Timnas Indonesia Juara, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

S1 Akuntansi at Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Abdullah Ibrahim Gamas Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Timnas Indonesia berhasil menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti dengan skor 4-2. Sebelumnya, pertandingan berlangsung sengit hingga skor 2-2 bertahan selama 120 menit. Kemenangan ini bukan hanya menjadi pencapaian di dunia olahraga, tetapi juga menarik untuk dilihat dari sisi ekonomi.
Senin malam, 5 Oktober 2026, menjadi malam yang sulit dilupakan bagi pecinta sepak bola Indonesia. Timnas Indonesia berhasil menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti dengan skor 4-2. Sebelumnya, pertandingan berlangsung sengit hingga skor 2-2 bertahan selama 120 menit.
Bagi sebagian orang, kemenangan tersebut mungkin hanya berarti satu hal: Indonesia akhirnya membawa pulang trofi. Namun, jika dilihat dari sisi ekonomi, pertandingan sepak bola ternyata tidak berhenti pada apa yang terjadi di dalam stadion.
Ada pedagang makanan, penjual jersey, pemilik kafe, penyelenggara nonton bareng, hingga pelaku usaha kecil yang ikut mendapatkan peluang ketika antusiasme masyarakat terhadap Timnas Indonesia meningkat.
Dari Stadion ke Warung dan UMKM
Dampak ekonomi paling mudah terlihat dari aktivitas masyarakat ketika pertandingan berlangsung.
Sebelum final saja, sebanyak 67.000 tiket pertandingan final Indonesia melawan Thailand dilaporkan sold out. Harga tiket yang tersedia berada pada kisaran Rp250 ribu hingga Rp1 juta. Artinya, pertandingan tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi melalui penjualan tiket dan transaksi di sekitar stadion.
Efeknya juga dirasakan pelaku UMKM.
Pada pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 sebelumnya, sekitar 20 UMKM di sekitar Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Jawa Barat, berjualan makanan dan minuman kepada penonton. Salah satu pedagang bahkan mengaku memperoleh omzet sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari ketika event berlangsung.
Kemenangan Timnas Indonesia atas Thailand bukan hanya membawa trofi, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar sepak bola.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa sebuah pertandingan olahraga dapat menciptakan permintaan tambahan. Penonton yang datang membutuhkan makanan, minuman, transportasi, hingga berbagai kebutuhan lainnya.
Jadi, uang yang awalnya hanya digunakan untuk membeli tiket pertandingan bisa terus berputar ke pelaku usaha lain.
Jersey dan Atribut Timnas Ikut Jadi Bisnis
Kemenangan Timnas Indonesia juga berpotensi mendorong penjualan atribut sepak bola.
Menjelang pertandingan Timnas sebelumnya pada September 2026, pedagang atribut di sekitar Stadion Utama Gelora Bung Karno mencatat penjualan yang meningkat hingga 100 persen dibandingkan hari biasa. Barang yang dijual antara lain jersey, syal, topi, dan bendera.
Hal ini masuk akal karena pertandingan besar biasanya meningkatkan rasa memiliki dan kebanggaan masyarakat terhadap tim yang didukung.
Setelah Indonesia menjadi juara, permintaan terhadap jersey dan berbagai merchandise berpotensi kembali meningkat. Di sinilah kemenangan olahraga dapat menciptakan peluang bagi industri pakaian, percetakan, merchandise, hingga perdagangan ritel.
Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penjual barang resmi. Pelaku usaha lokal yang memproduksi atau menjual produk bertema sepak bola juga bisa mendapatkan pasar baru selama tetap memperhatikan aturan mengenai merek dan hak kekayaan intelektual.
Nobar Juga Menggerakkan Ekonomi Lokal
Kalau tidak menonton langsung di stadion, masyarakat biasanya memilih nonton bareng atau nobar.
Aktivitas sederhana ini ternyata bisa menjadi sumber transaksi bagi banyak usaha. Kafe, restoran, warung, pedagang kaki lima, penyedia layar, hingga jasa pendukung acara bisa mendapatkan pelanggan tambahan ketika pertandingan besar berlangsung.
