnal ilmiah, buku, dokumen resmi, atau bahan kuliah yang diberikan dosen. Jika AI memberikan referensi, pastikan sumber tersebut benar-benar tersedia dan isinya mendukung klaim yang ditulis.
Dengan begitu, AI digunakan untuk membantu pencarian dan pemahaman, bukan menjadi satu-satunya penentu kebenaran.
Cara Memakai AI Tanpa Kehilangan Proses Belajar
Sebenarnya, mahasiswa tidak harus berhenti menggunakan AI untuk bisa belajar dengan baik. Yang perlu diubah adalah kebiasaan saat menggunakannya.
Pertama, coba pahami soal dan kerjakan bagian yang mampu dikerjakan sendiri sebelum meminta bantuan. Tidak masalah jika jawabannya belum sempurna. Justru dari situ mahasiswa dapat mengetahui bagian mana yang masih membingungkan.
Kedua, gunakan AI untuk meminta penjelasan, bukan sekadar jawaban akhir. Daripada mengetik, “Kerjakan tugas ini sampai selesai,” mahasiswa bisa meminta, “Jelaskan konsep ini dengan contoh sederhana, lalu berikan latihan agar saya bisa mencoba sendiri.”
Ketiga, periksa kembali informasi dan referensi yang diberikan. Jangan memasukkan angka atau kutipan hanya karena jawabannya terlihat meyakinkan.
Keempat, setelah tugas selesai, cobalah menjelaskan kembali isinya menggunakan bahasa sendiri tanpa melihat jawaban AI. Jika masih kesulitan, itu tanda bahwa materi perlu dipelajari lagi.
Terakhir, pahami aturan penggunaan AI dari dosen atau kampus. Jika penggunaan AI harus dicantumkan atau dibatasi untuk tugas tertentu, ikuti ketentuan tersebut. Membantu proses belajar tidak sama dengan menyembunyikan penggunaan teknologi atau mengaku sebagai penulis dari pekerjaan yang sepenuhnya dibuat oleh AI.
Jadi, Mahasiswa Pakai AI Itu Pintar atau Malas?
Menurut saya, jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari fakta bahwa seorang mahasiswa menggunakan AI. Dua mahasiswa bisa memakai alat yang sama, tetapi memperoleh pengalaman belajar yang sangat berbeda.
Mahasiswa pertama meminta AI menjelaskan konsep, memeriksa sumber, mengerjakan latihan, dan memperbaiki kesalahannya sendiri. Mahasiswa kedua langsung mengambil jawaban, mengumpulkannya, lalu tidak pernah mencoba memahami isinya.
Keduanya sama-sama menggunakan AI, tetapi peran mereka dalam proses belajar berbeda.
Kita juga tidak bisa menganggap mahasiswa yang menggunakan AI pasti malas berpikir. Teknologi ini memang dapat membantu memahami materi, mengembangkan ide, dan memberikan umpan balik. Namun, manfaat tersebut akan lebih bermakna ketika mahasiswa tetap aktif memeriksa, mempertanyakan, dan mengolah informasi.
Pada akhirnya, tujuan kuliah bukan hanya mengumpulkan tugas tepat waktu atau mendapatkan nilai yang baik. Ada kemampuan yang perlu dibawa setelah lulus: memahami persoalan, menyusun argumen, mengambil keputusan, dan menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.
AI bisa membantu kita berlatih mengembangkan kemampuan itu. Namun, AI tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti melatihnya.
Jadi, sebelum menyalin jawaban AI ke dalam tugas, coba tanyakan satu hal kepada diri sendiri: kalau dosen meminta kita menjelaskan isi tulisan itu tanpa bantuan layar, apakah kita benar-benar bisa menjawabnya?
Chen, S., & Cheung, A. C. K. (2025). Effect of generative artificial intelligence on university students learning outcomes: A systematic review and meta-analysis. Educational Research Review. Baca penelitian.
Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO. Baca panduan UNESCO.
Kemudahan AI dan Tantangan Mahasiswa untuk Tetap Berpikir Kritis — Kumparan — sebagai pembanding artikel yang sudah terbit, bukan sebagai sumber utama argumen.
