I’malu Fauqo Ma ‘Amilu: Mengapa Para Dosen, Guru, dan Profesional Memilih Mendirikan Pesantren?

Pengasuh Pondok Tahfidz SyauQie dan Dosen Unida Gontor
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rudi Candra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa banyak akademisi, dosen, guru, hingga pengusaha yang telah mapan secara karier justru memilih jalan terjal untuk merintis pondok pesantren di usia matang?
Jawabannya terletak pada sebuah etos kerja transendental yang melampaui standar profesionalisme biasa, yakni prinsip "I’malu fauqo ma ‘amilu"—kerjakanlah di atas apa yang telah mereka (orang lain) kerjakan. Mendirikan pesantren bagi seorang alumni pesantren bukanlah sekadar alih profesi, melainkan bentuk upgrade pengabdian tertinggi. Ini adalah kesadaran kolektif untuk membangun masa depan peradaban umat melalui sistem pendidikan totalitas 24 jam yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter (character building), dan akhlak mulia dengan landasan jiwa keikhlasan.
Jejak Langkah Sang Perintis: Dari Bilik Santri Menuju Pimpinan Pesantren
Saat kami dahulu menimba ilmu sebagai santri di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, ada sebuah nasihat agung dari para Kiai yang senantiasa terpatri kuat di dalam sanubari: "I’malu fauqo ma ‘amilu". Kalimat singkat berbahasa Arab ini bukan sekadar deretan kata motivasi, melainkan kompas hidup, landasan filosofis, dan metode kerja bagi para santri serta alumni di mana pun mereka berkiprah.
Jika kita menilik rekam jejak mayoritas pimpinan atau perintis pondok pesantren di Indonesia saat ini, kita akan menemukan sebuah pola perjalanan intelektual dan spiritual yang khas. Selepas menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Gontor atau pesantren-pesantren yang sejalan dengannya, langkah mereka tidak berhenti. Banyak di antara kami yang memilih untuk memperdalam interaksi dengan kitab suci melalui pondok-pondok tahfidz untuk memperkuat hafalan serta disiplin ilmu qira’at Al-Qur'an.
Perjalanan kemudian berlanjut ke jenjang perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, guna menyelami samudera ilmu agama maupun disiplin ilmu kontemporer lainnya. Selepas meraih gelar akademik, fase berikutnya adalah terjun ke medan pengabdian nyata: menjadi guru, dosen di berbagai universitas, peneliti, pengusaha, maupun abdi negara. Namun, ketika memasuki usia matang—umumnya di rentang usia 35 hingga 40 tahun ke atas—panggilan jiwa itu kembali bergema. Di titik ketika banyak orang mulai menikmati zona nyaman dari kemapanan profesi, para alumni pesantren ini justru memulai babak baru dengan mendirikan yayasan dan merintis pondok pesantren dari titik nol.
Melampaui Profesionalisme: Pengejawantahan I’malu Fauqo Ma ‘Amilu
Mengapa kemapanan profesi sebagai dosen, guru, birokrat, atau pengusaha belum dianggap cukup? Dalam kacamata kontribusi sosial, menjadi seorang guru yang mendidik di kelas, dosen yang mengajar di kampus, atau pedagang jujur yang menggerakkan roda ekonomi tentu sudah memiliki nilai kemanfaatan yang luar biasa besar. Banyak orang yang sudah merasa puas dan selesai pada tahap tersebut.
Namun, ruh dari nasihat "I’malu fauqo ma ‘amilu" menuntut kita untuk tidak lekas berpuas diri. Prinsip ini mendikte sebuah standar kerja di atas rata-rata:
Melampaui Batas Profesionalitas: Bekerja tidak hanya dituntut maksimal dan profesional secara teknis, tetapi harus melampaui profesionalitas itu sendiri karena digerakkan oleh nilai-nilai dan jiwa keikhlasan (lillahi ta'ala).
Meng-upgrade Dimensi Pengabdian: Saat seseorang telah tuntas membuktikan kapasitasnya sebagai guru, dosen, atau wiraswasta, ia merasa terpanggil untuk meningkatkan (meng-upgrade) nilai keguruannya, kedosenannya, dan kepedagangannya ke level institusional.
Menjawab Kebutuhan Pendidikan 24 Jam: Pengalaman mengajar di sekolah formal atau perguruan tinggi sering kali menyadarkan para pendidik bahwa transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) di ruang kelas selama beberapa jam tidaklah cukup untuk membentengi generasi muda. Dibutuhkan ekosistem pendidikan 24 jam seperti pesantren—tempat di mana ilmu pengetahuan, mentalitas, akhlak, dan karakter santri ditempa secara utuh dari bangun tidur hingga kembali tidur.
Melalui pendirian yayasan dan pondok pesantren, seorang dosen tidak lagi hanya mengajar mahasiswa di ruang kuliah, tetapi sedang merancang laboratorium peradaban. Seorang pengusaha tidak lagi sekadar mencari profit finansial, tetapi mengonversi keahlian manajemennya menjadi wakaf produktif dan kemandirian lembaga pendidikan yang bermutu.
Ikhtiar Membangun Masa Depan Peradaban
Pengejawantahan nilai "I’malu fauqo ma ‘amilu" bukanlah sekadar romantisme masa lalu saat di bangku pesantren, melainkan sebuah gerakan nyata untuk melahirkan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang unggul, bermutu, dan relevan dengan tantangan zaman. Kesadaran filosofis dan historis inilah yang juga menjadi fondasi utama lahirnya Pondok Tahfidz Syafa'atul Qur'an (SyauQie) di Balung, Jember.
Pendirian Pondok SyauQie adalah wujud ikhtiar untuk menunaikan amanah para guru dan kiai: bekerja lebih keras, berbuat lebih baik, dan memberikan kontribusi di atas rata-rata demi menyiapkan generasi penghafal Al-Qur'an yang berwawasan global, berkarakter kuat, dan siap menjadi pilar peradaban Islam yang lebih mulia di masa depan. [SYQ]