Contohnya terlihat pada nobar Timnas Indonesia di Jawa Tengah. Dalam pertandingan melawan Malaysia pada September 2026, seorang pedagang wedang ronde mengaku biasanya hanya menjual sekitar 50 porsi, tetapi saat nobar mampu menghabiskan 150 porsi dalam 30 menit. Pedagang lainnya bahkan menerima pesanan senilai Rp2 juta dalam satu acara.
Artinya, ekonomi dari sepak bola tidak selalu berbentuk transaksi bernilai besar.
Ratusan ribu rupiah yang dibelanjakan penonton untuk makan, minum, transportasi, atau membeli atribut, jika dilakukan oleh ribuan orang, dapat menciptakan perputaran uang yang cukup besar di tingkat lokal.
Sepak Bola Memiliki Ekosistem Ekonomi yang Lebih Luas
Fenomena tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
Kementerian Pemuda dan Olahraga mencatat bahwa ekonomi olahraga Indonesia terus berkembang. Dalam laporan Indeks Pembangunan Olahraga 2024, ukuran ekonomi olahraga Indonesia mencapai sekitar Rp39,45 triliun pada 2024, naik dari sekitar Rp37,28 triliun pada 2023.
Ekonomi olahraga juga tidak hanya berasal dari tiket pertandingan. Kemenpora mencatat produk sepatu dan pakaian olahraga, tiket pertandingan, biaya perjalanan atau sport tourism, serta sewa tempat latihan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi olahraga.
Ini berarti ketika Timnas Indonesia tampil dan mendapat perhatian besar, yang bergerak bukan hanya industri sepak bolanya.
Ada industri pakaian, makanan dan minuman, transportasi, pariwisata, media, periklanan, hingga berbagai jasa pendukung.
Kementerian Perindustrian juga melihat industri pakaian, alas kaki, dan peralatan olahraga sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki potensi untuk berkembang. Pada triwulan I 2026, industri pakaian jadi menyumbang 0,99 persen terhadap PDB nasional, sedangkan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki menyumbang 1,30 persen.
Tapi Jangan Sampai Salah Mengartikan Dampaknya
Meski kemenangan Timnas Indonesia bisa menggerakkan aktivitas ekonomi, bukan berarti satu kemenangan otomatis membuat pertumbuhan ekonomi nasional melonjak.
Dampak yang paling mudah terlihat justru berada pada ekonomi lokal dan sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan olahraga.
Konsumsi masyarakat selama pertandingan mungkin meningkat, tetapi sifatnya bisa sementara. Setelah euforia berakhir, transaksi dapat kembali normal.
Karena itu, yang lebih menarik bukan sekadar bertanya berapa besar uang yang berputar selama satu pertandingan, tetapi bagaimana momentum olahraga dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Misalnya, semakin banyak event olahraga di Indonesia dapat membuka peluang bagi UMKM sekitar stadion, industri merchandise lokal, pariwisata olahraga, serta industri kreatif.
Kemenangan Timnas Bisa Jadi Lebih dari Sekadar Trofi
Kemenangan atas Thailand akhirnya memberi Indonesia trofi FIFA ASEAN Cup 2026. Setelah bermain imbang 2-2 selama 120 menit, Indonesia menang 4-2 lewat adu penalti dan menjadi juara edisi perdana kompetisi tersebut.
Bagi masyarakat, kemenangan itu tentu menjadi kebanggaan.
Namun dari sudut pandang ekonomi, ada hal lain yang juga menarik untuk dilihat. Ketika jutaan orang mengikuti pertandingan yang sama, muncul aktivitas konsumsi yang melibatkan banyak pelaku usaha.
Pedagang makanan mendapatkan pembeli, kafe mendapatkan pelanggan, penjual atribut mendapatkan pasar, dan berbagai sektor pendukung olahraga ikut memperoleh peluang.
Jadi, Timnas Indonesia juara bukan berarti ekonomi Indonesia langsung berubah hanya karena satu pertandingan. Tetapi kemenangan dan euforia sepak bola menunjukkan bahwa olahraga memiliki ekosistem ekonomi yang nyata.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana euforia tersebut tidak berhenti ketika trofi sudah diangkat. Jika olahraga terus dikembangkan melalui kompetisi, fasilitas, industri lokal, dan event yang berkualitas, kemenangan di lapangan bisa ikut membuka lebih banyak peluang di luar lapangan.
